Kuta, LenteraEsai.id – Berlatar belakang ingin mengetahui reaksi masyarakat mengenai citra Sungai Citarum yang pernah masuk dalam daftar sebagai salah satu sungai terkotor di dunia, sebuah kegiatan social experiment atau prank diadakan di Pantai Kuta, Badung, Bali pada Senin (20/5/2024). Kegiatan ini digawangi Citarum Water, yang berkolaborasi dengan Komunitas Peduli Sungai (KPS) Elemen Lingkungan (Elingan) Sungai Citarum, yang bekerja sama dengan KPS Tukad Bindu, Denpasar.
Puluhan pengunjung Pantai Kuta, terdiri atas pengunjung domestik, warga lokal hingga turis mancanegara, memperlihatkan berbagai reaksi ketika dihampiri tim prank untuk ditawari air berwarna kecoklatan dalam kemasan tumbler. Sampai ada pengunjung yang terang-terangan mengatakan dirinya merasa tertekan karena ditawari air berwarna coklat, yang dikhawatirkan berasal dari air Sungai Citarum di Jawa Barat.
“Jadi di sinilah kita ingin menguji reaksi masyarakat, bagaimana perspektif mereka terhadap Sungai Citarum, apa masih dibayangi ketakutan karena sebelumnya pernah masuk dalam daftar sungai terkotor di dunia? Nyatanya, memang ada pengunjung yang waswas sih, kuatir air dalam tumbler yang kita tawarkan itu tidak higienis. Nah, di sinilah peran pelaku prank, yang kemudian segera memberikan edukasi bahwa air dalam tumbler itu higienis dan layak minum. Sekaligus mengajak warga supaya peduli pada sungai, sebagai sumber air yang sangat penting artinya dalam kehidupan ini,” kata Deni Riswandani selaku Ketua KPS Elingan Citarum, pada Senin (20/5/2024) sore.
Deni melanjutkan, salah satu latar belakang kenapa prank ini dilakukan di Bali, sedangkan Citarum terletak di Jawa, dikarenakan sungai tersebut memiliki kontribusi besar untuk penyediaan air bersih dan sekaligus sumber penyediaan energi bagi Pulau Jawa dan Bali. Di mana sungai yang debit airnya kini mencapai 13 miliar meter kubik per tahun itu mampu memberi manfaat pemenuhan air bagi 18 juta warga Jawa Barat. Citarum juga sebagai sumber pembangkit listrik 1.880 MW, untuk sekitar 20 persen kebutuhan listrik Jawa-Bali. Bahkan, Citarum menjadi andalan untuk mengairi sekitar 400 ribu hektare sawah, sumber air ribuan industri dan sumber air baku bagi sekitar 80 persen air minum Jakarta.
Disinggung soal digelarnya aksi prank bertepatan dengan momen World Water Forum (WWF) di Bali, menurut Deni, hal ini dikarenakan salah satu agenda materi di event kegiatan internasional itu, juga membahas tentang Sungai Citarum. “Saya sangat berharap, event WWF ini bukan hanya agenda seremonial belaka, namun menghasilkan rekomendasi solutif sehingga bisa diimplementasikan dalam kehidupan. Khususnya terkait agenda penyelamatan sumber-sumber air di muka bumi ini,” ujar Deni, berharap.
Deni melanjutkan, di Elingan Citarum sejak tahun 2005 telah mengadakan sekolah sungai yang mengajarkan materi: morfologi sungai, flora dan fauna, sejarah dan peradaban, konservasi serta rafting dan rescue. Menginjak tahun 2024 ini, telah berkembang menjadi 12 sekolah sungai dan sering kali menjadi acuan edukasi untuk menjaga dan melestarikan aliran sungai.
“Namun dengan sejujurnya, saya mengakui bahwa Elingan Citarum telah mengadopsi ajaran adiluhung yang sudah dilakukan di Tukad Bindu, yakni melestarikan lingkungan melalui implementasi kearifan lokal. Ini ajaran nenek moyang, dari leluhur, yang sungguh bernilai, yakni mengajarkan kita untuk memuliakan alam demi mewariskan bumi yang sehat bagi generasi mendatang,” katanya di akhir perbincangan.
Berpegang Ajaran Batur Kalawasan
Menjaga lingkungan, khususnya sumber air, sangat penting artinya bagi penduduk bumi. Hal ini ditegaskan salah seorang pengurus Yayasan Tukad Bindu yang membidangi pendidikan, Ida Bagus Anom Parwata, ketika dijumpai pewarta LenteraEsai, usai kegiatan prank di Pantai Kuta.
“Implementasi dari menjaga sumber air yang dilakukan di lingkungan kita, adalah dengan bertitik tolak pada ajaran Sad Kertih, konsep Segara Gunung dan Tri Hita Karana. Itu yang menjadi acuan atau role mode kita selama ini,” ujar pria yang akrab dipanggil Gus Anom.

Dikatakannya, ajaran yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Bali, salah satunya adalah naskah lontar Batur Kalawasan, sangat berguna bagi kehidupan masyarakat karena mengandung nilai filsafat, agama, dan nilai kehidupan yang dapat direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ajaran dari Batur Kalawasan inilah, yang kemudian diterapkan dalam melestarikan Tukad Bindu, yang dahulu terkenal dengan sebutan ‘teba’ atau kebun, sehingga sering kali menjadi tempat pembuangan sampah.
“Dan perjalanan pelestarian Tukad Bindu tidak berjalan sekejap mata, melainkan melalui serangkaian perjalanan yang panjang. Bermula tahun 2010, penduduk mulai diedukasi untuk memungut sampah plastik yang ditemui ketika beraktivitas di wilayah sungai. Karena dulu, banyak warga yang suka mencuci baju atau mandi di Tukad Bindu, kadang ada saja plastik bekas detergen yang dibuang begitu saja,” kata Gus Anom.
Pada tahun 2017, akhirnya Yayasan Tukad Bindu resmi dibentuk dengan berbadan hukum. Akhirnya dengan diakomodir kepala lingkungan, gerakan edukasi masyarakat pun dilakukan secara rutin. Khususnya menyasar warga di Banjar Ujung (barat), sedangkan di sisi timur mencakup Desa Kesiman Petilan, Banjar Dukuh, Abian Nangka Kaja dan Banjar Abian Nangka Kelod.
Saat mengadakan edukasi, segenap relawan yayasan dengan didampingi kepala lingkungan, mendatangi rumah-rumah warga di bantaran sungai. Hal ini dilakukan supaya pola hidup membuang sampah domestik ke areal sungai bisa ditinggalkan oleh masyarakat. Relawan kemudian mengarahkan cara membuang limbah rumah tangga secara benar, dengan dibuatkan resapan di areal rumah yang masih memiliki lahan kosong. Sedangkan bagi rumah yang tidak memiliki ‘space’ kosong, maka dibuatkan resapan di daerah terdekat. Langkah ini dilakukan secara kontinyu sehingga saat ini, 95% Kawasan Tukad Bindu sudah clear dari sampah, dan berproses menuju zero.
“Kadang ada saja sampah liar, misalnya dibuang warga dari atas jembatan di Jalan Gatot Subroto Denpasar. Nah inikan tidak bisa diprediksi kapan datangnya sampah liar itu. Akhirnya kami mengatasinya dengan memasang jaring yang kemudian dibersihkan oleh relawan kami pada pagi atau sore hari. Dan bersyukur, Tukad Bindu yang sepanjang 68 km (hulunya dari Dam Oongan) ini, saat ini jauh lebih bersih dari sampah atau limbah. Dan ini masih berproses hingga ke depannya,” ucap Gus Anom.
Sementara itu, menyinggung perhelatan WWF saat ini di Nusa Dua, Gus Anom mengatakan bahwa selaku KPS Kota Denpasar, khususnya di Tukad Bindu, pihaknya mengapresiasi apapun hasil dari WWF. “Dengan catatan, WWF bukan sekedar gelaran acara atau seremonial, tapi diharapkan ada implemetasi riil, mengingat air adalah sumber kehidupan. Apalagi di Bali ini, ketika kita mengadakan ritual keagamaan, maka dimulai dengan memohon air suci dan diakhiri dengan nunas tirtha. Ini artinya, menjaga sumber air termasuk sungai adalah merawat sebuah kehidupan,” ujar Gus Anom, penuh semangat. (LE-Vivi)







