judul gambar

Kibarkan Merah Putih Dahulu, Rp3 Miliar Urusan Kemudian

Kibarkan Merah Putih dahulu, Rp3 miliar urusan kemudian
Presiden Prabowo Subianto (kedua kanan) bersama Menpora Erick Thohir (ketiga kanan) dan Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia Todotua Pasaribu (kanan) menyaksikan atlet panjat tebing Veddriq Leonardo (tengah) mengibarkan Bendera Merah Putih saat pelepasan kontingen Indonesia untuk Asian Games 2026 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/9/2026). ANTARA FOTO/Cahya Sari/hma/YU/aa.

Jakarta, LenteraEsai.id – Ada satu angka yang barangkali paling mudah diingat para atlet Indonesia setelah Presiden Prabowo Subianto melepas Kontingen Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/9): Rp3 miliar.

Itulah nilai bonus yang dijanjikan pemerintah kepada setiap atlet yang berhasil membawa pulang medali emas Asian Games tahun ini.

Bacaan Lainnya

Di hadapan ratusan atlet yang akan berangkat ke Jepang, Presiden menyebut angka tersebut sekaligus membandingkannya dengan bonus emas SEA Games yang ditetapkan Rp1 miliar.

Perbandingan itu membuat pembicaraan tentang bonus menjadi lebih dari sekadar nominal. Ada pesan tentang bagaimana negara menempatkan dua ajang tersebut dalam jenjang kompetisi olahraga yang diikuti Indonesia. Asian Games mempertemukan kekuatan olahraga dari seluruh Asia, sementara SEA Games berada dalam lingkup Asia Tenggara.

Dua belas tahun sebelumnya, ketika Indonesia tampil di Asian Games Incheon 2014, seorang peraih emas nomor perorangan mendapatkan bonus Rp400 juta. Angka itu mungkin sudah terasa besar pada masanya, tetapi dibandingkan dengan penghargaan yang disiapkan untuk AG Aichi-Nagoya, nilainya kini terlihat jauh berbeda.

Empat tahun berselang, bonus meningkat cukup tajam. Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 di Jakarta dan Palembang, pemerintah memberikan Rp1,5 miliar kepada peraih emas nomor perorangan. Untuk nomor ganda, bonusnya Rp1 miliar, sedangkan peraih emas nomor beregu memperoleh Rp750 juta per atlet. Pajak atas bonus tersebut juga ditanggung negara.

Kemudian pada Asian Games Hangzhou 2022, bonus emas perorangan kembali naik, kali ini menjadi Rp1,575 miliar. Dan sekarang, angkanya menjadi Rp3 miliar.

Di balik angka-angka tersebut ada perubahan cara negara memberikan penghargaan kepada atlet. Medali yang dibawa pulang tidak lagi berhenti sebagai kebanggaan dalam seremoni penyambutan. Ada nilai materi yang terus dinaikkan untuk mengiringinya.

Namun, ada bagian lain dari pesan Presiden Prabowo yang mungkin tidak sebesar angka Rp3 miliar dalam pemberitaan, tetapi justru menyentuh kehidupan atlet setelah pertandingan berakhir. Peraih medali perak dan perunggu tetap akan mendapat perhatian. Para pelatih juga demikian. Bagi atlet dan pelatih yang berstatus anggota TNI atau Polri, perhatian itu mencakup percepatan jenjang karier dan kenaikan pangkat.

Bagi seorang atlet, karier olahraga tidak selalu berlangsung panjang. Masa ketika tubuh mampu mencapai performa terbaik memiliki batas. Penghargaan yang berhubungan dengan perjalanan karier di institusi tempat mereka bekerja dapat memiliki arti yang berbeda dengan uang yang diterima sesaat setelah pertandingan.

Seorang atlet yang pulang membawa medali memang akan membawa pulang bonus. Tetapi jika prestasinya juga berpengaruh terhadap perjalanan karier, penghargaan tersebut dapat terus mengikuti dirinya setelah sorotan pertandingan mereda.

Pengalaman pemerintah memberikan bonus dalam jumlah besar juga bukan baru akan dimulai di Asian Games.

Pada Januari 2026, pemerintah mencairkan total Rp465,25 miliar untuk bonus Kontingen Indonesia pada SEA Games 2025. Salah satu penerimanya adalah atlet triatlon Martina Ayu Pratiwi yang mendapatkan Rp3,44 miliar dari lima emas dan dua perak.

Martina tidak menghabiskan seluruh uang itu untuk kebutuhan sesaat. Sebagian digunakan untuk merenovasi rumah orang tuanya di Magetan. Sebagian lainnya disimpan sebagai persiapan menghadapi Asian Games 2026 dan Olimpiade.

Pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga juga menggandeng lembaga perbankan untuk memberikan literasi keuangan kepada atlet. Ada kesadaran bahwa menerima uang dalam jumlah besar juga membutuhkan kemampuan mengelolanya.

 

Bukan Tujuan Utama

Namun, di balik besarnya angka bonus tersebut, Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat memiliki pandangan dan pesan tersendiri. Sebagai mantan atlet yang pernah merengkuh medali emas Olimpiade Athena 2004, ia paham betul dinamika di panggung tertinggi olahraga dunia.

Berdasarkan pengalamannya, Taufik mengingatkan para atlet agar tidak menjadikan bonus sebagai tujuan utama.

Pesannya sederhana: bertandinglah demi prestasi, bonus akan mengikuti. Angka Rp3 miliar tentu bukan jumlah yang kecil dan bahkan sanggup mengubah kehidupan seseorang. Namun, seorang atlet membutuhkan fondasi motivasi yang lebih kuat untuk terus bertahan melewati beratnya latihan, cedera, serta kegagalan sebelum meraih kemenangan.

Medali adalah target di arena, sedangkan bonus hanyalah bentuk apresiasi yang mengiringinya.

Di Aichi-Nagoya, tantangan bagi Indonesia tidak lagi sama seperti empat tahun lalu.

Indonesia menargetkan empat medali emas. lebih rendah dibandingkan capaian tujuh emas pada Asian Games Hangzhou 2022. Target realistis ini ditetapkan karena tiga nomor yang menjadi lumbung medali Indonesia sebelumnya, yakni dua nomor dragon boat dan satu nomor menembak, tidak lagi dipertandingkan pada Asian Games 2026.

Kondisi tersebut secara otomatis mengubah peta peluang Indonesia dalam perebutan medali.

Target empat emas kemudian disusun dengan melihat cabang-cabang yang masih memiliki peluang kuat. Bulu tangkis tetap menjadi salah satu andalan. Panjat tebing dan angkat besi juga masuk dalam perhitungan.

Di panjat tebing, Ketua Umum Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia, Yenny Wahid, menyampaikan target tiga medali, dengan dua di antaranya emas.

Dari angkat besi, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Besi Indonesia, Rosan Roeslani, membidik satu emas. Peluang tambahan untuk meraih perak atau perunggu juga terbuka.

Di penghujung acara pelepasan kontingen, Presiden Prabowo kemudian menyerahkan Bendera Merah Putih kepada Veddriq Leonardo.

Bendera itu berpindah tangan dari seorang kepala negara kepada atlet yang sudah pernah merasakan podium tertinggi Olimpiade di Paris 2024.

Veddriq tahu bagaimana rasanya membawa nama Indonesia ke podium tertinggi. Ia juga tahu bahwa setelah satu medali diraih, tantangan berikutnya tidak menjadi lebih ringan. Justru ada ekspektasi baru yang ikut menunggu.

Begitu pula dengan ratusan atlet lain yang akan berangkat ke Aichi-Nagoya. Mereka membawa target empat emas, harapan pemerintah dan masyarakat.

Para atlet tahu ada bonus bernilai Rp3 miliar di balik setiap medali yang diraih. Namun, saat pertandingan dimulai, seluruh angka tersebut akan dikesampingkan sementara.

Di arena, bonus tidak bisa membantu atlet berlari lebih cepat, mengangkat beban lebih berat, memanjat dinding lebih tinggi, atau mengembalikan kok ke area lawan. Hal yang menentukan hanyalah kerja keras selama latihan, keberanian mengambil keputusan, fokus penuh, dan satu kesempatan untuk menjadi yang terbaik.

Bonus Rp3 miliar baru akan bermakna setelah medali berhasil digenggam. Sebelum momen itu tiba, atlet hanya perlu fokus pada satu hal: bertanding sebaik mungkin demi Merah Putih. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait