Jakarta, LenteraEsai.id – Ketika gunung api meletus, perhatian publik umumnya terfokus pada kolom erupsi, awan panas, radius bahaya, dan jalur evakuasi.
Padahal, ada ancaman lain yang turun nyaris tanpa bersuara: hujan abu yang menyelimuti atap rumah, jalanan, fasilitas umum, hingga sumber air. Warnanya kelabu dan sekilas tampak seperti debu biasa. Di situlah masalahnya, abu vulkanik bukan debu biasa.
Secara geologis, abu vulkanik terdiri dari fragmen batuan, mineral, dan kaca vulkanik berskala mikroskopis (diameter di bawah dua milimeter). Abu ini bukan sisa pembakaran seperti abu kayu, melainkan material padat yang keras, tajam, dan abrasif. Partikel halusnya sangat mudah terbawa angin hingga puluhan kilometer dan rentan terhirup masuk ke dalam saluran pernapasan.
Mengingat Indonesia, menurut Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), memiliki 127 gunung api aktif, masyarakat tidak hanya dituntut paham kapan harus mengungsi. Edukasi mengenai cara meminimalkan paparan abu vulkanik, baik saat erupsi berlangsung maupun pasca-bencana, menjadi krusial untuk melindungi kesehatan.
Dampak kesehatan akibat abu vulkanik sangat bervariasi pada setiap orang. Hal ini dipengaruhi oleh ukuran partikel, konsentrasi di udara, durasi paparan, komposisi kimia, kondisi cuaca, hingga tingkat kerentanan individu. Pada orang sehat, paparan singkat umumnya memicu iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, rasa tidak nyaman di dada, hingga napas terasa berat.
Namun, risikonya jauh lebih tinggi bagi penderita asma, bronkitis kronis, PPOK, dan penyakit kardiovaskular. Kelompok ini rentan mengalami sesak napas berat, mengi, serta peningkatan kebutuhan obat pelega. Selain itu, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis membutuhkan perlindungan ekstra karena keterbatasan mereka dalam menghindari paparan maupun mengakses fasilitas kesehatan.
Mata menjadi salah satu organ yang paling cepat bereaksi. Partikel tajam abu dapat menyebabkan gatal, kemerahan, mata berair, hingga luka gores pada kornea. Karena itu, penggunaan lensa kontak sangat dilarang saat hujan abu dan wajib diganti dengan kacamata pelindung (goggles).
WHO juga mengingatkan bahwa erupsi mengganggu akses air bersih, pangan, serta layanan kesehatan, menjadikan krisis ini jauh lebih luas daripada sekadar masalah pernapasan dan mata perih.
Bahaya setelah langit kembali cerah
Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi adalah menganggap ancaman telah usai begitu hujan abu berhenti. Padahal, abu yang sudah mengendap sangat mudah terangkat kembali oleh angin, lalu lintas kendaraan, maupun aktivitas menyapu. Akibatnya, risiko paparan terus berulang meski aktivitas erupsi mulai mereda. Oleh sebab itu, tata cara pembersihan abu menjadi bagian vital dari mitigasi bencana.
Selama ini, pembagian masker kerap menjadi bentuk respons yang paling menonjol. Langkah ini memang penting, tetapi dapat memicu rasa aman palsu seolah ancaman otomatis mereda setelah memakai masker. Padahal, benteng perlindungan paling utama adalah meminimalkan paparan langsung dengan abu vulkanik.
Selama kondisi memungkinkan, masyarakat diimbau tetap berada di dalam ruangan yang aman, menutup rapat pintu dan jendela, serta membatasi aktivitas di luar rumah. Jika terpaksa beraktivitas di luar atau membersihkan endapan abu, gunakan respirator partikulat (seperti N95) dengan ukuran yang pas dan terpasang rapat.
Perlu diingat, respirator ini hanya menyaring partikel dan tidak mampu menahan gas beracun. Jika otoritas menginstruksikan evakuasi akibat ancaman gas berbahaya, awan panas, atau lahar, penggunaan masker bukanlah alasan untuk menunda mengungsi.
Selain itu, penggunaan respirator N95 dewasa tidak efektif bagi anak-anak karena ukurannya yang longgar. Penderita penyakit jantung dan paru kronis juga perlu berhati-hati karena hambatan bernapas saat menggunakan respirator rapat dapat memperburuk kondisi mereka.
Edukasi kesehatan masyarakat pun tidak boleh sebatas menyerukan “semua wajib pakai N95”, melainkan harus mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan khusus setiap individu.
Rumah, air, pangan, dan obat rutin
Mitigasi yang baik dimulai dari rumah tangga. Keluarga di kawasan rawan sebaiknya menyiapkan pelindung pernapasan yang sesuai, kacamata, obat rutin, air minum, bahan pangan, serta nomor kontak layanan kesehatan. Penderita asma perlu memastikan ketersediaan obat pengontrol dan pelega. Dokumen kesehatan dan daftar obat juga sebaiknya ditempatkan di lokasi yang mudah diambil saat evakuasi.
Sumber air perlu dilindungi dari paparan abu, terutama penampungan air hujan dan wadah terbuka. Jika air tampak keruh atau diduga terkontaminasi, informasi dari dinas kesehatan dan pengelola air setempat harus menjadi acuan sebelum air dikonsumsi. Bahan pangan yang terkena abu juga perlu dibersihkan dengan air bersih sebelum diolah.
Pemerintah tidak memulai mitigasi dari nol. Indonesia memiliki PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), unit di bawah Badan Geologi yang memantau aktivitas gunung api, memberikan peringatan dini, menganalisis risiko, dan menyusun rekomendasi teknis. Upaya ini diperkuat MAGMA Indonesia, platform digital Badan Geologi yang menyajikan informasi dan rekomendasi kebencanaan geologi secara terintegrasi dan mendekati waktu nyata.
Di lapangan, respons mencakup penetapan zona bahaya, evakuasi, pembagian masker, pemantauan dampak, serta koordinasi lintas instansi. Pada erupsi Gunung Sinabung pada awal September 2026, misalnya, BPBD Kabupaten Karo bersama berbagai instansi di Karo dan Berastagi membagikan masker kepada warga terdampak dan mengimbau masyarakat menjauhi zona bahaya. BNPB juga berkoordinasi dengan pemerintah daerah dalam penanganannya.
Dari sisi kesehatan, Permenkes Nomor 1 Tahun 2026 mengatur Klaster Kesehatan di tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten/kota. Klaster ini mencakup pelayanan medis, penanggulangan penyakit, kesehatan lingkungan, kesehatan jiwa, gizi, promosi kesehatan, logistik, serta data dan surveilans. Dalam berbagai respons erupsi, pemerintah juga menyiagakan puskesmas, pos kesehatan, layanan air bersih dan sanitasi, tenaga kesehatan, serta logistik.
Apakah semua langkah tersebut sudah memadai?
Untuk respons awal, fondasinya cukup kuat. Namun, untuk membangun mitigasi risiko kesehatan yang lebih proaktif, seragam, dan berbasis data, sejak sebelum paparan hingga masa pemulihan, jawabannya belum sepenuhnya.
After-action review Kementerian Kesehatan bersama WHO pada 2026, meski tidak secara khusus membahas erupsi gunung api, menemukan sejumlah persoalan sistemik yang relevan. Fungsi Health Emergency Operation Center belum seragam, pelaporan data awal belum sepenuhnya terintegrasi, dan penempatan persediaan masih cenderung reaktif.
Karena itu, pekerjaan rumahnya bukan sekadar menambah jumlah masker atau logistik. Yang lebih penting adalah memastikan sistem bekerja sebelum krisis membesar.
Puskesmas sebagai Radar Kesehatan
Puskesmas dapat mengambil peran yang kerap luput dibicarakan: bukan sekadar tempat berobat, melainkan menjadi “radar” kesehatan masyarakat setelah hujan abu. Puskesmas dapat memantau peningkatan keluhan seperti batuk, mengi, sesak napas, iritasi mata, hingga kekambuhan penyakit kronis. Pencatatan yang cepat dan terstandar dapat membantu menunjukkan apakah beban kesehatan di suatu wilayah mulai meningkat.
Di sinilah surveilans sindromik menjadi penting. Pendekatan ini mendeteksi perubahan pola gejala sebelum diagnosis lengkap ditegakkan. Ketika keluhan pernapasan meningkat setelah hujan abu, misalnya, intervensi dapat segera diprioritaskan dengan mendistribusikan pelindung pernapasan, memberikan edukasi tentang pembersihan abu, mengunjungi kelompok rentan, atau memperkuat stok obat. Data gejala akan jauh lebih bermakna jika dibaca bersama informasi sebaran abu dan hasil pemantauan partikulat udara.
Sekolah pun memerlukan protokol yang jelas. Keputusan mengenai kegiatan luar ruang tidak cukup hanya didasarkan pada apakah halaman sekolah tampak bersih. Guru dan orang tua perlu mengetahui kapan aktivitas luar ruang harus dibatasi, bagaimana melindungi mata dan saluran pernapasan anak, serta gejala apa yang memerlukan pertolongan medis.
Menuju Komunikasi Risiko
Saat erupsi terjadi, arus informasi bergerak hampir secepat abu yang menyebar. Sebagian benar, sebagian tidak lengkap, dan sebagian lainnya menyesatkan. Karena itu, komunikasi risiko bukan sekadar pelengkap respons bencana, melainkan bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat.
Informasi mengenai status gunung api, zona bahaya, dan rekomendasi teknis perlu merujuk pada PVMBG dan MAGMA Indonesia. Informasi mengenai evakuasi mengikuti arahan pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana. Sementara untuk aspek kesehatan, pesan dari dinas kesehatan, puskesmas, rumah sakit, dan tenaga kesehatan perlu diselaraskan agar masyarakat tidak menerima instruksi yang berbeda atau bahkan bertentangan.
Pesan yang disampaikan pun harus konkret. Imbauan seperti “hindari abu” terlalu umum untuk membantu orang mengambil keputusan. Masyarakat membutuhkan panduan yang dapat langsung dilakukan: tetap berada di dalam rumah jika kondisi aman, menutup jendela, mengurangi perjalanan, menggunakan pelindung pernapasan ketika harus keluar, mengenakan kacamata, menghindari lensa kontak, tidak menyapu abu dalam keadaan kering, memastikan obat rutin tersedia, serta segera mencari pertolongan jika sesak napas memburuk.
Sejumlah perbaikan perlu diwujudkan dalam prosedur yang jelas.
Pertama, peringatan geologi dari PVMBG dan MAGMA Indonesia perlu memiliki pemicu yang terukur untuk mengaktifkan protokol kesehatan di daerah terdampak.
Kedua, surveilans keluhan pernapasan dan iritasi mata perlu dipadukan dengan data sebaran abu dan kualitas udara.
Ketiga, pelindung pernapasan, kacamata, obat esensial, serta kebutuhan kelompok rentan sebaiknya ditempatkan lebih dekat dengan wilayah berisiko sebelum krisis terjadi.
Keempat, sekolah, fasilitas lansia, tempat pengungsian, dan puskesmas perlu memiliki prosedur khusus menghadapi hujan abu, termasuk perlindungan air bersih, kelanjutan obat penyakit kronis, dan jalur rujukan.
Kelima, data kebencanaan dan data kesehatan perlu masuk dalam satu gambaran operasional bagi pengambil keputusan. Setelah keadaan mereda, evaluasi harus menjadi rutinitas agar pengalaman lapangan mengubah prosedur berikutnya.
Mitigasi kesehatan semestinya bergerak selangkah lebih awal: dari menunggu keluhan muncul menuju mengurangi paparan sebelum orang jatuh sakit. Erupsi memang tidak dapat dijadwalkan oleh manusia. Namun, tingkat paparan, kualitas perlindungan, kecepatan mengenali gejala, dan ketepatan komunikasi masih dapat dipengaruhi oleh keputusan manusia.
Di negeri dengan 127 gunung api aktif, kemampuan membaca status gunung api perlu berjalan beriringan dengan kemampuan membaca sinyal tubuh. Batuk setelah hujan abu, mata yang terus terasa nyeri, mengi pada penderita asma, atau sesak napas yang memburuk tidak semestinya dinormalisasi sebagai “bagian dari bencana”.
Mitigasi kesehatan berarti tetap waspada tanpa panik dan melindungi diri tanpa meremehkan risiko. Sebab, abu yang tampak tipis di halaman tidak selalu berarti risikonya ikut tipis. (LE)
Source: ANTARA








