Jalan ke Pura Tunggul Besi Temukus Besakih Rusak Berat, Penuh Lubang

Warga Desa Adat Temukus sedang bergotong royong memperbaiki jalan menuju pura - (Foto: LenteraEsai/SuaraArsana)

Karangasem, LenteraEsai.id – Pura Tunggul Besi yang berlokasi di bagian lereng Gunung Agung yang masuk wilayah Desa Adat Temukus, Desa Besakih, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangsem, merupakan salah satu pura Dangkhayangan di Bali.

Pura sempat dinyatakan berada pada kawasan rawan bencana (KRB) III pada erupsi Gunung Agung tahun 2017 lalu, sehubungan letaknya dalam radius lima kilometer dari bibir kawah Gunung Agung.

Bacaan Lainnya

Pewarta LenteraEsai.id dari kawasan pura yang diempon 68 KK itu, Sabtu (30/4) melaporkan, sebuah jembatan yang menghubungkan Pura Tunggul Besi dengan daerah luar, tercatat putus akibat erupsi Gunung Agung yang terjadi 2017 lalu. 

Sehubungan dengan itu, pemerintah pada 2021 kembali membangun jembatan di atas aliran sungai yang melintang di wilayah Desa Adat Temukus tersebut. Meskipun demikian, pemedek yang membawa kendaraan roda empat hingga kini belum bisa menuju pura karena jalan penghubung yang ada mengalami kerusakan berat, penuh diwarnai lubang menganga dan memanjang.

Jalan yang permukaannya masih merupakan tanah merah itu, kondisinya menjadi rusak berat setelah terkikis limpahan air hujan yang belakangan ini sering turun sangat deras di kawasan Temukus. Akibatnya, sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan bermotor roda empat.

Pemedek yang akan melaksanakan persembahyang di pura yang terletak di ketinggian itu, terpaksa harus menitipkan mobilnya di bawah atau di perkampungan warga, untuk kemudian berjalan kaki sejauh kurang lebih 2 km sampai ke Pura Tunggul Besi.

Guna memperkecil bentuk kerusakan, pada Sabtu (30/4) tampak puluhan warga Desa Adat Temukus sedang bergotong-royong menggunakan alat seadanya melakukan perbaikan jalan tanah yang penuh lubang tersebut.

Bendesa Adat Temukus I Nengah Sindia saat ditemui di sela-sela giat gotong royong, membenarkan bahwa jalan penghubung ke Pura Tunggul Besi belum bisa dilewati mobil karena di beberapa titik berlubang akibat tergerus air hujan.

Bendesa bersama 68 KK warga desa adat setempat sepakat memperbaiki dengan bergotong royong sampai jalan tersebut bisa dilewati mobil bagi para pemedek yang ingin sembahyang ke Pura Tunggul Besi.

Senada dengan Bendesa Adat Temukus, Kepala Dusun Temukus I Wayan Sudiana yang ikut memimpin warganya berotong royong siang itu, menyebutkan jalanan tanah tersebut sering rusak bila musim penghujan tiba.

Sudiana mengatakan bahwa gotong royong untuk memperbaiki jalanan tidak dilakukan kali ini saja, melainkan setiap ada kerusakan, warga selalu bersama-sama melakukan perbaikan. “Kecuali kalau kerusakannya sangat parah akibat adanya bagian yang longsor, baru menghubungi BPBD Karangasem untuk memohon bantuan alat berat,” ujarnya.

Kadus Temukus mengungkapkan bahwa wilayahnya sangat labil apabila musim hujan tiba. Ini karena letak geografis yang miring dan nyaris tidak ada pepohonan penyangga tanah di sepanjang jalan mulai dari perkampungan penduduk hingga ke areal pura.

Sudiana berharap Pemkab Karangasem dapat memberikan perhatian terhadap jalan menuju Pura Tunggul Besi yang merupakan salah saru pura Dangkhayangan di Bali, di mana para pemedek setiap Tumpek Landep tumpah ruah ke pura yang letaknya di bagian lereng selatan Gunung Agung tersebut.

Para pengempon pura yang bermukim di kawasan itu, sejauh ini sebagian besar berprofesi sebagai petani, yang antara lain dengan menanam sayur-sayuran dan Bunga Kasna, satu-satunya jenis edelwais yang hanya bisa tumbuh di wilayah Desa Temukus.  (LE-Sua) 

Pos terkait