Menparekraf Luncurkan ‘Carbon Footprint’ di Bali, Wujudkan Pariwisata Berkualitas

Sandiaga Uno resmi meluncurkan program Towards Climate Positive Tourism through Decarbonization and Eco-tourism. (Foto: Dok Humas Kemenparekraf)

Buleleng, LenteraEsai.id – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno secara resmi meluncurkan program Towards Climate Positive Tourism through Decarbonization and Eco-tourism, pada Kamis (7/7) di Plataran Menjangan Taman Nasional Bali Barat.

Menparekraf Sandiaga menjelaskan, perubahan iklim telah menjadi isu dan perhatian penting bagi berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Sesuai ketetapan Paris Agreement (2015), semua negara memiliki kewajiban untuk berkontribusi dalam penurunan emisi termasuk melaksanakan, mengkomunikasikan upaya ambisius, mitigasi, dan juga adaptasi yang ditetapkan secara nasional atau dikenal sebagai National Determined Contribution (NDC).

Bacaan Lainnya

“Dari data Nature Climate Change tahun 2018, pariwisata dunia saat ini menyumbang 8 persen dari emisi global, di mana 49 persennya berasal dari jasa transportasi,” ungkap Menparekraf.

Peluncuran program Towards Climate Positive Tourism through Decarbonization and Ecotourism ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan dari pemangku kepentingan pariwisata. Selain itu sebagai upaya menekan emisi karbon serta mewujudkan pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Menparekraf menyampaikan Indonesia menjadi negara pertama di ASEAN yang memiliki komitmen Net Zero di sektor pariwisata.

“Saya hari ini sangat termotivasi, sangat memiliki harapan yang berbinar-binar karena kami menjadi pelopor Net Zero di ASEAN dan kami mendapatkan mitra yang kuat di industri pariwisata,” ujar Menparekraf. 

Menparekraf menyampaikan kegiatan ini merupakan kolabor-Aksi berbagai pihak, yaitu Plataran Indonesia, Wise Steps, Jejak.in, dan Indecon. Tak hanya itu, lintas kementerian/lembaga juga berperan penting di sini terutamanya Kementerian Keuangan, Menkomarves, KLHK, KKP, Bappenas, Kemendagri, dan OJK.

Selain itu keterlibatan Pemerintah Daerah dan 5 destinasi pilot project yang akan menerapkan program carbon footprint, yakni Plataran Menjangan di Taman Nasional Bali Barat); Mangrove Tembudan Berseri di Berau); Pantai 3 Warna di Clungup Mangrove Conservation-Malang); Bukit Peramun di Belitung; dan Taman Wisata Mangrove Klawalu, di Sorong. 

Lebih lanjut, Menparekraf menjelaskan pascapandemi market pariwisata berkelanjutan diperkirakan terus meningkat dimana 83 persen percaya bahwa perjalanan berkelanjutan penting secara global. Kemudian 69 persen diantaranya berkomitmen untuk mengurangi jejak karbon dari setiap perjalanan. Oleh karena itu, carbon offset calculator diperlukan untuk menghitung berapa besar emisi karbon yang dihasilkan dari aktivitas perjalanan wisata. 

“Perhitungan jejak karbon tersebut nantinya dikonversi menjadi nilai uang selanjutnya disalurkan untuk mendukung program positif seperti penanaman pohon, renewable energy, hingga pengembangan ekowisata,” ujar Menparekraf. (LE-BL)

Pos terkait