HeadlinesKarangasem

Nestapa Warga Selumbung, Terlahir Difabel Namun Terus Berkarya Untuk Hidupi Keluarga

Karangasem, LenteraEsai.id – Di tengah kekurangan yang dimiliki, I Ketut Karsa (47), warga Banjar Dinas Kelodan, Selumbung, Manggis, Kabupaten Karangasem tak menyerah dengan keadaan. Terlahir sebagai difabel, tidak membatasinya untuk tetap berkarya.

“Beliaunya memang tidak bisa diam, ada saja hal yang ia kerjakan setiap hari,” ungkap Perbekel Selumbung, I Wayan Suardika saat mengantar awak media massa berkunjung ke rumah Ketut Karsa di Banjar Dinas Kelodan, Kamis (21/7).

Kondisi fisik Ketut Karsa sejak terlahir sudah disebutkan difabel. Bagian tulang kaki dan tangan bengkok, membuat dirinya berjalan dengan tergopoh-gopoh. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap berkarya.

Menjalani hidup keseharian, Ketut Karsa membuat segala macam kerajinan berbahan kayu dan bambu. Seperti ‘keroncongan’ atau okokan sapi, kulkul (kentongan), topeng ataupun anyaman dari bambu. Ia pelajari seluruh keahlian tersebut secara otodidak. “Pernah sekali saya ikut pelatihan di BLK,” kata Ketut Karsa kepada awak media massa.

Kerajinan yang dihasilkan kemudian dijualnya kepada warga sekitar. “Selama ini paling dibeli oleh warga sekitar saja. Paling banyak itu terjual 5 buah,” ucapnya. Namun sejak video tentang aktivitas dirinya di-upload oleh seorang relawan, viral di media sosial, pesanan barang kerajinan buatan Ketut Karsa itu mulai berdatangan.

“Sejak viral itu mulai ada pesanan, tapi saya sekarang kekurangan bahan baku dan keterbatasan waktu untuk dapat memenuhi pesanan tersebut,” ujarnya menyinggung kendala yang kini dihadapi.

Sementara untuk membuat sebuah ‘keroncongan’ sapi, Ketut Karsa memerlukan waktu satu minggu. Sedangkan untuk membuat sebuah kulkul dibutuhkan waktu sekitar satu bulan lamanya. “Keroncongan sapi ini saya jual Rp80 ribu per buah. Untuk kulkul Rp500 ribu, dan topeng kayu sepanjang ini sekitar Rp250 ribuan,” ujarnya sambil memperlihatkan hasil kerajinannya yang siap dijual.

Dulu hidup Ketut Karsa dibiayai oleh kedua orang tuanya, namun semenjak ayah dan ibunya memasuki usia renta dan sakit-sakitan, ia berinisiatif untuk mulai menjual hasil karyanya untuk dapat menghidupi keluarga, meski belum banyak yang dapat ia hasilkan.  

Sehubungan dengan itu, Ketut Karsa berharap ada perhatian lebih dari pemerintah untuk memberi ruang baginya dalam memasarkan produk kerajinan yang dihasilkan, termasuk dalam mengupayakan pengadaan bahan baku kayu dan bambu.

Sementara itu, Perbekel Selumbung I Wayan Suardika menyatakan sangat mengapresiasi semangat dari Ketut Karsa. “Untuk kekurangan bahan baku, nanti akan kami usahakan untuk membantu memenuhinya. Jangan khawatir ya Pak, terus berkarya,” kata Suardika sembari memberi semangat kepasa sang perajin yang dikenal berbakat itu.

Perbekel Suardika menjelaskan, atas keberadaannya, keluarga dari Ketut Karsa ini sudah masuk dalam daftar penerima PKH dari Dinas Sosial Kabupaten Karangasem.  (LE-Ami) 

Lenteraesai.id