Denpasar, LenteraEsai.id – Memperingati Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali, DPRD Provinsi Bali menggelar Rapat Paripurna ke-47 DPRD Provinsi Bali Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Ruang Sidang Utama Kantor DPRD Bali, Jumat (14/8).
Rapat paripurna dipimpin Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya, didampingi para wakil ketua. Hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Bali Wayan Koster, Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta, jajaran pimpinan dan anggota DPRD Bali, serta seluruh organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.
Dalam sambutannya, Ketua DPRD Bali Dewa Made Mahayadnya menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh undangan sekaligus selamat Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali. Menurutnya, usia 68 tahun merupakan perjalanan panjang yang telah membentuk Bali hingga menjadi seperti sekarang.
Karena itu, peringatan hari jadi tidak hanya dimaknai sebagai perayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk melakukan evaluasi secara kritis terhadap arah pembangunan Bali ke depan.
Sebagai lembaga legislatif, Dewa Mahayadnya mengatakan DPRD Bali memiliki fungsi pengawasan terhadap berbagai peraturan, program, serta kebijakan anggaran yang dijalankan pemerintah daerah. Pengawasan tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh kebijakan benar-benar berorientasi pada kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial.
Ia menegaskan, fungsi pengawasan DPRD juga menjadi bagian penting dalam memastikan setiap aturan yang telah disepakati dapat diterapkan secara akuntabel dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Hal tersebut mencakup berbagai persoalan strategis, mulai dari penataan tata ruang, perlindungan adat dan budaya, hingga penanganan masalah lingkungan.
Menurutnya, hubungan antara DPRD Bali dan Pemerintah Provinsi Bali perlu terus dibangun dalam semangat kemitraan yang harmonis, namun tetap kritis. Sinergi antara legislatif dan eksekutif diperlukan agar setiap kebijakan yang dirumuskan maupun dilaksanakan mampu menjawab berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di lapangan.
Ke depan, Dewa Mahayadnya berharap sinergitas tersebut semakin diperkuat guna mewujudkan Bali yang mandiri, inklusif, dan tangguh. Pembangunan Bali, kata dia, tidak cukup hanya mempertahankan keindahan alam dan identitas budaya, tetapi juga harus memastikan kesejahteraan masyarakat serta memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
“Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali hendaknya tidak berhenti pada perayaan usia daerah, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga Bali sebagai daerah yang berbudaya, sejahtera, mandiri, inklusif, dan tangguh bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster dalam pidatonya mengajak seluruh masyarakat untuk mengenang perjalanan panjang Provinsi Bali sejak pembentukannya pada 1958. Ia menilai perkembangan Bali tidak terlepas dari pengabdian para gubernur yang telah memimpin dan meletakkan dasar pembangunan Bali dari masa ke masa.
“Sejak menjadi provinsi yang bergabung dengan Provinsi NTB dan NTT, yang ditetapkan dengan Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958, kita patut mengingat jejak kepemimpinan di Provinsi Bali yang menjadi bagian sejarah perjalanan Provinsi Bali,” ujar Koster.
Koster kemudian menyampaikan tujuh nama gubernur yang telah memimpin Bali, yakni Anak Agung Bagus Suteja yang menjabat pada 1959-1965, I Gusti Putu Martha (1965-1967), Soekarmen (1967-1978), Ida Bagus Mantra (1978-1988), Ida Bagus Oka (1988-1998), Dewa Made Berata (1998-2008), dan Made Mangku Pastika (2008-2018).
Ia mengajak seluruh masyarakat Bali untuk meneruskan semangat pengabdian para pemimpin terdahulu dalam membangun daerah. Dari tujuh mantan gubernur tersebut, lima di antaranya, yakni Anak Agung Bagus Suteja, I Gusti Putu Martha, Soekarmen, Ida Bagus Mantra, dan Ida Bagus Oka, telah meninggal dunia.
Koster mengatakan dirinya bersama Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta kini mengemban amanah masyarakat untuk melanjutkan pengabdian dan ngayah secara total, baik secara niskala maupun sekala.
Menurutnya, pembangunan Bali saat ini dijalankan melalui visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” dengan Pola Pembangunan Semesta Berencana dalam Bali Era Baru. Visi tersebut menjadi landasan dalam menjaga keseimbangan pembangunan sekaligus memperkuat jati diri, budaya, lingkungan, dan kesejahteraan masyarakat Bali.
Peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali pun diharapkan menjadi momentum untuk melanjutkan semangat pengabdian para pendahulu sekaligus memperkuat kolaborasi seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan pembangunan Bali yang berkelanjutan. (LE)







