Suami Meninggal, Men Della Hidupi 3 Anak dengan Mencangkul dan Panjat Pohon Aren

Karangasem, LenteraEsai.id – Men Della, demikian biasa dipanggil di kampungnya, adalah sosok seorang ibu yang benar benar tegar, penuh semangat dan tangguh bekerja apa saja demi menghidupi 3 anak dan juga bibinya.

Wanita yang menjanda setelah ditinggal mati suaminya itu, memiliki nama lengkap Ni Ketut Susilawati. Panggilan Men Della diambil dari nama anak sulungnya, sebagaimana kebiasaan orang di desa menyebut seseorang yang sudah berkeluarga.

Bacaan Lainnya

Sepeninggal sang suami, Men Della yang selama ini menetap di Banjar Tanah Ampo, Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, harus terus bergulat di tegah kerasnya kehidupan untuk dapat menghidupi tiga anak dan seorang bibi yang sudah tergolong renta.

Menjadi tulang punggung keluarga, Men Della tidak hanya harus menyabit rumput untuk sapi piaraannya, tetapi juga menjadi buruh tani yang siap  dipanggil untuk mencangkul atau menaman aneka jenis tumbuhan dan sembarang pekerjaan lainnya.

Sementara bila panggilan untuk berburuh lagi sepi, Men Della tidak jarang memanjat kelapa atau pohon enau (aren) guna diambil daun ron atau janurnya untuk dijual di pasar guna kepentingan ritual keagamaan.

Padahal, ujar beberapa tetangganya, Men Della sewaktu masih gadis tergolong wanita yang manja, yang jarang mau mengambil pekerjaan yang sifatnya kasar.  Namun setelah kondisi memaksanya, ia kini tergolong cekatan untuk memanjat pohon yang cukup tinggi.

“Saya harus lakukan ini untuk bisa menghidupi anak-anak,” ujarnya sambil menyeka keringat yang menempel di keningnya. Betapi tidak, tiga anak dan seorang bibi yang sudah tidak punya penghasilan, kini ‘menadah’ minta diberi makan.

Bahkan, putri sulung Men Della bernama Ni Luh Della, merupakan anak yang berkebutuhan khusus (celebral palsy). Tak ubahnya seperti kata petapah, ‘untung tidak dapat diraih, malang tidak dapat ditolak’,  hidup keluarga inipun menjadi ‘lengkap’ dengan seabreg kesulitan.

Sedangkan anak yang kedua dan ketiga merupakan putri kembar yang baru berusia 7 tahun, yakni Ni Komang Devi Juliani dan Ni Komang Diva Julianti, yang nampaknya sudah harus duduk di bangku sekolah dasar.

Men Della menceritakan, saat si kembar baru berusia 14 bulan, suaminya meninggal dunia karena sakit. Sejak itu pula Men Della harus kuat bekerja keras karena harus menanggung biaya hidup ketiga anak yang masih kecil-kecil.

Meskipun sebagian besar waktunya harus tersita untuk mengurus dan menjaga secara ekstra ketat anak yang pertama, Men Della harus menyempatkan diri untuk kerja keras agar bisa menghidupi keluarga besarnya.

Tahun ajaran baru ini Si Kembar harus masuk SD, Men Della sudah kebingungan bagaimana caranya agar mendapatkan biaya untuk kelanjutan sekolah anaknya. Sedangkan saat TK saja dia sudah kewalahan terutama saat musim kemarau, di mana tidak ada yang bisa dijual untuk biaya hidup, terlebih saat situasi ekonomi seperti sekarang ini.

Diperoleh keterangan, dari pihak donatur #Remagi beberapa hari lalu telah membuatkan buku tabungan BRI atas nama Ni Ketut Susilawati (Men Della) guna menggalang donasi untuk keluarga yang tergolong malang itu.

#Remagi tercatat telah memberikan bantuan untuk keluarga Men Della sejak Agustus 2018, terutama terfokus kepada Ni Luh Della yang tiap minggu menjalani terapi gratis di #YayasanTheLegongAnakBangsa.

Dana kini sangat dibutuhkan terutama untuk kelangsungan pendidikan bagi kedua anak kembar yang akan mulai duduk di bangku sekolah dasar .

Jika ada #SahabatRemagi yang kiranya berkenan berbagi rejeki untuk keluarga yatim ini silahkan langsung melalui rekening yang sudah dibuat itu (buku tabungan dipegang juga sama Men Della)

REK BRI : 4608-01-016354-53-0
NAMA: NI KETUT SUSILAWATI. Bukti transfer ke WA : 081353387857   (LE-KR)

Pos terkait