HeadlinesNasionalNews

Perjuangan Teduh Agustia Agar Anak Suku Bajau Bisa Baca Tulis

Kendari, 30/6 (ANTARA/LE) – Satu senja yang meneduhkan di penghujung bulan Juni 2024. Senja yang dihiasi riak gelombang di langit berwarna jingga dan gemerisik dedaunan ditiup angin semilir.

Senja itu memang angin bertiup di pesisir Wakatobi, menambah keseruan anak-anak Suku Bajau belajar membaca dan menulis di salah satu teras rumah warga di Desa Mola Nelayan Bakti, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, bersama dengan satu komunitas sosial.

Sekolah nonformal di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, yang terbentuk sejak tahu 2022 merupakan sekolah berjalan yang mengajar anak-anak pesisir menggunakan metode pembelajaran, sesuai dengan keseharian masyarakat Suku Bajau yang nomaden dan berjalan-jalan.

“Jadi, ini sudah memasuki dua tahun terus untuk sekolah berjalan sendiri sejarahnya sebenarnya awal mulanya itu sasaran kami bukan di Bajo tapi di desa-desa yang ada di darat,” kata penggagas Sikola Bajalan Agustia dengan mencerminkan kekukuhan perjuangan dengan sikap santun meneduhkan.

Dipilihnya teras rumah warga untuk mengajar anak-anak Suku Bajau membaca maupun menulis itu dipilih agar dapat menyentuh langsung anak-anak yang mempunyai keinginan untuk belajar bersama.

Jika menggunakan ruangan tertutup, biasanya anak-anak itu tidak akan betah dengan karena bertentangan dengan keseharian mereka yang terbiasa hidup di alam bebas.

Awal dibentuknya Sikola Bajalan itu karena ada kekhawatiran setelah masa pandemi COVID-19, anak-anak tidak bisa membaca dan menulis karena sekolah tidak berjalan secara normal. Selain itu, ada keluhan beberapa orang tua terkait anaknya yang sudah kelas 4, 5, dan 6, yang belum memahami kosakata.

Berangkat dari beberapa masalah tersebut, muncullah niat Agustia untuk membuat sekolah nonformal. Sekolah itu dimulai di Desa Wandokaa, Kecamatan Wangi-wangi Selatan. Setelah dua pekan berjalan, sekolah itu mulai dikembangkan ke desa-desa lain agar anak-anak yang mengalami permasalahan serupa dapat diatasi dengan metode pembelajaran yang tidak formal.

Agustia mencatat sebenarnya ada beberapa desa yang anak-anaknya mengalami kondisi serupa terkait pendidikan, antara lain Desa Tindoi Timur, Wandokaa, dan Desa Mola.

Desa Mola dipilih karena masih banyak anak-anak di daerah tersebut yang tidak bersekolah, putus sekolah. Dari mereka, banyak yang tidak bisa membaca. Bahkan, setiap pekan ada anak yang keluar dari sekolah, dengan alasan mereka harus ikut orang tuanya pergi mencari ikan di laut daerah lain yang jauh dari tempat tinggal mereka.

Orang Bajau hidupnya nomaden dan di musim-musim tertentu orang tuanya membawa anaknya ke daerah Tomia, untuk memancing dan berlangsung berbulan-bulan atau di musim-musim tertentu mereka akan pergi ke daerah Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan keadaan seperti itu, maka anak-anak tidak masuk ke sekolah. Karena tanpa kabar atau izin, pada akhirnya pihak sekolah menganggap mereka ini sudah berhenti sekolah. Karena itu, ketika mereka pulang sudah tidak melanjutkan lagi sekolahnya.

Seiring berjalannya waktu, sekolah nonformal itu telah mendampingi dua desa, yakni Desa Mola Nelayan Bakti dan Desa Mola Selatan. Dari dua desa itu awalnya ada sekitar 100 anak yang belajar, namun jumlah kemudian berkurang.

Satu hal yang berbeda dalam pembelajaran di sekolah itu adalah metode yang digunakan yang berbeda dengan cara pembelajaran anak-anak di darat. Anak-anak Suku Bajau, yang kesehariannya di laut tidak cocok dengan metode-metode pembelajaran dengan pola di darat.

Agustia dan tim kemudian membuat dan menggunakan metode mendongeng, dengan isi cerita sesuai dengan karakter anak-anak laut itu. Materi dongeng itu bercerita mengenai kehidupan masyarakat Bajau, tentang bagaimana anak-anak nelayan, cara mencari ikan, dan lain sebagainya.

Selain itu juga dibuatkan permainan dengan tema mengenai kehidupan di laut dan nelayan. Pembelajaran itu memuat mengenai jenis-jenis ikan dalam Bahasa Indonesia, sehingga anak Suku Bajau itu tidak hanya tahu jenis ikan dalam bahasa ibu mereka. Selain nama-nama ikan, mereka juga diajari sebutan untuk bagian-bagian dari ikan.

Agustia mempunyai cita-cita dan keinginan agar model sekolah yang digagasnya itu juga diterapkan di daerah lain yang basis masyarakatnya berada di pantai atau laut.

Saat ini, sekolah nonformal di Desa Mola Nelayan Bakti dan Mola Selatan itu dilakukan sekali pertemuan dalam satu pekan, yakni di Hari Sabtu dan Minggu. Hal itu dilakukan menyesuaikan dengan jumlah sukarelawan yang terlibat untuk mendampingi anak-anak Bajau itu belajar. Dari total sukarelawan 50 orang, yang saat ini aktif sekitar 10 hingga 20 orang.

Para sukarelawan itu berasal dari beragam jenjang pendidikan, terutama lulus SMA. Selain itu ada yang aktivis, mahasiswa, hingga terdapat juga aparatur sipil negara atau ASN. Dalam perekrutan sukarelawan, tidak terlalu memprioritaskan jenjang pendidikan, namun lebih pada kerelaan diri untuk membantu anak-anak Suku Bajau bertumbuh dan berkembang pengetahuannya.

Untuk lebih mendekatkan program itu dengan masyarakat, Agustia berencana merekrut kaum muda Suku Bajau sendiri, sehingga lebih leluasa untuk mengajar adik-adiknya. Meskipun demikian, masyarakat dari luar suku itu tetap akan diberi kesempatan untuk ikut andil dalam perjuangan mencerdaskan anak bangsa di sekolah itu.

Sementara itu, salah seorang warga Mola Nelayan Bakti yang juga masyarakat Suku Bajau Wa Susi menyampaikan bahwa pihaknya selalu menyediakan teras rumahnya untuk digunakan anak-anak yang mau belajar membaca dan menulis di sekolah gagasan Agustia. Bahkan, sesekali dirinya juga menyediakan makanan ringan untuk anak-anak tersebut. Apalagi anak dari Wa Susi juga ikut belajar bersama anak lainnya.

Dia menilai, metode yang digunakan oleh Agustia dan para relawannya tersebut sangat efektif bagi anak-anak Suku Bajau untuk bisa membaca dan menulis.

Aapalagi, proses belajarnya juga bisa diikuti oleh anak-anak dengan riang gembira karena menggunakan beragam metode, termasuk permainan. Apa yang dilakukan Agustia merupakan wujud kepedulian warga negara untuk ikut mencerdaskan sesamanya.

Agustia menyampaikan bahwa selama ini upaya dirinya dan pra relawan juga mendapat perhatian dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Pemerintah Kabupaten Wakatobi, yang selalu memberikan dukungan terhadap kegiatan-kegiatan.
Dia antara dukungan itu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan menyiapkan ruangan ketika anak-anak binaan mendakan kunjungan ke perpustakaan, termasuk ketika ada lomba literasi, para siswa Agustia juga dilibatkan.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pemkab Wakatobi juga memberikan dukungan, seperti kelengkapan berkas-berkas yang membutuhkan pengakuan dari instansi pemerintahan, dinas tersebut turut dilibatkan.

Keterlibatan atau kolaborasi itu bukan per hari, tapi di mana kami merasa perlu, pemerintah daerah selalu siap membantu.

Agustia juga menceritakan kesenangan para anak-anak Suku Bajau ketika diajak untuk kunjungan studi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan tersebut. Anak-anak itu tidak menyangka akan bisa memasuki gedung tersebut. Bagi SUku Bajau, itu adalah pengalaman pertama berkunjung ke kantor yang banyak tersedia buku-buku.

Sementara dari DP3A Kabupaten Wakatobi juga turut mendukung beberapa kegiatan dari sekolah itu, seperti keterlibatan sejumlah pegawai untuk berbagi cerita inspirasi kepada anak-anak Suku Bajau, yang intinya memberi semangat untuk selalu bersekolah. (ANT/LE)
​​​​​​​

Lenteraesai.id