Denpasar, LenteraEsai.id – Ada hal yang baru dalam penyelenggaraan tes CPNS pada tahun 2021. Setiap peserta yang mengikuti Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) di Denpasar pada Sabtu (11/9), oleh panitia diminta untuk berfoto di depan web cam sebelum menjalani tes.
Terungkap, para peserta itu menjalani proses face recognition atau mengenali wajah. Langkah tersebut dilakukan demi memastikan peserta yang datang sesuai dengan identitas yang disetorkan ke panitia pelaksana SKD.
“Sekarang ada webcam ini untuk mendeteksi wajah, guna mengantisipasi hadirnya joki. Di sini sudah jelas antara foto dengan wajah mereka itu akan dicek lagi,” kata Kepala Badan Kepegawaian dan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Buleleng I Gede Wisnawa ditemui saat mengawasi pelaksanaan SKD, di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Bali di Denpasar, Sabtu, (11/9).
Terkait teknis untuk tes CPNC yang nantinya bertugas di jajaran Pemkab Buleleng, Wisnawa mengatakan para peserta yang melalui face recognition nantinya akan dicocokkan antara wajah dengan foto yang sebelumnya disetorkan peserta tes pada saat pendaftaran.
Bila antara wajah dengan foto tidak ada kecocokan sama sekali, maka peserta yang datang akan dianggap joki. Setelah diproses lebih lanjut untuk menghindari kesalahan deteksi, peserta tersebut dipastikan gugur.
Pelaksanaannya kata Wisnawa, dilakukan oleh pihaknya selaku panitia seleksi CPNS 2021 Kabupaten Buleleng, sedangkan sistemnya difasilitasi oleh Kantor Regional X Badan Kepegawaian Negara (Kanreg X BKN) Denpasar.
Sementara itu, Ketut Buana selaku Kepala Bidang Informasi Kepegawaian Kanreg X BKN Denpasar menjelaskan sistem face recognition ini, yang merupakan langkah untuk meningkatkan akurasi pada saat melakukan verifikasi peserta.
Ketut Buana mengatakan, face recognition tersebut berjalan secara otomatis oleh sistem. Jadi, saat pengambilan foto peserta test yang datang, sistem sendiri yang akan mencocokkan dengan foto yang disetorkan oleh peserta sebelumnya.
“Jadi misalnya jika ditemukan ketidakcocokan, maka sistem otomatis menolak,” ucapnya, menjelaskan.
Namun, terdapat beberapa kendala dari sisi peserta akibat terjadi perubahan signifikan pada wajah dibandingkan dengan foto yang disetorkan. Hal itu kata Buana terjadi akibat peserta mengirimkan foto lama atau perubahan penampilan seperti gaya rambut dan make up.
Selain itu, editan berlebihan pada foto juga mengakibatkan kesalahan deteksi pada wajah peserta. Untungnya penyesuaian dapat dilakukan oleh pihak panitia untuk mengatasi hal tersebut.
“Misalnya karena di foto saking glowingnya, panitia menyiapkan bedak segala macam untuk membuat semirip mungkin dengan foto yang terlanjur editan tadi,” katanya, bernada kelakar.
Melalui sistem face recognition ini, diharapkan olehnya para peserta yang berencana menggunakan jasa joki untuk mengurungkan niatnya, sehingga tercipta proses seleksi yang transparan dan akuntabel. (LE-BL)







