Terinspirasi RA Kartini, Wanita Buleleng Komitmen Kembangkan Tenun Songket

Ketut Sri Poni, penenun songket yang berasal dari Desa Jinengdalem Kecamatan Buleleng (Foto: Dok Humas Diskominfosanti Buleleng)

Singaraja, LenteraEsai.id – Ketokohan Raden Ajeng (RA) Kartini dalam memberikan teladan tentang kesetaraan gender atau emansipasi, membuatnya banyak diidolakan para wanita di Tanah Air.

Bulan April merupakan bulan lahirnya sosok Kartini di Indonesia. Sosok pejuang emansipasi kaum perempuan simbol kesetaraan gender ini selalu menjadi inspirasi bagi perempuan di Nusantara.

Bacaan Lainnya

Salah seorang perempuan di Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara yang bernama Ni Ketut Sri Poni (49), penduduk Desa Jinengdalem, Kecamatan Buleleng, sangat terinspirasi dari semangat Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan nasib perempuan di berbagai aktivitas di masyarakat.

“Sosok Kartini menjadi motivasi tiang selaku pengusaha perajin kain tenun songket yang saya rintis sejak 11 tahun lalu. Dengan kesungguhan, komitmen, keberanian dan didasari kejujuran dalam berusaha, sehingga tiang dapat berkembang sampai sekarang,” ujar Poni ketika ditemui di kediamannya, belum lama ini.

Ketut Sri Poni yang hanya tamatan sekolah dasar ini menuturkan, sejak memulai usaha kerajinan tenun songket pada tahun 2012 hanya menjadi karyawan yang hanya menggarap kain tenun, lalu memberanikan diri berwirausaha dengan mengajak 4 perajin, dan kini telah berkembang menjadi 14 perajin.

“Dulu saya sebagai karyawan saja. Namun saya memberanikan diri mengembangkan diri. Inilah warisan dari Raden Ajeng Kartini, sikap tangguh, berani, dan dengan perjuangan emansipasi menjadikan perempuan zaman sekarang setara dengan laki-laki, perempuan bisa segala hal,” ujarnya, berbangga.

Dalam perjalanan usahanya, ungkap ibu 3 orang anak ini, kejujuran merupakan sikap yang harus selalu ditanamkan. Selain itu kualitas setiap produk harus terjamin. Hal ini sebagai pondasi usaha agar konsumen tidak kecewa dan memelihara kepercayaan konsumen secara berkelanjutan.

“Jika ada produk kain tenun songket yang sedikit salah motif dan konsumen mau membeli dengan potongan harga, saya tidak akan menjualnya. Karena saya sangat menjaga kualitas. Jika produk yang konsumen cari kebetulan kehabisan stock, maka saya tidak akan mencari barang yang sama ke perajin yang lain. Ini penting untuk menjaga image atau brand dari Poni Songket agar tetap terpelihara baik,” katanya.

Berkat usahanya, ibu rumah tangga yang dahulu keterampilannya terkubur dalam kerajinan tenun songket kini mulai bangkit secara perlahan. Menurut Poni, dirinya selalu memotivasi perajinnya untuk membantu perekonomian keluarga agar bisa hidup lebih sejahtera. “Jangan berpangku tangan hanya menunggu pemberian dari suami. Ayo kita bisa juga bekerja selain mengurus rumah tangga, contoh seperti saya ini,” ujarnya, penuh semangat.

Dituturkan mengenai kwalitas produknya, Poni menyampaikan dari sisi warna akan awet tidak mudah luntur, ringan dipakai, motifnya unik dan beragam. Harganya relatif sesuai motif dan jenis benangnya. “Harga kisaran 2,5 juta sampai 6 juta rupiah. Sudah banyak tokoh publik yang fanatik dengan produk saya. Ini berkat promosi melalui media sosial, serta pameran-pameran baik di daerah maupun tingkat nasional,” ujarnya. (LE-Anom Wijaya)

Pos terkait