Berbekal Resep Warisan, Sand Donuts Melesat Jadi UMKM Tumbuh dan Tangguh

Produk kuliner Sand Donuts yang menjadi pilihan sehat warga Denpasar (Foto: Dok LenteraEsai/Tri Vivi Suryani)

Denpasar, LenteraEsai.id – Hujan turun di pagi yang masih remang-remang. Suara air hujan berjatuhan menderakkan dahan pohon mangga yang tumbuh di sisi timur sebuah dapur, yang diterangi lampu yang menyala benderang. Di dapur itu, terdengar suara nyaring tatkala wajan penggorengan tengah beradu dengan spatula.

Udara terasa dingin menggetarkan tulang, sehingga sebagian besar warga Denpasar masih berkubang di tempat tidur dengan menarik selimut di tengah hari yang gelap itu. Namun tidak demikian halnya dengan yang dilakukan Ni Ketut Nuria Stuti (46). Ibu dua anak ini sudah sibuk sejak berjam-jam lalu untuk mempersiapkan dagangan donat. Semenjak pagi buta pukul 03.00 Wita, Nuria sudah ‘mengulet’ tepung terigu agar menjadi pulen, kemudian ditambahkan campuran kentang, gula dan susu.

Bacaan Lainnya

“Setiap hari, saya menghabiskan sekitar lima kilogram tepung terigu untuk bahan baku donat. Kekhasan donat buatan saya adalah dicampur bahan baku kentang pilihan, memakai gula asli dan sama sekali tidak memakai bahan pengawet. Kalau dimasukkan kulkas, donat itu bisa tahan empat hari. Kalau diletakkan di luar kulkas, ya tahan sampai tiga hari saja. Kan tidak memakai pengawet soalnya,” jelas Nuria dengan antusias, ketika membuka percakapan pada pewarta Media LenteraEsai di rumahnya yang terletak di Jalan Tukad Nyali, Renon, Denpasar, pada Rabu (21/8/2024).

Namun, sikap antusias itu seketika luruh ketika ditanyakan asal muasal dirinya menekuni usaha kuliner donat. Dengan wajah sendu, Nuria kemudian mengisahkan bahwa usaha kue yang ditekuni sebenarnya merupakan warisan dari mendiang suaminya, Ketut Sukarja. Semasa masih hidup, Ketut Sukarja bekerja di sebuah hotel di kawasan Nusa Dua, yang bertugas di bagian bakery. Kepiawaian sang suami mengolah beragam kue khas Indonesia maupun kuliner mancanegara, membuat Nuria kemudian mengusulkan pada suaminya supaya membuat usaha kue skala rumahan untuk dijajakan pada kenalan atau keluarga.

“Kami kemudian membuka usaha kue dengan mengusung nama Sun Bakery pada tahun 2019 dengan modal pembelian bahan baku sekitar Rp 500 ribu. Saat itu, yang dijual adalah roti vegetarian, beragam donat, roti Perancis dan berbagai macam roti kekinian lainnya. Sambutan pasar cukup bagus. Kami kemudian berbagi peran, di mana suami bagian produksi sedang saya mengkhusus bidang pemasaran supaya pembelinya bisa meluas,” kata Nuria mengenang masa-masa awal usahanya.

Suatu ketika, suaminya memutuskan untuk bekerja di kapal pesiar agar perekonomian keluarga makin meningkat. Dan saat Ketut Sukarja sedang bekerja di tengah laut itu, mendadak ada pesanan kue dalam jumlah yang cukup besar. Nuria sempat dilanda bimbang, namun kemudian nekat memutuskan untuk menerima pesanan karena memang tidak ingin usaha kue rumahan itu berhenti di tengah jalan. Dengan menggunakan handphone, wanita itu kemudian dipandu Ketut Sukarja mengenai tata cara membuat kue pesanan sebanyak 500 pieces. Ternyata, panduan secara online ini berhasil. Kue pesanan berhasil diselesaikan dengan baik.

Setahun berselang, tiba waktunya Ketut Sukarja mendarat. Pria itu lantas memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya selagi berada di darat. Ketut Sukarja kemudian menggembleng sang istri supaya makin mumpuni membuat kue. Bahkan, cara mengajar Ketut Sukarja cukup tegas dan keras, dengan harapan supaya Nuria segera terampil membuat kue, sehingga ketika ditinggal bekerja kembali di kapal pesiar, Nuria tidak lagi keteteran mengenai tata cara membuat kue yang enak. Bahkan tidak cukup hanya dengan mengajar langsung, Ketut Sukarja juga menuliskan berbagai macam resep dan ditempel di pintu dapur. Tujuannya supaya ketika ada pesanan kue, istrinya tidak sibuk menelponnya untuk menanyakan apa saja bahan baku dan cara memasaknya.

Sejumlah resep kue warisan Ketut Sukarja, sebagai cikal bakal terbentuknya Sand Donuts – (Foto: Dok LenteraEsai/Tri Vivi Suryani)

Berkat gemblengan inilah, akhirnya Nuria mampu menyelesaikan pembuatan beragam kue tanpa lagi digelayuti kekhawatiran rasa kuenya kurang pas, atau gagal dalam pembuatan. Melihat istrinya telah mampu membuat berbagai macam kue, Ketut Sukarja menjadi tenang karena berkeyakinan usaha Sun Bakery bisa dilanjutkan istrinya. Pria ini kemudian mempersiapkan diri untuk melaut kembali.

Namun, malang tidak dapat ditolak. Seminggu sebelum keberangkatan untuk melaut, Ketut Sukarja mendadak pingsan dan ketika dibawa ke rumah sakit, ternyata nyawanya tidak dapat diselamatkan lagi. Kepergian Ketut Sukarja ini, membuat dunia Nuria seolah runtuh. Dia bingung bagaimana kelanjutan nasib keluarganya, mengingat masih ada dua orang anak yang harus ditanggung biaya hidup dan pendidikannya.

“Dari sinilah, saya kemudian memantapkan diri untuk fokus menekuni usaha kue. Saya mati-matian mengulang belajar kembali dan mempraktikkan dengan acuan resep yang ditempel suami di pintu dapur. Usaha rumahan ini istilahnya ya baru sebatas dari mulut ke mulut, saya memasarkan ke teman, keluarga atau kenalan saja. Omzet secukupnya, kisaran tujuh jutaan per bulan saat itu,” kata Nuria.

Sampai suatu hari, tanpa sengaja ia melihat informasi mengenai kegiatan Sahabat Pegadaian dari media sosial, karena selama ini Nuria memang menjadi nasabah Pegadaian. Dia merasa tertarik, dan sempat membahas dengan sejumlah temannya sesama pelaku UMKM. Atas dasar ketertarikan ini, Nuria kemudian mendatangi kantor Pegadaian yang terletak di Jalan Raya Puputan, Denpasar. Sesampai di kantor Pegadaian, Nuria cukup aktif menanyakan mengenai sejumlah program Sahabat Pegadaian. Nuria merasa tidak salah pilih mendatangi kantor Pegadaian, mengingat banyak informasi bisnis yang kemudian didapatkannya. Dia kemudian mendapatkan tawaran untuk mengikuti program Sahabat Pegadaian yang dilaksanakan di Kintamani.

Bertemu sesama rekan pelaku UMKM di Kintamani, benar-benar membuka mata Nuria untuk mengepakkan sayap di dunia usaha, mengingat berbagai materi bisnis yang ‘up to date’ didapatkan pada pertemuan itu. Seperti, mengenai pembukuan yang tepat agar usaha bisa dijalankan profesional, serta pemasaran digital supaya usaha tidak hanya dikenal dari mulut ke mulut saja.

Sepulang dari Kintamani, Nuria bagai dibangkitkan kembali energi bisnisnya. Semangatnya menggebu-gebu menggarap usaha kue berbekal ilmu dari pelatihan Sahabat Pegadaian.

Berselang sebulan kemudian, Nuria mendapatkan informasi tentang adanya program GadePreneur yang digagas Pegadaian. Bertekad untuk tidak main-main dalam pengembangan bisnis, Nuria kemudian mendaftar supaya bisa menjadi peserta GadePreneur.

Ribuan pelaku UMKM se-Indonesia mendaftar untuk menjadi peserta GadePreneur tahun 2023, Nuria bersyukur akhirnya Sun Bakery berhasil lolos menjadi salah satu peserta GadePreneur di Bali. Hati Nuria dipenuhi rasa syukur berbunga-bunga mendapati namanya masuk dalam 30 pelaku UMKM yang lolos program GadePreneur di Bali. Rasa syukur inilah yang membuatnya begitu antusias ketika sesi GadePreneur dimulai di Kuta, Bali pada Juli 2023.

“Masa-masa ketika mengikuti GadePreneur menjadi kesempatan emas bagi saya karena di sinilah saya diajarkan bagaimana mengemas bisnis rumahan menjadi usaha yang siap bersaing di masyarakat. Pelajaran tentang bagaimana mengelola usaha skala rumahan agar bisa maju tanpa gentar dan mampu bersaing dengan bisnis serupa di masyarakat. Jadi di sini saya digembleng untuk berinovasi dalam bisnis, menggencarkan promosi dan penjualan online agar menjangkau konsumen yang lebih luas, serta bagaimana untuk fokus mengembangkan usaha dengan skill yang kita miliki,” kata wanita lulusan sekolah menengah atas ini.

Dari 30 peserta ini, kemudian dipilih 3 besar yang dinilai berprestasi. Lagi-lagi Nuria bersyukur karena ternyata Sun Bakery masuk dalam 3 besar itu. Ketiga UMKM ini akhirnya mendapatkan kesempatan untuk sesi ‘rebranding’ usaha. Di sinilah, kemudian Sun Bakery ‘dibedah’ tim Pegadaian. Ketika dicek ke Hak Atas Karya Intelektual (HAKI), ternyata nama Sun sudah ada yang lebih dulu menggunakan, sehingga Nuria disarankan untuk menggantinya dengan nama lain supaya usahanya bisa didaftarkan di HAKI.

Selain itu, Nuria juga disarankan untuk fokus pada salah satu kue saja, sehingga hasilnya bisa lebih maksimal. Setelah memperpertimbangkan bahwa selama ini konsumen lebih banyak yang memesan donat, akhirnya dia memutuskan untuk lebih mengembangkan donat sebagai dagangan andalan.

Sementara mengenai nama usaha, setelah menghubungi anak-anaknya, Nuria kemudian mendapatkan masukan supaya memakai nama SAND Donuts saja. Mengapa Sand? Makna ‘sand’ berarti pasir, yang letaknya di bawah, sehingga Nuria berharap supaya ke depannya usaha donatnya bisa membumi dan lebih menyebar serta diterima konsumen yang lebih luas.

Kebahagiaan Ni Ketut Nuria Sturi karena berhasil mewujudkan mimpi memiliki gerai kuliner Sand Donuts – (Foto: Dok LenteraEsai/Tri Vivi Suryani)

“Jadi dari GadePreneur ini, saya mendapatkan dukungan berupa pendaftaran HAKI atas nama Sand Donuts, serta desain logo yang lebih fresh dengan menggunakan ombak dan lautan karena saya memang latar belakangnya anak laut. Rumah tinggalnya tidak jauh dari laut. Selain itu, saya juga mendapatkan boks atau wadah donut, banner Sand Donuts, kartu nama dan tentu saja keilmuan yang sangat bernilai. Terima kasih Pegadaian, yang selanjutnya telah melengkapi usaha saya dengan peralatan showcase dan oven. Sungguh dukungan yang benar-benar memberkahkan usaha saya,” ujar Nuria dengan penuh suka cita.

Kini, usaha Sand Donuts telah menempati sebuah kios di bilangan Sidakarya, Denpasar, sejak November 2023. Cita rasa donatnya pun lebih variatif dengan adanya pilihan: tiramisu, coklat, green tea, taro, stroberi, avocado, cappuccino dan vanilla. Harganya tetap ‘ramah’ di kantong konsumen, yakni Rp 2.500 per donat.

“Saya tiada henti bersyukur, berkat mengikuti program GadePreneur, benar-benar terasa ‘memoles’ usaha saya sehingga lebih kinclong. Sekarang omzet naik drastis setelah dipromokan influencer yang disiapkan Pegadaian. Kalau dulu omzet kisaran Rp 7 jutaan, sekarang lebih dari dua kali lipatnya. Omzet naik menjadi Rp 16 jutaan sebulan. Kadang malah lebih kalau ada momen khusus misalnya tahun baru atau mendekati hari raya di Bali. Malah omzetnya bisa sampai Rp 20 juta. Tapi tidak semua order saya ambil kalau mendekati hari raya, nanti giliran saya yang tidak bisa mempersiapkan hari raya bersama keluarga,” kata Nuria.

Pada akhir perbincangan, Nuria sekali lagi menyatakan rasa terima kasihnya pada Pegadaian yang telah membangkitkan usahanya dan makin diterima masyarakat dengan pemasaran yang maksimal. “Bahkan, setelah Sand Donuts masuk WA katalog Pegadaian, jadinya makin banyak pelanggan baru yang memesan produk kuliner kami. Setiap hari selalu ada saja yang mendadak menghubungi, misalnya dari kalangan hotel, vila atau bahkan beach club sekelas Atlas pun selalu memesan kalau ada momen khusus. Ya, berkat promo gencar dari Pegadaian untuk UMKM, usaha rumahan menjadi lebih dikenal. Terima kasih Pegadaian,” ujar Nuria terharu, seraya berharap ke depan bisa membuka kios donat lagi di Denpasar sehingga usaha Sand Donuts bisa dikenal menjadi salah satu oleh-oleh khas Denpasar.

Rumah UMKM Indonesia

Kabag Humas Pegadaian Kanwil VII Denpasar Komang Hary Wibawa menyebutkan bahwa GadePreneur adalah program pelatihan bisnis dan pembinaan intensif dari PT Pegadaian, yang menghadirkan sejumlah mentor mumpuni dan berpengalaman. GadePreneur sejak awal telah digagas agar menjadi rumah bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Tujuannya untuk mendorong kemandirian, meningkatkan kualitas, produktivitas, daya saing, jaringan bisnis, serta akses pasar bagi UMKM di Indonesia.

Syarat bagi pelaku UMKM yang ingin mengikuti GadePreneur adalah mempunyai usaha yang telah berjalan minimal selama 6 bulan dan usia pelaku usaha maksimal 50 tahun.

“GadePreneur  menjadi wadah atau payung besar yang dibentuk oleh Pegadaian, yang memberikan berbagai program pelatihan dan pengembangan UMKM yang berada di 12 lokasi di seluruh Indonesia. Adapun pesertanya merupakan nasabah Pegadaian, agen, mitra bisnis, maupun masyarakat umum yang ingin meningkatkan kompetensi kewirausahaan. Jadi GadePreneur menjadi ruang bagi para pelaku UMKM untuk mendapatkan pembekalan ilmu, bagaimana caranya membangun sebuah usaha dari mulai re-branding produk, memperluas bisnis dan akses pasarnya, hingga peningkatan produktivitas usaha, namun tanpa meninggalkan ciri khas dari masing-masing UMKM,” kata Komang Hary.

Menurut Komang Hary, ketika mencermati peserta GadePreneur tahun lalu, dirinya menyatakan terkesan dengan usaha Sand Donuts dikarenakan Ketut Nuria memperlihatkan kesungguhannya sepanjang diberikan pelatihan. “Lagi pula, produk Bu Nuria itu donat yang berkualitas, yang dipersembahkan untuk masyarakat yang memang menjaga pola hidup sehat, dikarenakan tidak menggunakan pewarna makanan sembarangan, tidak memakai pengawet maupun gula sintetis,” katanya.

Hanya saja, lanjut Komang Hary, memang pada awal pengembangan usaha, tim Pegadaian melihat ada hal masih patut dibenahi dari usaha Sand Donuts, yakni masih belum maksimal dari sisi manajerial usaha, sehingga pengemasan, branding dan lainnya belum tergarap maksimal. Setelah mengikuti event GadePreneur, dirinya menilai kalau saat ini Sand Donuts menjadi kian berkembang dan telah familiar di kalangan masyarakat pencinta kuliner sehat.

“Produk Sand Donuts menggunakan bahan natural, sehingga aman-aman saja bagi yang mengkonsumsi dan tidak berdampak buruk bagi kesehatan,”  kata Komang Hary.

Berikutnya Komang Hary menguraikan harapan supaya ke depan para pelaku UMKM dapat makin ‘digdaya’ dan terus bertumbuh bersama Pegadaian. “Astungkara Pegadaian adalah oase untuk menjadi kelas penggemblengan. Pada saat telah lulus dari kelas yang kami selenggarakan, UMKM mampu mengepakkan lini usaha tidak hanya di ranah lokal, namun mampu berkibar hingga mancanegara. Menjadi UMKM yang menjiwai spirit untuk terus tumbuh dan tangguh bersama Pegadaian,” harap Komang Hary.

Persiapkan UMKM Naik Kelas

Kepala Dinkop UKM Provinsi Bali I Wayan Ekadina ketika dikonfirmasi Senin (26/8/2024) menyebutkan bahwa saat ini tercatat ada 42.828 unit usaha yang ada di seluruh Pulau Bali, yang sebagian besar didominasi oleh usaha berbasis kuliner.

Sayangnya, lanjut Wayan Ekadina, sebagian dari usaha-usaha tersebut masih ‘jalan di tempat’ atau tidak berkembang secara signifikan. “Setelah ditelusuri, ternyata masih ada kendala seperti kurang kompetensi dari sisi skill. Selain itu, pola pengelolaan usaha juga masih campur aduk. Misalnya ada uang hasil penjualan, tetapi langsung dipakai untuk kebutuhan sehari-sehari. Padahal mestinya ada penyisihan uang, sehingga menjadi jelas mana untuk usaha dan mana untuk keperluan pribadi,” katanya.

Wayan Ekadina menyatakan, sebagai langkah antisipasi maka sejak tahun 2023 telah diadakan peningkatan kompetensi untuk mengelola usaha supaya lebih profesional dan tertata. “Yang kami temui, para pelaku usaha masih banyak yang belum memikirkan keberlanjutan usaha. Perencanaannya belum matang. Kami melakukan pendampingan supaya usaha mereka tetap bisa survive dan terus maju di masa-masa yang akan datang, yang tentunya harus didukung dengan langkah-langkah inovasi,” katanya.

Sebagai langkah konkret, menurut Wayan Ekadina, pelatihan untuk para pelaku usaha telah diterapkan dengan sistem jemput bola dengan hadir secara langsung ke desa-desa, melalui kegiatan PKK.

Atas inovasi melakukan sistem pelatihan jemput bola ini, maka saat dilakukan evaluasi antara TP PKK se-Indonesia bersama Staf Kepresidenan pada tahun lalu, akhirnya Bali dinyatakan melakukan sistem edukasi terbaik sehingga patut menjadi contoh bagi daerah-daerah lain di Indonesia.

Tidak mau terjebak dengan pujian semata, maka Wayan Ekadina berupaya terus menggenjot supaya UMKM Bali terus berbenah dan dapat segera naik kelas. “Apa kendalanya, seyogyanya dapat kami jembatani. Makanya ketika turun ke daerah, kami juga mengajak serta pihak perbankan supaya ketika ada yang terkendala permodalan, maka dapat bertemu langsung antara pelaku UMKM dan bank. Dengan demikian ada penjelasan dari perbankan pada pelaku UMKM bagaimana mekanisme mengakses supaya dapat pinjaman untuk modal usaha,” katanya.

Wayan Ekadina terutama menekankan faktor inovasi sehingga usaha UMKM mampu bertumbuh dan melesat, dengan mampu mengatasi setiap permasalahan yang menghadang. “Pokoknya do the best dan miliki daya saing dengan produk yang inovatif, sehingga pada saatnya UMKM Bali bisa naik yang tadinya usaha mikro bisa menjadi kelas menengah. Asal digarap serius, inovatif dan tidak gampang menyerah setiap ada problema, pasti  nanti menemui kemajuan. Kami bersyukur, melalui sejumlah program pendampingan, UMKM di Bali mulai mengeliat untuk melaju maju. Seperti usaha dupa organik, kalau kuliner salah satunya Sand Donuts juga kami cermati terus  bertumbuh, serta sejumlah pelaku UMKM lain kini makin terlihat semangatnya untuk tak henti memperbaiki diri,” katanya.

Pewarta: Tri Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan

Pos terkait