Singaraja, LenteraEsai – Kota Singaraja kini memiliki wajah dan napas baru. Setelah kawasan Titik Nol ditata ulang oleh pemerintah daerah, ruang publik strategis ini mulai bertransformasi menjadi pusat kreativitas anak muda melalui gelaran music session mingguan bertajuk “Suara Senja”.
Acara yang diinisiasi sekelompok pemuda kreatif ini hadir memanfaatkan ramainya masyarakat yang kerap menghabiskan waktu sore di jantung Kota Singaraja.
Salah satu kru sekaligus gitaris Suara Senja, Rajendra Siaga Tika, saat diwawancarai di Kantor Diskominfosanti, Kamis (16/7), mengungkapkan ide awal perhelatan ini lahir setelah melihat potensi besar Titik Nol Singaraja sebagai ruang berkumpul dan bersosialisasi warga.
“Kami melihat tempat ini sangat berpotensi menjadi wadah anak muda mengekspresikan diri. Ke depannya, kami ingin tempat ini menjadi hub untuk segala jenis ekspresi seni budaya. Bukan hanya musik, tapi tidak menutup kemungkinan ke depan ada teater, paduan suara, atau seni lainnya,” jelas Rajendra.
Suara Senja mengusung konsep inklusif dan terbuka. Penyelenggara berkomitmen tidak membatasi latar belakang penampil serta mengajak seluruh lapisan masyarakat ikut ambil bagian. Ke depan, tim Suara Senja akan menggandeng institusi pendidikan formal di Buleleng untuk berkolaborasi, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, hingga SMA/SMK sederajat, serta musisi umum. Kegiatan ini digelar setiap akhir pekan untuk menghadirkan hiburan yang konsisten bagi masyarakat Buleleng.
Hingga kini, Suara Senja telah sukses digelar tiga kali dan bersiap menyambut pertunjukan keempat pada akhir pekan mendatang. Bukan sekadar ajang unjuk bakat musiman, Suara Senja membawa misi jangka panjang. Rajendra berharap Titik Nol Singaraja dapat tumbuh menjadi ikon pusat kesenian publik yang hidup, seperti ruang-ruang kreatif di berbagai kota besar Indonesia.
“Rencana besarnya, kami ingin menjadikan Suara Senja ini sebagai titik di mana masyarakat bisa berkumpul, bersenda gurau, dan menikmati seni bersama. Kami ingin Titik Nol Singaraja ini hidup sebagai pusat kesenian publik bagi warga Buleleng,” pungkas alumni SMAN Bali Mandara itu. (LE-003)







