Ketut Rochineng: Jejak Perjuangan, Inspirasi dan Perjalanan Spiritual (1)

DR I Ketut Rochineng SH MH (Foto: Dok Pribadi)

Denpasar, LenteraEsai.id – Terlahir di Desa Petemon, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng, Ketut Rochineng sejak kecil terbiasa bergelut dengan kehidupan serba prihatin dikarenakan ayahnya meninggal dunia sejak dirinya duduk di bangku sekolah dasar.

“Saya baru duduk di kelas 2 SD ketika ayah meninggal dunia. Sebelumnya ayah bekerja sebagai pegawai kesehatan, sehingga ketika beliau meninggal dunia, ada uang pensiun untuk menopang kehidupan ibu dan anak-anaknya. Akan tetapi, uang pensiun itu sangat tidak mencukupi sebab ibu memiliki 8 orang anak. Ibu kemudian dagang di pasar, akan tetapi hasilnya sangat pas-pasan,” ujar Rochineng mengawali kisah hidup ketika ditemui di rumahnya wilayah Padang Sambian, Denpasar, baru-baru ini.

Bacaan Lainnya

Untuk menlanjutkan sekolah, Rochineng kemudian dibantu salah seorang kerabat yang tinggal di Lokapaksa, kemudian berpindah lagi ke Bubunan, tergantung siapa yang mengajak, supaya bisa menamatkan pendidikannya di sekolah dasar. Bersyukur, ia akhirnya berhasil menamatkan sekolah dasar dengan nilai yang bagus. Setamat sekolah dasar, Rochineng diajak nenek dan kakeknya dari pihak ibu, untuk tinggal bersama.

Tinggal di rumah nenek dan kakek yang kehidupannya juga serba prihatin, tidak membuat Rochineng patah semangat untuk melanjutkan sekolah di SMP terdekat. Ia kemudian mendaftar dan berhasil menjadi salah satu siswa yang diperhitungkan dikarenakan nilainya selalu lebih unggul dibandingkan teman-temannya. Keunggulan ini, membuat teman-teman SMP Rochineng banyak meminta tolong untuk diajari saat kesulitan belajar mengerjakan PR atau kalau mau ujian.

“Di sekolah SPM, saya kemudian membantu teman mencatatkan pelajaran atau memberi tahu kalau mau ujian, materi pelajaran apa saja semuanya saya kuasai. Ini membuat teman-teman kemudian patungan membiayai biaya SPP di sekolah, sehingga dengan bantuan inilah saya bisa menamatkan SMP,” kata Rochineng sambil terkekeh.

Setamat SMP, Rochineng dengan meski tetap menyadari keadaan minimnya ekonomi keluarga, tetap memutuskan melanjutkan pendidikan. Kali ini, dirinya mendaftar di SMAN 1 Seririt. Kegigihannya ingin melanjutkan sekolah, dan mengingat nilai akademisnya selalu di atas rata-rata berkisar 9-10 di raport, membuat kerabat di Petemon kemudian iba sehingga terketuk hati untuk membantu membiayai sekolah Rochineng. Berkat bantuan keluarga di Petemon inilah, Rochineng mampu menamatkan SMA dengan tanpa hambatan.

“Setelah tamat SMA, suatu ketika ada pegawai kehutanan mencari saya dan menyuruh ikut tes ke Jakarta. Ini tentu saja sebuah kabar baik bagi keluarga besar, sehingga kemudian mendorong saya untuk mencoba ikut tes ke Jakarta dan dibantu biaya keberangkatan. Berkat Ida Sang Hyang Widhi dan doa keluarga besar, saya berhasil lulus tes di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI, sehingga kemudian digembleng di Pusdiklat Madiun tahun 1978,” katanya.

Beberapa waktu menjalani Pusdiklat dengan lancar, Rochineng kembali ke Pulau Dewata dan resmi menjadi pegawai dinas kehutanan. Rochineng ditempatkan di Payangan, Gianyar, ketika mengawali karir sebagai pegawai dinas kehutanan. Selanjutnya, Rochineng dipindahkan ke wilayah Kubu, Nusa Penida, hingga kemudian ke Kabupaten Buleleng pada tahun 1984.

Semasa, lanjut Rochineng, bertugas di Klungkung, dirinya sudah mengambil pendidikan kuliah jarak jauh jurusan hukum pada tahun 1982. Ketika dipindahtugaskan ke Buleleng, kuliah dilanjutkan, sampai akhirnya pada tahun 1989, Rochineng lulus dan berhak menyandang gelar sarjana hukum.

Ternyata, tidak selamanya Rochineng menjadi abdi negara di Buleleng. Setelah lulus menjadi sarjana hukum, pria ramah ini ditarik ke provinsi dan bertugas di Dinas Kehutanan Provinsi Bali sampai tahun 1992.

“Saya kemudian diangkat menjadi Kepala Polisi Hutan se-Bali. Ketika diberlakukan otonomi daerah, saya ditugaskan di Inspektorat. Selanjutnya pada tahun 2004, saya menjadi Kepala Satpol PP se-Bali. Awal tahun 2008, menjadi Sekretaris Dinas Kehutanan. Tahun 2009-2018, ditugaskan sebagai Kepala Badan Kepegawaian Daerah. Dan pada pertengahan tahun 2018, saya ditunjuk menjadi Penjabat Bupati Gianyar. Dan kini sejak tahun 2019, saya dipercaya menjadi wakil rakyat, sebagai anggota DPRD Bali sampai sekarang. Banyak cerita di perjalanan karir saya, semua saya jalankan dengan ikhlas dan semaksimal yang bisa lakukan,” kata Rochineng yang kini juga menjadi Ketua Dewan Pendekar Kerohanian Utama PPS Kertha Wisesa Pusat. (LE-Vivi)

Pos terkait