Jakarta, LenteraEsai.id – Yayasan Puri Kauhan Ubud kembali menggelar Sastra Saraswati Sewana yang ke-6 di Wantilan Pura Tirta Empul Tampaksiring, Gianyar, Bali yang bertepatan pada hari Soma Paing Langkir, Purnama Kasa, Senin (29/6).
Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud Anak Agung Ngurah Ari Dwipayana dalam keterangan di Jakarta, Rabu, menyampaikan bahwa kegiatan ini mengangkat tema ‘Cakrawala Mandala Dwipantara’, yang dipilih untuk menghadirkan kembali warisan pemikiran Nusantara sebagai sumber inspirasi untuk menjawab tantangan masa kini dan masa depan.
“Konsep Mandala memiliki akar panjang pada sejarah Asia yang bersumber pada nilai-nilai ajaran Hindu dan Buddha,” katanya.
Gung Ari, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa pada sekitar abad ke-4 Sebelum Masehi (SM) Kautilya pada masa pemerintahan Chandragupta Maurya menulis teori Raja Mandala yang tertuang pada kitab Artha Sastra. Teori Raja Mandala dari Kautilya sering dianggap sebagai salah satu teori geopolitik dan hubungan internasional paling awal di dunia.
Berabad-abad kemudian, lanjut dia, Sri Maharaja Kertanegara, Raja terakhir Kerajaan Singashari mengembangkan gagasan Mandala dalam konteks negara kepulauan. Dalam pemikiran Kertanegara, Mandala tidak hanya dipahami sebagai ruang spiritual, tetapi juga sebagai visi geopolitik yang memandang kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan peradaban.
“Laut bukanlah pemisah, melainkan penghubung. Pulau-pulau bukanlah fragmen yang tercerai, tetapi simpul-simpul yang membentuk satu cakrawala kebudayaan. Konsep Mandala dari Sri Maharaja Kertanegara adalah gagasan otentik Nusantara. Melalui konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, kepulauan yang terpisah-pisah dipandang sebagai satu kesatuan maritim, kebudayaan, dan peradaban,” ujarnya.
Gung Ari menegaskan bahwa dalam konteks Indonesia hari ini, gagasan Sri Kertanegara tersebut tetap relevan. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, masyarakat memerlukan cara pandang yang mampu mempersatukan keragaman, membangun solidaritas antarpulau, dan memperkuat identitas kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai luhur Nusantara.
Pada acara Pembukaan Sastra Saraswati Sewana juga dipentaskan napak pertiwi tarian topeng Sri Aji Dalem Jawi. Sosok Sri Aji Dalem Jawi merupakan simbol personifikasi semangat Raja Jawa yang sepanjang sejarah memiliki visi besar membangun persatuan Nusantara
Selain itu, sebagai bagian dari rangkaian acara hari ini, Yayasan Puri Kauhan Ubud menganugerahkan Sastra Saraswati Sewana Nugraha kepada dua tokoh yang telah mendedikasikan hidupnya bagi ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan pengabdian kepada masyarakat Bali, yaitu Sang Sampun Lepas I Gusti Bagus Sugriwa dan Ida Wayan Oka Granoka.
Pada puncak acara pembukaan Sastra Saraswati Sewana 2026, Yayasan Puri Kauhan Ubud menyelenggarakan Dharma Panuntun yang mengundang Para Wiku dan Para Wikan untuk mendiskusikan topik: “Bhuwana Sarira Mandala”. (LE)
Source: ANTARA







