Karangasem, LenteraEsai.id – Bade adalah alat pengusung jenazah yang umumnya dibuat menyerupai menara dengan tinggi yang beragam, lengkap dengan pernak-pernik hiasan warna-warni dan corak yang memikat.
Bade merupakan salah satu instrumen kelengkapan bagi penyelenggaraan upacara ngaben (kremasi jenazah/petulangan) di Bali. Karenanya, pada hari-hari baik (dewasa ayu) untuk ngaben pada bulan-bulan ini, telah membuat para perajin bade ‘kebanjiran’ rezeki.
Perajin bade panen pesanan pada musim ngaben yang berlangsung sejak akhir Juli hingga pertengahan Agustus 2022 ini. Tak main-main, omzet yang didapat seorang perajin bisa mencapai miliaran rupiah.
Seperti salah seorang perajin bade yang sudah menekuni kerajinan ini sejak tahun 1993, I Wayan Suarjana (53), penduduk Desa Bebandem, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, mengaku dibanjiri orderan bade dan kelengkapan lainnya pada musim ngaben kali ini. Kelengkapan tersebut meliputi patung lembu, singa, penganyudan dan lain sebagainya.
“Musin ngaben tahun ini membludak pesanannya. Untuk bade saja mencapai 20 unit. Tapi kalau keseluruhan dari singa, lembu, sarana penganyudan dan yang lainnya, itu mencapai ratusan. Karena memang sangat banyak warga yang melakukan ngaben massal, sehingga orderan juga banyak,” ungkap Wayan Suarjana ketika dihubungi, Sabtu (20/8/2022).
Ditanya mengenai harga sebuah bade, Suarjana mengatakan bervariatif, tergantung ukuran, bentuk dan kelengkapan aksesoris yang diminta oleh warga yang memesan. “Ya..untuk bade paling sederhana dengan harga yang terendah sih, Rp12 juta. Sedangkan untuk harga yang tertinggi mencapai ratusan juta rupiah,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Sementara ukuran bade juga berbagai macam. Umtuk tahun ini Suarjana membuat bade dengan ukuran yang paling tinggi mencapai 18 meter. “Yang 18 meter ini dipesan oleh pasemetonan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan (PGSDT). Jadi satu paket dengan lembu hitam yang sempat viral kemarin,” katanya.
Suarjana mengaku tak banyak mengalami kendala dalam membuat bade setinggi itu. “Hanya saja, jika ukuran terlalu tinggi, proses pembuatannya agak rumit, karena harus naik turun tangga,” ujarnya.
Suarjana yang dibantu 25 orang karyawan, dengan tekun membuat bade-bade tersebut, bahkan tak jarang harus lembur hingga larut malam. Karena orderan datang tak hanya dari Karangasem saja, namun juga dari daerah lain seperti Nusa Penida hingga ke Pulau Lombok. Pesanannya pun tak pernah sepi. “Setiap bulan ada saja yang ngorder, meski bukan bulannya ngaben. Ini biasanya dari kalangan berkasta, yang biasanya begitu ada keluarganya yang meninggal dunia, langsung diaben,” ungkapnya.
Ia mengaku bersyukur orderan tidak pernah sepi, karena ada saja warga yang langsung mengabenkan keluarganya yang meninggal dunia, meski sesungguhnya bukan musimnya warga yang lain untuk ngaben. “Karena memang orang yang baru meninggal dunia bisa diabenkan kapan saja. Dengan kata lain, sudah membawa ‘dewasa’-nya sendiri,” ujar salah seorang karyawan Suarjana, menimpali. (LE-Ami)







