Badung, LenteraEsai.id – Sebagian besar hidup Drs I Wayan Retha SH, mantan Kepala Dinas Pendidikan Badung itu diabdikan di dunia pendidikan. Setelah pensiun, ia memfocuskan pikiran dan tenaganya untuk mewujudkan mimpi dan idealismenya.
Apa itu?. Yakni membangun lembaga pendidikan: sekolah untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat. Membantu program pemerintah di bidang pendidikan.
Untuk kepentingan itu, rembug dengan keluarga pun dilakukan. Menurut Wayan Retha, keluarganya mendukung rencananya mendirikan sekolah. “Kebetulan kami ada tanah warisan sekitar 30 are di wilayah Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung. Di atas lahan itu kami membangun secara swakelola,” tuturnya, Jumat, 7 Januari 2022, di rumahnya di Badung.
Mengapa membangun sekolah?. Pria tiga anak dan tujuh cucu itu beralasan, backround dirinya adalah seorang pendidik (guru). Lama berdinas di instansi pendidikan, yaitu di jajaran Kanwil Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bali (sekarang Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Red-). Yakni menjabat Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) Badung. Lanjut dipercaya menjadi Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Badung. Awalnya adalah guru sekolah dasar (SD).
“Cita-cita saya mendirikan lembaga pendidikan sudah muncul lama. Karena selain latar belakang sebagai pendidik, menurut hemat saya pengabdian atau pemberian berupa ilmu pengetahuan cukup mulia,” paparnya.
Singkat cerita, setelah persyaratan dan ketentuan mendirikan sekolah terpenuhi. Yakni berupa yayasan, izin operasional, ketersediaan gedung sekolah, tenaga guru dan pegawai, sekolah tahun 2017 mulai dibuka. Yaitu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pratama Widya Mandala (PWM) Badung resmi beroperasi pada 2017. Diresmikan Wakil Bupati Badung, I Ketut Suiasa.
Hebatnya, Wayan Retha waktu itu dengan langkah berani membuka SMK baru. Padahal di wilayah Kecamatan Kuta Utara saat itu sudah terlebih dahulu beroperasi enam buah SMK, yang jaraknya sangat-sangat berdekatan. “Memang kompetitor lumayan banyak di wilayah Kuta Utara. Tidak masalah, ini (sekolah) adalah bidang layanan. Kita berlomba-lomba berbuat yang terbaik pada masyarakat. Mencetak sumberdaya manusia yang unggul dan handal,” katanya, penuh semangat.
Wayan Retha menyebutkan, SMK Pratama Widya Mandala dirancang dengan konsep kombinasi. Yakni selain mengikuti sistem pendidikan nasional, juga mengadopsi sistem pendidikan Taman Siswa Ki Hajar Dewantara dan sistem Gurukula di India.
Selain itu juga kompetitip dalam menarik dana pendidikan (SPP). Dengan biaya yang relatif murah, tetap memberikan mutu dan keunggulan pada peserta didik. “Sekolah yang kami dirikan, adalah sekolah layanan. Sistem pendidikan Taman Siswa dan Gurukula yang terkenal adalah ngemong. Guru menghamba pada murid,” tutur Retha.
Dalam penyelenggaraan pendidikan, menurut Retha, faktor tenaga pendidik (guru) memegang peranan sangat penting (sentral). Guru harus jadi panutan, jangan sekali-kali melakukan perbuatan tercela di depan anak didik. Karena guru figur yang patut ditiru dan digugu. “Menjadi guru itu berat tanggung jawabnya. Harus profesional, penyabar, ngemong dan menghamba pada anak didiknya,” ucapnya, menjelaskan.
Ketika pewarta LenteraEsai.id (LE) mengunjungi SMK Pratama Widya Mandala di Banjar Dama, Desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara, Kabupaten Badung pada Jumat, 7 Januari 2022 lalu, tampak gedungnya lumayan megah, dua lantai. Ada fasilitas hotel mini, loundry, bar untuk fraktikum.
“Untuk program training siswa, kami sudah menjalin kerja sama dengan 40 hotel berbintang 4 dan 5 yang ada di Kuta, Nusa Dua, Bali. Kalau praktik sesuai jurusan, semua fasilitas tersedia di sekolah,” katanya.
Di bagian depan dan belakang dibangun taman menghijau, dilengkapi patung yang mengandung filosofi tinggi. Misalnya di gerbang masuk ditaruh dua patung Gajah. Juga ada patung Dewi Saraswati, Dewi penurun ilmu pengetahuan yang sangat dimuliakan umat Hindu.
Retha menjelaskan, lembaganya berkeinginan mencetak orang-orang besar. Yakni menguasai ilmu dan keterampilan, di mana para lulusan nantinya mampu menempati posisi-posisi penting di perusaan. “Jadi orang besar tapi tidak boleh sombong,” ujarnya.
SMK Pratama Widya Mandala Badung dengan jurusan pariwisata. Para peserta didik, jelas Wayan Retha, juga mendapat tambahan keterampilan di bidang seni budaya. Sekolah juga memiliki sanggar seni. Sudah punya seperangkat gamelan, perlengkapan tari. “Mulai tahun ajaran 2022 ini, melalui sanggar seni kami ada program ngayah ke Pura-pura Kahyangan Tiga dan Kahyangan Jagat di Bali. Ini program pengabdian pada masyarakat,” imbuhnya.
Tidak hanya itu, menurut Wayan Retha, di sekolahnya juga akan menggelar Barong Dance di hadapan tamu yang dibawa travel agent. Terus juga ada rencana digelarnya event wedding. “Mohon doanya supaya yang kami planning bisa terwujud,” ucapnya, menutup perbincangan. (LE/Ima)







