Denpasar, LenteraEsai.id – Puluhan mobil yang tergolong renta ambil bagian dalam kegiatan yang bertajuk ‘Fun Rally Wisata’ menyusuri sejumlah daerah di Bali untuk selama tiga hari, 21-23 November 2020.
Kegiatan yang digelar Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) Bali itu, dilakukan serangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda, sekaligus sebagai upaya membangkitkan kembali dunia kepariwisataan Pulau Dewata yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.
‘Fun Rally Wisata’ kali ini terasa lebih semarak setelah penggemar mobil renta yang tergabung dalam TLCI Bali Sub Chapter Denpasar ambil bagian dalam konvoi kendaraan yang melewati sejumlah objek wisata menawan di Bali itu.
Joss Darmawan, selaku Pembina PPMKI Bali menjelaskan, peserta ‘Fun Rally Wisata’ kali ini menempuh rute dalam ratusan kilometer melintasi 4 kabupaten dan kota di Bali, yakni sejak start dari Kota Denpasar rombongan langsung menuju Kabupaten Badung, Tabanan dan Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara.
Tiba di wilayah Kabupaten Buleleng, rombongan peserta menginap satu malam di hotel kawasan Pantai Lovina, Singaraja. Keesokan harinya, Minggu (22/11), rombongan rally dari Pantai Lovina langsung menuju untuk bermalam di Hotel Jayakarta Kuta, Kabupaten Badung.
Setelah bermalam di Kuta, hari berikutnya Senin (23/11), suluruh peserta kembali ke daerahnya masing-masing, ujar Joss menjelaskan.
Sementara itu, Ketua TLCI Bali Sub Chapter Denpasar yang akrab disapa Teza Tabuan, menyatakan sangat mengapresiasi kegiatan ini sebagai salah satu upaya untuk memulihkan kembali aktivitas kepariwisataan di Bali.
Terlebih, lanjut dia, anggota PPMKI Bali yang umumnya sudah berusia tua dengan mengendarai mobil yang tua pula, namun ternyata semangat mereka tak ubahnya bagai anak muda yang kini santer disebut kaum milenial.
Teza Tabuan mengharapkan kegiatan semacam ini dapat secara periodik diselenggarakan di Bali, sekaligus juga dapat menjadi contoh dalam tertib berlalu lintas di jalan raya.
“PPMKI dan TLCI harus dapat menjadi pelopor ke arah tertib berkendaraan demi terjaminnya keselematan di jalan umum,” kata Teza dengan menambahkan, kemajuan budaya suatu daerah diukur dari tertibnya penduduk dalam berlalu lintas di jalan umum. (LE-Duh)







