Ada Penyandang Disabilitas yang Hobinya Melihat Wanita Cantik di Desa Taman Badung

Perbekel Taman I Gusti Made Sudarpa

Badung, LenteraEsai.id – Penyandang disabilitas dan beberapa jenis penyakit yang tergolong menahun, jumlahnya cukup tinggi di Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Beberapa jenis penyakit dan ketunaan yang diidap warga tersebut antara lain tunawicara, tunarungu (tuli), tunadaksa, tunanetra, polio, hyperaktif, lumpuh, gangguan kejiwaan/mental/idiot, organ tubuh tidak lengkap (amputasi) dan sebagainya.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan data yang ada, mereka tidak hanya mengalami disabilitas sejak kecil atau lahir, tetapi ada juga yang setelah dewasa karena mengalami kecelakaan atau musibah bencana alam. Bahkan beberapa dari penyandang disaibitas di desa itu kondisinya cukup parah, katagorinya bedridden (hanya bisa beraktivitas di tempat tidur).

“Ya, angka penyandang disibilitas di desa kami memang cukup banyak. Ada 100 orang lebih, berbagai tingkatan usia,” kata Sekretaris Desa (Sekdes) Taman, I Gede Wardana Spd kepada pewarta LenteraEsai (LE) di kantornya pada Jumat, 20 Agustus 2021.

Ia menyebutkan, penyandang disibilitas di Desa Taman tersebar di 12 banjar/dusun. Ada yang kakak beradik mengidap polio. Karena kondisi polionya parah, mereka hanya mampu beraktivitas di tempat tidur (bedridden). Ada orang tua dan anak mengalami tuna wicara.

Ada pula seorang pria penyandang disabilitas gangguan mental yang doyan melihat wanita-wanita cantik. Diistilahkan disabilitas ‘kasmaran’. “Disabilitas kasmaran itu saban hari datang ke kantor desa dan Puskesmas (hanya sampai halaman Red-), untuk melihat pegawai-pegawai cantik,” ucapnya.

Tetapi, lanjut Wardana, dia datang sebatas melihat-lihat saja, tidak sampai mengganggu. Pernah juga penyandang disabilitas itu mengambil buku-buku di rak perpustakaan desa dan di rumah warga. Bukan untuk dibaca, melainkan ditaruh saja di rumahnya.

“Kejadian ngambil buku di perpustakaan dan di rumah warga itu sudah lama. Kebetulan di kantor waktu lengang, tidak ada pegawai yang ngeh saat ia ngambil buku di lantai dua,” ujarnya.

Mengapa banyak penyandang disabilitas?. Perbekel Taman I Gusti Made Sudarpa menyebut kemungkinan faktor genetik. Kebanyakan kelainan bawaan. Keluarga umumnya sudah melakukan upaya pengobatan secara medis maupun non medis, tetapi tidak banyak membawa hasil.

“Beberapa disabilitas yang fisik dan mentalnya relatif bagus, disekolahkan ke SLB oleh keluarganya. Sehingga mereka memiliki ilmu pengetahuan dan ketrampilan. Ada yang sampai bisa bekerja di hotel,” kata Sudarpa.

Adakah program pemberdayaan penyandang disabilitas berupa pemberian keterampilan dari pemerintah desa?. Sudarpa beralasan sulit memberi keterampilan kepada mereka. Apalagi penyandang autis. Sekolah saja mereka tidak betah, memilih meninggalkan sekolah.

“Kalau untuk pemberian bantuan sembako, misalnya, kami prioritaskan penyandang disabilitas yang tergolong keluarga kurang mampu,” katanya, menjelaskan. (LE/Ima)

Pos terkait