Perbekel Mayong Serahkan Bantuan Sembako Kepada Warga Kurang Mampu

Perbekel Mayong saat anjang sana dan menyerahkan bantuan sembako kepada warga (Foto: Dok Pemerintah Desa Mayong)

Seririt, LenteraEsai.id – Pemerintahan Desa Mayong, Kecamatan Seririt, Kabupaten Buleleng bekerja sama dengan para donatur, menyerahkan bantuan sembako kepada warga kurang mampu di desa setempat berkenaan dengan menyonggong tibanya Hari Suci Nyepi tahun baru caka 1945 yang jatuh pada 22 Maret 2023.

Bantuan sebanyak 12 paket sembako yang terdiri atas beras, gula pasir, mie instan dan sabun itu, diserahkan oleh Perbekel Desa Mayong Made Astawa SSn kepada sejumlah warga kurang mampu di Dusun Mayong, Desa Mayong pada Rabu, 15 Maret 2023. Pada kesempatan itu, Perbekel nampak didampingi staf dan donatur Putu Artana yang adalah salah seorang pelaku pariwisata.

Bacaan Lainnya

Beberapa penerima bantuan mengucapkan terima kasih atas uluran tangan donatur melalui Perbekel Desa Mayong yang terhitung telah bertugas selama 1 tahun 4 bulan di desa yang dulunya dikenal sebagai desa pencetak para seniman tradisional.

Sebagai bukti, di Desa Mayong pernah terlahir sebuah tarian yang sempat dipertunjukkan di hadapan Presiden Soekarno pada 1964, yakni ‘Tari Manyi’ yang diciptakan seniman tari dan tabuh asal Mayong, Ketut Mawes (almarhum).

Di hadapan warga yang menerima bantuan, Perbekel Astawa mengharapkan bantuan yang diberikan dapat meringankan benan warga yang belakangan cukup kesulitan dalam masalah ekonomi, terkait dengan belum pulihnya pendapatan masyarakat pascapandemi Covid-19.

Bersamaan dengan itu, Perbekel Astawa juga mengucapkan terima kasih kepada donatur yang telah dengan suka rela mengulurkan bantuan kepada sejumlah warga masyarakat di desanya.

“Kami atas nama Pemerintahan Desa Mayong menyampaikan terima kasih kepada donatur dan para relawan yang selama ini sudah tulus ikhlas berpartisipasi membantu meringankan beban warga yang kurang mampu,” ujarnya, menyampaikan.

Bantuan sembako itu dibagikan kepada warga di wilayah Dusun Mayong, sementara untuk krama di dusun lain masih menantikan konfirmasi dari berbagai sumber relawan lainnya yang diyakini akan mampu mengulurkan bantuan berikutnya. Di samping bantuan sembako, juga telah terealisasi bantuan 4 unit bedah rumah dari Yayasan Relawan Bali dan yang lainnya.

Dalam upaya meringankan beban warga masyarakat, pemerintahan di desa telah melakukannya sesuai amanat Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Pergub maupun Perbup Kabupaten Buleleng. Semua program kerja Perbekel sudah tertuang jelas dalam RPJMD (Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Desa) Desa Mayong selama 5 tahun ke depannya, terutama atas potensi desa yang dimiliki seperi seni budaya, pertanian, perkebunan, peternakan, pariwisata desa dan lain-lainnya.

Desa Mayong, Kecamatan Seririt berada pada ketinggian rata-rata 282 meter di atas permukan laut dengan luas wilayah 7,48 km persegi, dengan jumlah penduduk 3.273 jiwa. Desa memiliki 6 dusun yang berbatasan dengan Desa Banjar, Rangdu, Bestala, Munduk Bestala, Gunungsari dan Desa Busungbiu.

Mayong sangat potensial untuk dikembangkan menjadi daerah rintisan kawasan pariwisata desa, kata Putu Orbawan sebagai warga yang bergerak di dunia kepariwisataan. Putu Orbawan yang kini juga menjabat Ketua Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) Desa Mayong mengaku sangat siap mendukung program kerja pemerintahan desa di bidang pariwisata, mengingat lokasi Mayong yang sangat strategis di antara daerah tujuan wisata yang sudah ada di wilayah Desa Munduk, Pemuteran, Celukan Bawang dan dari menuju Pupuan, Kabupaten Tabanan.

“Hal ini sangat didukung oleh komponen sumber daya manusianya yang cukup lumayan, yakni cukup banyak berkecimpung di bidang pramuwisata serta transportasi wisata,” ujarnya.

Orbawan mengungkapkan, yang lebih menggelitik adalah persawahan berundak-undak di wilayah Dusun Pohasem, Desa Mayong, yang cukup menggoda untuk dikunjungi, terlebih dengan dukungan organisasi subaknya yang begitu terarah. “Sering kali di musim peak season, cukup banyak wisatawan mancanegara dan komponen pramuwisata divisi bahasa Belanda, Perancis dan Inggris yang melakukan treking menikmati kesejukan serta keindahan panorama alam di sana,” katanya. (LE-Nom)

Pos terkait