Jakarta, 19/5 (ANTARA/LE) – Pariwisata Indonesia, sebagai salah satu sektor vital perekonomian, telah menjadi salah satu penggerak utama dalam penciptaan lapangan kerja dan pendapatan negara. Sejak pandemi COVID-19 mereda, sektor wisata di negeri ini menunjukkan pemulihan signifikan.
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf) mencatat pada 2023 sektor wisata menyumbang pendapatan devisa sebesar 14 miliar dolar AS dari 11,68 juta wisatawan mancanegara, sementara kontribusinya terhadap PDB mencapai 3,83 persen.
Hingga April 2024, sektor wisata Indonesia terus berkembang dengan 1,07 juta wisatawan mancanegara dan di tahun sebelumnya tercatat 749,1 juta perjalanan wisata domestik.
Seiring dengan pertumbuhannya yang pesat, dunia pariwisata dihadapkan pada berbagai tantangan yang tidak hanya mempengaruhi keberlanjutan industri wisata itu sendiri.
UNESCO, dalam laporan terbarunya tentang pariwisata dunia, mengidentifikasi lima isu utama yang mengancam keberlanjutan pariwisata global.
Isu soal overtourism, dimana jumlah wisatawan melebihi kapasitas suatu objek wisata, perubahan iklim yang mempengaruhi situs warisan dunia, komodifikasi budaya, kerusakan lingkungan akibat pariwisata, dan ketimpangan ekonomi-sosial yang diakibatkan oleh pariwisata massal.
Overtourism di Indonesia, yang sering kali terjadi pada musim liburan, mengancam kelestarian lingkungan dan kualitas hidup masyarakat lokal di objek wisata populer, seperti Bali, Yogyakarta, dan Labuan Bajo.
Fenomena ini bukanlah kondisi permanen, melainkan dipicu oleh lonjakan wisatawan pada periode tertentu, yang memberikan tekanan besar pada infrastruktur dan alam.
Negara-negara, seperti Spanyol, Kroasia, Islandia, dan Thailand, telah berhasil mengelola overtourism dengan sistem pembatasan jumlah pengunjung, promosi objek wisata alternatif, serta penerapan pariwisata berkelanjutan dan edukasi wisatawan.
Indonesia dapat belajar dari keberhasilan ini dengan mengimplementasikan sistem reservasi berbasis teknologi, memperkenalkan objek wisata baru, dan mengedukasi wisatawan agar lebih bertanggung jawab.
Dengan pendekatan berbasis data dan teknologi, serta kolaborasi yang lebih baik, Indonesia dapat mengatasi tantangan ini dan menciptakan pariwisata yang berkelanjutan, menguntungkan, dan menjaga kelestarian alam serta budaya lokal.
Perubahan iklim
Perubahan iklim merupakan tantangan global yang mempengaruhi sektor pariwisata, terutama objek wisata alam yang rentan terhadap dampak lingkungan, seperti peningkatan suhu, mencairnya es di kutub, dan efek rumah kaca.
Beberapa negara telah berhasil mengelola dampaknya dengan pendekatan inovatif, seperti Costa Rica yang menerapkan sistem sertifikasi pariwisata berkelanjutan dan Maladewa yang berinvestasi dalam restorasi ekosistem dan pengurangan emisi karbon di resort-resort mereka.
San Vicente di Filipina mengembangkan proyek ecotown berbasis ekowisata dengan melibatkan masyarakat lokal, sementara Bahamas fokus pada manajemen terumbu karang untuk menghadapi badai tropis yang semakin sering terjadi.
Di Jerman, wilayah Spessart mengalihkan pariwisata musim dingin ke pariwisata sepanjang tahun dengan mengembangkan jalur hiking dan bersepeda, mengurangi ketergantungan pada salju.
Dari keberhasilan ini, Indonesia dapat mengadopsi pendekatan berbasis keberlanjutan dengan mengembangkan sistem sertifikasi pariwisata berkelanjutan, memperkuat restorasi ekosistem, serta mempromosikan ekowisata dengan melibatkan komunitas lokal dalam pengelolaan objek wisata.
Selain itu, Indonesia perlu memperkuat pengelolaan infrastruktur ramah lingkungan dan mendorong diversifikasi produk pariwisata untuk meningkatkan ketahanan sektor pariwisata terhadap perubahan iklim.
Komodifikasi budaya
Komodifikasi budaya dalam pariwisata adalah proses mengubah elemen-elemen budaya lokal, seperti seni, ritual, dan tradisi, menjadi produk komersial yang dikonsumsi wisatawan, yang sering kali mengarah pada hilangnya makna asli budaya tersebut.
Dalam era globalisasi dan kemajuan teknologi, budaya lokal dapat tersebar dan dikonsumsi secara massal, menyebabkan homogenisasi budaya dan kehilangan keaslian.
Beberapa negara berhasil mengelola fenomena ini dengan pendekatan berbasis keberlanjutan dan pemberdayaan komunitas.
Di Mexico, pariwisata berbasis komunitas di Semenanjung Yucatán memberi masyarakat adat kesempatan untuk mengelola objek wisata mereka, sehingga mereka dapat mempertahankan tradisi dan memperoleh manfaat ekonomi.
Di Botswana, pariwisata berbasis desa memberdayakan komunitas lokal, terutama perempuan, dengan pelatihan keterampilan dan kewirausahaan.
Sementara itu, Abu Dhabi mempromosikan pariwisata budaya dengan investasi besar dalam infrastruktur budaya, seperti Louvre Abu Dhabi, yang memperkenalkan warisan lokal kepada dunia, tanpa mengorbankan identitas budaya mereka.
Di Bali, Panglipuran memberikan contoh baik dalam mengelola komodifikasi budaya, di mana desa ini telah berhasil menjaga keaslian tradisi mereka sambil memperkenalkan budaya Bali kepada wisatawan.
Masyarakat desa Panglipuran aktif dalam pengelolaan wisata, mempertahankan adat dan budaya asli mereka, serta melibatkan wisatawan dalam kegiatan budaya yang mendidik, seperti upacara adat dan kerajinan lokal, tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisional.
Pendekatan seperti itu dapat saja menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia dalam mengelola komodifikasi budaya dan sosial di sektor pariwisata.
Pariwisata hijau
Negara-negara, seperti Costa Rica dan Islandia, telah berhasil mengelola kerusakan lingkungan dan degradasi ekosistem akibat pariwisata dengan menerapkan kebijakan pariwisata berbasis ekowisata dan keberlanjutan.
Costa Rica, misalnya, mengembangkan sistem sertifikasi pariwisata berkelanjutan yang mempromosikan ekowisata dan pelestarian alam, serta melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan objek wisata untuk memastikan bahwa keuntungan pariwisata dapat dinikmati secara adil oleh komunitas.
Islandia juga berhasil mengelola kerusakan lingkungan dengan mempromosikan objek wisata alternatif yang tidak membebani ekosistem utama, serta menerapkan kebijakan konservasi yang ketat untuk melindungi sumber daya alamnya.
Di Indonesia, Labuan Bajo adalah contoh keberhasilan dalam pengelolaan lingkungan pariwisata, di mana pemerintah dan masyarakat lokal bersama-sama menjaga keberlanjutan ekosistem Taman Nasional Komodo melalui regulasi ketat terhadap jumlah pengunjung dan upaya konservasi terumbu karang.
Solusi yang dapat diambil Indonesia adalah memperkuat kebijakan pariwisata berkelanjutan dengan mengutamakan prinsip ekowisata, serta memberdayakan masyarakat lokal dalam pengelolaan objek wisata. Sebut saja kebijakan Pariwisata Hijau.
Dengan memberikan pelatihan kepada masyarakat lokal, meningkatkan kapasitas mereka dalam pengelolaan pariwisata, dan memastikan mereka mendapatkan manfaat ekonomi yang adil, Indonesia dapat mengurangi ketimpangan sosial dan ekonomi yang sering terjadi akibat pariwisata massal.
Pengelolaan infrastruktur
Beberapa negara telah berhasil mengelola infrastruktur dan SDM pariwisata mereka dengan baik.
Singapura, misalnya, telah berhasil membangun infrastruktur pariwisata kelas dunia dengan sistem transportasi publik yang efisien, fasilitas ramah wisatawan, serta pusat pelatihan yang fokus pada peningkatan keterampilan SDM pariwisata.
Jepang juga terkenal dengan pengelolaan infrastrukturnya yang luar biasa, termasuk sistem kereta cepat dan fasilitas yang mendukung wisatawan.
Selain itu, Thailand berhasil meningkatkan kapasitas SDM dengan program pelatihan yang intensif di berbagai sektor pariwisata, dari pemandu wisata hingga layanan hotel.
UNESCO menyarankan bahwa pengelolaan pariwisata yang efektif memerlukan peningkatan kapasitas SDM, dan untuk itu, Indonesia perlu merumuskan kebijakan pendidikan tentang kepariwisataan sejak usia dini, serta meningkatkan pelatihan dan sertifikasi SDM di bidang pariwisata.
Pariwisata Indonesia telah menunjukkan pemulihan signifikan pasca-pandemi, dengan kontribusi besar terhadap perekonomian dan penciptaan lapangan kerja.
Sektor ini menghadapi sejumlah tantangan besar, seperti overtourism, dampak perubahan iklim, komodifikasi budaya, serta kerusakan lingkungan.
Untuk menghadapinya, Indonesia perlu mengadopsi prinsip pariwisata berkelanjutan dengan menerapkan kebijakan berbasis ekowisata, memberdayakan masyarakat lokal, serta memperkuat pengelolaan infrastruktur dan sumber daya manusia.
Dengan memanfaatkan teknologi dan belajar dari praktik terbaik internasional, Indonesia dapat menciptakan pariwisata yang lebih bertanggung jawab dan menguntungkan dalam jangka panjang. (ANT/LE)







