Karangasem, LenteraEsai.id – Pura Gedong Pingit mungkin belum begitu familiar di telinga masyarakat Bali pada umumnya, bahkan masyarakat di wilayah perbukitan tempat pura itu berdiri pun nampaknya belum merata yang mengenalnya.
Arti dari Gedong Pingit kurang lebih sebuah bangunan yang laksana gedong, namun kehadirannya sangat dipingitkan atau disakralkan. Tidak hanya itu, untuk tangkil sebagai pemedek ke Pura Gedong Pingit pun harus dengan aturan tertentu.
Aturan tersebut antara lain, pemedek tidak boleh datang kemudian bersembahyang sendiri-sendiri, melainkan harus dengan perantara Pemangku yang bertugas di pura tersebut. Pemamgku akan terlebih dahulu ngaturan piuning, menyampaikan bahwa kini ada pemedek yang mau tangkil.
Keharusan lain, tentu tidak boleh dalam keadaan kesebelan, cuntaka dan jenis ‘kotoran’ lain, baik yang sifatnya sekala maupun niskala. Jika aturan-aturan itu tidak ditepati, tentu akan dapat menimbulkan akibat tertentu. Tidak hanya itu, pemedek yang punya niatan untuk memanjatkan doa atau memohon sesuatu dari pura tersebut tidak akan pernah kesampaian.
Pura yang terletak di Bukit Ngandang, Banjar Pangitebel, Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis, Babupaten Karangasem, Bali bagian timur itu, belakangan mulai dikunjungi banyak orang sehubungan pura dikenal bares, yakni sering kali memenuhi perhohonan yang diajukan pemedeknya.
Karenanya, pura yang dalam perwujudannya mirip dengan Pura Sad Kahyangan Goa Lawah, Kabupaten Klungkung, yakni menempel berupa goa di bagian dinding tebing perbukitan, kini hampir setiap hari dikunjungi pemedek.
“Setiap harinya ada saja yang datang ke sini. Bukan hanya warga lokal Karangasem, namun juga dari daerah lain seperti Buleleng, Gianyar, Badung dan Denpasar,” kata Jro Mangku I Gede Putra, tokoh spiriritual yang ‘ngempon’ Pura Gedong Pingit saat ditemui LenteraEsai.id, Rabu (29/4/2020).
Ia menyebutkan, para pemedek yang tangkil ke Pura Gedong Pingit sebagian besar adalah warga yang memohon sesuatu kepada ‘Sesuhunan’ yang melinggih di sini. Permohonan itu mulai dari masalah karir, rezeki, nunas tamba atau obat, sampai ke persoalan jodoh dan lain-lain.
Namun demikian, lanjut Mangku Putra, ada juga pemedek yang datang hanya untuk bersembahyang, berdoa memohon keselamatan dan kerahayuan dalam menjani roda kehidupan di masyarakat.
Ditanya mengenai profesi warga yang datang, Mangku Putra mengatakan hampir dari berbagai kalangan. “Bahkan, anggota DPR dan DPRD pun sering datang ke sini untuk melakukan persembahyangan,” ujarnya.
Sempat Terkubur
Mengenai asal mula berdirinya pura, Mangku Putra tidak dapat memastikan, sehubungan moyang mereka sudah menemukan lokasi pura yang perwujudannya tidak berbeda dengan yang ada sekarang ini.
Namun demikian, pura sempat tercampakkan dalam puluhan tahun lamanya hingga berselimutkan debu dan terkubur oleh rimbunnya tumbuhan semak belukar.
Pendek cerita, belakangan nyaris seluruh anggota keluarga Mangku Putra mengalami musibah dan penderitaan yang berkepanjangan. “Ada yang sakit nggak sembuh-sembuh, ada yang murat-marit, bahkan adik saya pernah mengalami kecelakaan yang sangat parah,” kata Mangku Putra, mengenang.
Setelah musibah yang nyaris beruntun menimpa keluarganya itu, Mangku Putra tiba-tiba mendapat ‘pawisik’ melalui mimpi pada suatu malam. Mimpi yang terulang dalam beberapa kali, pada pokoknya berisikan pesan agar keluarga Mangku Putra bersedia merawat pura yang terselimuti rimbunnya semak belukar tersebut.
Akhirnya, Mangku Putra dan seluruh keluarganya sepakat untuk merenovasi pelinggih dan fasilitas lain di pura yang bercokol di sebuah goa di bagian tebing Bukit Ngandang.
Sampai sekarang, pura yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1 are dan diempon oleh 8 kepala keluarga itu, memiliki 3 pelinggih berupa gedong, padmasana serta sebuah batu purba yang memancarkan aura magis.
Untuk pujawali di Pura Gedong Pingit tersebut, dilaksanakan pada setiap Purnama Sasih Ketiga. Uniknya, setiap pujawali dilakukan, para pengempon pura tidak pernah mengeluarkan uang sepeser pun, karena dari sesari dan punia para pemedek sudah lebih dari cukup.
Mangku Putra menjelaskan, sebelum tangkil ke Pura Gedong Pingit, para pemedek juga wajib untuk melakukan persembahyangan di Pura Banaspati terlebih dahulu, yakni pada pelinggih yang terletak di bagian bawah atau selatan Pura Gedong Pingit.
“Jika tidak melakukan persembahyangan di sana terlebih dahulu, maka pemedek tidak akan pernah menerima pawisik atau memperoleh sesuatu sesuai dengan permohonan yang disampaikan di Pura Gedong Pingit,” ucap Mangku Putra, menjelaskan. (SJ Arya/LE-Met)







