Tradisi Unik Jemur Mayat di Desa Sepang Buleleng, Tak Lekang ‘Digerus’ Zaman

Ida Sri Bhagawan, Kelian Bendesa Adat Sepang (Foto: LenteraEsai/Anom Wijaya)

Buleleng, LenteraEsai.id – Desa Sepang, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara, dulunya bernama Desa Gunung Merta Sari. Desa yang berhawa sejuk itu bertengger di ketinggian daratan 1.039 mdpl. Sebagai sebuah desa yang tergolong kuno, Sepang memiliki beragam peninggalan dan warisan leluhur yang hingga kini masih lestari.

Penduduk Desa Sepang memiliki ‘traditium’ yang sangat unik, yaitu ‘nginyahang layon’ atau menjemur mayat. Jadi, bila ada warga yang meninggal dunia, tidak serta merta jenazahnya dikuburkan, melainkan harus dijemur dulu di bawah terik matahari dalam beberapa lama.

Bacaan Lainnya

Ida Sri Bhagawan, seorang sulinggih ketika ditemui di kediamannya di Griya Sepang pada Minggu, 2 April 2023 menyampaikan, kebiasaan atau tradisi menjemur mayat telah dilaksanakan warga sejak zaman dahulu, karena pada saat itu belum ada Pura Mrajapati sebagai tempat ‘melapor’ tentang hidup dan kehidupan.

“Prosesi menjemur mayat dilaksanakan di atas batu berukuran 2×1 meter yang ada di setra atau kuburan Desa Sepang. Batu tersebut diyakini memiliki kekuatan magis alias keramat, yang dapat mengantarkan arwah warga yang meninggal dunia ke ‘Sunia Loka,” ucapnya.

Prosesi tersebut berawal dari jenazah yang diberangkatkan dari rumah duka dan sudah dimandikan, tiba di tempat pemakaman langsung diletakkan di atas batu ceper 2×1 meter sebagai langkah penjemuran di bawah terik sinar matahari.

Bersamaan dengan ritual penjemuran dilakukan, pemimpin upacara kematian menghaturkan sesaji wawantenan kepada Ida Betara Mrajapati sebagai bentuk penyampaian tentang adanya seorang umat yang berpulang ke Sunia Loka, sekaligus memohon anugerah kepada Ibu Pertiwi guna mengebumikan jenazah, ujar Ida Sri Bhagawan.

Dikatakan, walaupun sekarang di Desa Sepang sudah memiliki Pura Mrajapati, namun tradisi menjemur mayat masih tetap dilakukan bila ada warga yang meninggal dunia dan akan dimakamkan.

Keberadaan Desa Sepang tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Ida Dalem Sai pada abad ke-14. Beliau bersama pengikutnya yang melintas melalui Desa Pujungan, tiba di seputaran Gunung Urip meletakkan bebaturan dari tumpukan batu sebagai media untuk memohon keselamatan. Sehingga, di tempat itu kini berdiri Pura Batur Gunung Urip yang diempon oleh pratisentana Dalem Sai.

Di samping Ida Dalem Sai yang pernah menamcapkan tonggak sejarah spiritual di Desa Sepang, pada awal abad ke-16 juga tercatat Ida Dalem Madura sempat singgah di desa tersebut dalam perjalanannya dari tanah Jawa menuju Padang Getas (Kabupaten Badung).

Setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, Ida Dalem Madura yang berangkar dari Tanah Jawi, sempat singgah di Gunung Besturi, Desa Sepang. Di tempat ini beliau mendirikan bebaturan sebagai tempat memuja kebesaran Tuhan. Di Desa Sepang juga beliau meninggalkan pengikutnya yang bernama Petiga bersama saudara perempuannya. Konon bebaturan tempat pemujaan di Gunung Besturi, diyakini sebagai tempat memohon keselamatan.

Sebagai tempat memohon keselamatan yang sangat disakralkan, terbukti begitu bertuah, seperti yang dikisahkan tiga prajurit kerajaan yang ambil bagian dalam suatu pertempuran melawan musuh, yakni I Pasek Petiga, I Rumpi Gin dan Kumpi Koriada.

Suatu ketika di tahun 1597 Masehi, Ki Barak Panji atau I Gusti Ngurah Panji yang menjadi raja di Den Bukit (Buleleng), mendapat serangan dari ‘Wong Bojo’, namun serangan tersebut berhasil diredam oleh ketiga prajurit kerajaan tersebut setelah memohon perlindungan dan anugerah kekuatan di Bebaturan Gunung Besturi. ‘Wong Bojo’ adalah gerombolan yang berniat menyerang raja yang tengah berkuasa di Den Bukit ketika itu.

Berdasarkan catatan yang ada pada sejumlah lontar, kata Jro ‘Tin’ Astika Giri, tokoh masyarakat adat yang juga jero dasaran di Desa Sepang menuturkan, di sebelah barat Desa Sepang di atas dataran yang cukup tinggi, juga terdapat Pura Gunung Bhujangga sebagai peninggalan petilasan dari Rsi Markandeya, di mana di tempat tersebut beliau pernah melakukan tapa yoga semadi memohon anugerah petunjuk Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebelum meneruskan perjalanan spiritualnya ke Besakih.

Selain sebuah pura, Rsi Markandeya juga meninggalkan ajaran yang hingga kini masih eksis di tengah-tengah warga masyarakat, yakni adanya Kembulan yang terbuat dari taru dapdap tis dan bambu yang beratapkan ijuk. Kembulan tersebut ada di setiap merajan rumpun keluarga di Desa Sepang.

Tiga bahan yang digunakan untuk mendirikan Kembulan tersebut, diyakini sebagai cerminan dari konsep ajaran waisnawa dalam memuja keagungan Tuhan Yang Maha Esa yang sudah dituangkan dalam Awig-awig desa adat berdasarkan keiguman/kesepakatan krama untuk menghormati peninggalan ajaran Rsi Markandeya.

“Tiang sebagai krama begitu bersyukur memiliki warisan budaya kearifan lokal dari semua leluhur warga Desa Sepang yang patut dibanggakan serta dilestarikan,” ungkap Jro ‘Tin’ Astika Giri. Dalam keberagaman rumpun klan atau soroh, warga di Desa Sepang dapat hidup berdampingan dengan harmonis seiring kesejukan alam yang dikitari perbukitan nan hijau, penuh dengan perkebunan kopi.

“Tradisi budaya di Desa Sepang sudah dikombinasikan berdasarkan sastra Agama Hindu, sehingga wajib untuk dipelihara dengan sebaik-baiknya,” kata Ida Sri Bhagawan yang juga telah begitu lama mengabdikan diri sebagai Kelian Bendesa Adat Sepang, mengakhiri perbicangan. (LE/Anom Wijaya)

Pos terkait