Denpasar, LenteraEsai.id – Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Denpasar, khususnya bagian timur, nama Moh Bambang sudah lama dikenal sebagai tukang pijat mumpuni. Pasiennya setiap hari antri, mulai dari polisi, dokter, keluarga puri, anggota DPRD hingga sejumlah tokoh publik.
Para calon pasien rela menunggu sampai berhari-hari, atau antri supaya mendapat berkesempatan untuk disentuh tangan Bambang. Mereka yang datang, sangat berharap mendapat semacam anugrah keembuhan dan terbebas dari aneka penyakit yang diderita seperti kanker, maag, stroke, lumpuh, hingga penyakit ‘kiriman’ sejenis santet, teluh dan lainnya.
Ditemui ketika baru saja menangani pasien di wilayah Kesiman Denpasar baru baru ini, Bambang (62) mengisahkan perjalanannya hingga menjalani profesi sebagai tukang pijat. “Saya mulai bisa memijat sejak kelas VI SD. Tidak pakai belajar, tapi langsung bisa begitu saja,” ujar Bambang ketika menceritakan kronologi perjalanan hidupnya pada media LenteraEsai.id
Pria kelahiran Probolinggo, Jawa Timur ini meneruskan, kemampuannya memijat berawal dari sebuah mimpi aneh. Suatu ketika saat tidur, dirinya mimpi dipijat sepasang tangan gaib, berukuran sangat besar dan ia tidak bisa melihat sosok pemilik tangan itu. Kejadian mimpi ini berlangsung sampai tiga kali, dan pada mimpi yang terakhir, sepasang tangan itu memberinya sebutir telur. Ketika terbangun, betapa kagetnya Bambang saat mendapati tangannya tengah menggenggam sebuah batu bulat yang berukuran tidak terlalu besar. Pada malam Jumat Legi, batu itu selalu mengeluarkan serbuk menyerupai kapur putih. Batu itu sekarang dibawa Bambang kemanapun dirinya pergi.
Sejak mengalami mimpi dipijat sepasang tangan gaib, Bambang selalu saja mengalami peristiwa yang membuat dirinya mau tak mau harus memijat orang. Hal ini dimulai ketika tetangganya mengalami keseleo pada bagian badan dan iseng-iseng minta Bambang untuk memijat. Bambang dengan asal-asalan memijatnya. Tidak berselang lama, tetangga itu merasakan badannya sudah tersembuhkan dari kesakitan keseleo sehingga berulang kali mengucapkan terima kasih pada Bambang. Tetangga ini lantas ‘getok tular’ menceritakan pada lainnya tentang kemampuan Bambang mengobati dengan pijatan tangan.
Hampir setiap hari, Bambang pun mau tak mau harus menangani pasien dari warga di desanya. Kondisi ini tidak malah membuat Bambang bersuka cita. Sejak kecil cita-citanya adalah guru, dan ia sama sekali tidak senang dikenal sebagai tukang pijat. Akhirnya Bambang kabur ke Sidoarjo dan melamar kerja di pabrik sepatu Kasogi. Berbulan-bulan kemudian, Bambang merasakan hidupnya tenang damai sebagai karyawan pabrik dengan gaji yang lebih dari cukup.
“Sampai suatu hari, ada salah seorang teman sesama pegawai Kasogi yang merasa ada gangguan di pundaknya dan minta saya memijatnya sedikit. Saya lakukan karena kasihan. Usai saya pijat beberapa menit, teman ini merasakan badannya bugar dan sehat kembali. Akhirnya terulang lagi kisah seperti di desa. Jadi teman yang saya sembuhkan ini bercerita ke lainnya, sehingga akhirnya pada sore sepulang kerja, berjubelan orang mencari saya untuk dipijat. Saya langsung sumpek dan memutuskan menjual sepeda motor. Lagi-lagi saya kabur dan kali ini saya memutuskan pergi yang jauh sekalian, biar orang tidak tahu saya bisa memijat. Saya memutuskan pergi ke Bali,” katanya.
Setiba di Bali, Bambang memulai kehidupan baru sebagai pedagang keliling. Bambang merasa betah dan senang sekali tinggal di Pulau Dewata, yang menurutnya suasananya sangat nyaman. Setiap hari, pekerjaan Bambang adalah berkeliling menawarkan barang dagangan dari kantor ke kantor serta di wilayah perumahan yang padat penduduk.
“Lalu pada suatu pagi, saya sedang menenteng dagangan dan baru keluar dari kos. Saya kemudian menaiki sepeda motor yang penuh dagangan. Baru tiba di jalan raya, tiba-tiba saya melihat kecelakaan terjadi. Di depan saya, ada lelaki terkapar kesakitan dan beberapa orang merubungi tanpa tahu harus berbuat apa-apa. Spontan saya mendekati laki-laki itu, dan mengecek tubuhnya. Ternyata ada pergelangan kakinya yang mengalami cedera terkilir sehingga bengkak besar. Saya mengikuti arahan perasaan, memijat beberapa kali di area yang terkilir. Tidak lama kemudian keluarganya datang dan membawa laki-laki itu pulang,” ujar Bambang.
Sekitar empat hari kemudian, tidak disangka keluarga laki-laki itu datang dan menceritakan kalau sedang mencari orang di daerah Tohpati, Denpasar. “Rupanya keluarganya mencari informasi untuk mencari keberadaan saya, karena orang yang terkilir itu mengaku ke keluarganya kalau semula kakinya bengkak besar, tapi setelah saya pijat, langsung ajaib, sakitnya hilang. Kali ini keluarganya membawa pasien sakit. Tapi saya langsung bersembunyi dan menghindar, sampai akhirnya teman saya bilang: ‘Kamu jangan macam-macam jadi pendatang. Kalau kamu sampai menolak mengobati orang itu, kamu bisa dikeroyok orang se-banjar. Ingat kamu itu pendatang’. Begitu kata teman sehingga saya akhirnya menurut dan mau memijat pasien yang datang. Tapi setelah itu, saya bablas pulang ke Probolinggo,” ujar Bambang.
Setiba di Probolinggo, Bambang curhat pada ibunya bahwa ia sudah benar-benar tidak mau menjadi pemijat, tapi kenapa terus saja ada pasien mencari dirinya. “Saya sampai jual motor segala untuk pergi ke Bali, kok ternyata masih ada yang meminta tolong pada saya agar dipijat. Mending aku balik pulang saja, Mak. Begitu saya curhat sama Emak waktu itu. Tapi kemudian Emak menasihati kalau takdir hidup saya memang menjadi tukang pijat untuk menyembuhkan orang. Saya kemudian disuruh balik lagi ke Bali,” katanya.
Berbekal nasihat ibunya, akhirnya Bambang kembali lagi ke Bali dan kali ini dirinya ‘legowo’ menjadi tukang pijat. Sejak itulah, setiap hari selalu berdatangan pasien mencarinya entah mendapat informasi dari mana. Pasien itu berlatar belakang dari berbagai jenis profesi, seperti polisi, pengusaha, pemilik hotel, dokter, kalangan keluarga puri, PNS dan lainnya.
Penyakit yang diderita para pasien pun beragam. Tidak sebatas penyakit medis seperti stroke, kanker, kista, maag, hepatitis, liver, Bambang juga terbukti manjur saat mengobati orang-orang yang terkena penyakit kiriman. Misalnya, santet atau penyakit magic yang tidak terdeteksi secara medis.
“Saya bersyukur, kemampuan saya ini bermanfaat untuk menyembuhkan sesama supaya tidak lagi menderita penyakit medis atau nonmedis. Semoga saya terus bermanfaat bagi sesama,” katanya, dengan tulus menyampaikan.
Pewarta: Vivi Suryani
Redaktur: Laurensius Molan







