Satgas Flobamora Bali yang Keberadaannya Diakui Pemerintah, Tidak Bisa Dibubarkan Sembarang Orang

Foto bersama para Satgas Flobamora Bali saat konperensi pers yang digelar di Sekretariat Flobamora Bali di Jl. Tukad Musi I/5 Renon, Denpasar, Jumat (18/03/2022) malam

Denpasar, LenteraEsai.id – Ketua Satgas Flobamora Bali Marthen Rowa Kasedu menyatakan bahwa Satgas Flobamora selaku pengabdi sosial yang selalu hadir dalam setiap kegiatan suka maupun duka yang menimpa anggota paguyuban Flobamora Bali, keberadaannya diakui oleh pemerintah.

Sedangkan Hikmast (Himpunan Keluarga Matawai Amahu Sumba Timur) adalah salah satu paguyuban yang berada di bawah Flobamora Bali, yang selama ini bekerja secara sukarela, dan tidak pernah ada yang membayar.

Bacaan Lainnya

“Kamilah garda terdepan turun ke lapangan kalau ada warga yang bermasalah. Kami juga yang selalu membantu Kesbangpol, Satpol PP, polisi, dan TNI saat diminta,” kata Ketua Satgas Flobamora Bali ketika menggelar  konferensi pers di Sekretariat Flobamora Bali di Jalan Tukad Musi I/5 Renon, Denpasar pada Jumat malam, 18 Maret 2022.

Marthen Rowa Kasedu menegaskan hal itu sehubungan adanya pihak yang mengaku sebagai sesepuh Nusa Tenggara Timur (NTT) di Bali, dan meminta agar Satgas Flobamora Bali hingga ke unit-unitnya dibubarkan.

“Sempat ada orang yang mengaku sebagai sesepuh NTT di Bali dan pembentuk Satgas Flobamora Bali, itu tidak benar. Yang namanya sesepuh adalah orang yang memiliki sentuhan terhadap Flobamora. Sejak saya jadi Ketua Satgas Flobamora Bali dari tahun 2015 sampai sekarang, saya tidak pernah melihat keterlibatan orang yang ngaku sesepuh telah membina, membentuk, dan bahkan berkontribusi kepada Satgas Flobamora Bali. Jangankan yang besar, satu gelas air aqua aja belum pernah. Jadi mohon jangan membohongi publik. Kalau ada yang pernah dia keluarkan atau korbankan untuk Satgas, datang dan bicarakan dengan saya, saya siap kembalikan itu,” kata Marthen, geram.

Bagi Marthen, kata sesepuh itu memiliki nilai sakral dan sangat dihormati. “Kami tidak mengenal orang yang mengaku sesepuh di luar Flobamora Bali. Kalau memang sesepuh, kenapa dia mau dipukul oleh anak NTT?. Dia yang mencari perlindungan kepada Yusdi Diaz sebagai Ketua Flobamora Bali dan Ardy Ganggas sebagai penasihat Flobamora Bali,” katanya.

Marthen Rowa menegaskan, Satgas Flobamora Bali adalah relawan sosial yang siap hadir kapanpun, di manapun, ketika ada warga NTT bermasalah. “Mereka-mereka pasti melihat, pasti mendengar perkembagan dari tahun 2015 sampai hari ini. Kemarin-kemarin masih banyak anak NTT berseteru dengan anak NTT sendiri. Kupang sama Flores. Flores sama Sumba, Sumba sama Kupang sering berantam. Namun kini sudah hampir tidak terdengar. Karena apa? Peran serta senior-senior yang kami rangkum dalam bungkusan kata Satgas. Yang saya libatkan dalam Satgas itu adalah pentolan-pentolan anak muda yang mampu dijadikan figur oleh anak-anak kami dari NTT sehingga sampai saat ini (kasus kriminal) di Polsek-polsek mulai berkurang. Jadi kalau ada yang tidak paham dengan Satgas Flobamora Bali, datanglah tanya kepada kami,” bebernya.

Menjawab wartawan tentang adanya faksi dalam Flobamora Bali, Marten Rowa Kasedu tegas membantahnya. “Mereka yang sibuk mencari keuntungan-keuntungan pribadi, kalau kami sibuk mengurus warga-warga kami. Jadi memang motivasinya berbeda bang. Tapi kalau dibilang ada perpecahan di tubuh kami, saya rasa tidak pernah ada perpecahan, kami selalu solid. Hanya, itu adalah oknum yang tidak sadar dengan benar peran serta paguyuban keluarga dalam kegiatan sosial,” ucapnya.

Marthen memberi contoh dalam kasus kriminal yang menjadi korban warga NTT di Bali. “Mereka yang mengaku sesepuh dan senior di ‘pihak sebelah’ tak pernah peduli,” ucapnya.

Menjawab pertanyaan salah seorang wartawan terkait tanggung jawab Satgas dalam kasus pertandingan futsal yang diadakan oleh Hikmast,  Marthen mengatakan, seharusnya pihak yang yang bersinggungan dengan itu langsung bertanya kepada saudara ketua panitia kegiatan yang bernama Jois. Satgas Hikmast yang hadir di lokasi pertandingan itu, karena ada penugasan dari saudara ketua panitia.

Lebih jauh Marthen menjelaskan, ada dua kategori warga NTT di Bali. Pertama, warga yang menjadi anggota Flobamora dan terlibat dalam setiap kegiatan Flobamora, dan yang kedua adalah warga NTT di luar Flobamora Bali. Dan yang berhak membubarkan satgas yakni Ardi Gangga dan Yusdi Diaz. Bukan datang dari orang-orang yang tidak jelas, yang ingin membubarkan Satgas. 

Kecaman terhadap adanya pernyataaan yang menyerukan agar Satgas Flobamora dibubarkan, juga datang dari Ketua Satgas Ikatan Keluarga Manggarai Bali (IKMB) sekaligus penggagas Satgas Flores Agustinus Bugis, Ketua Satgas Flores Robertus Corly dan penasihat Satgas Flores Boy Farano, serta para pengurus lainnya. Mereka tidak hanya mengecam,  tetapi juga mengutuk klaim yang tidak berdasar tersebut.

Selain itu, ungkapan kegeraman atas penyataan dua orang yang mengaku-ngaku sesepuh NTT itu juga ditunjukkan oleh Robertus Corly. Pria yang akrab dipanggil Roby ini menegaskan, “Orang-orang di luar yang meminta Satgas Flobamora dibubarkan tidak kami kenal, baik di unit maupun di induk Flobamora Bali. Kami ini kerja sosial, tengah malam mereka tidur, kami turun kalau ada warga bermasalah, kami tinggalkan anak istri. Kadang istri juga ngomel-ngomel karena kami terlalu sering di luar,” ungkap Roby.

Mempertegas pernyataan Marthen Rowa, Agustinus Bugis menjelaskan, kegiatan Flobamora Bali maupun Satgas Flobamora Bali lebih memprioritaskan pelayanan kepada warga yang membutuhkan. “Namun ada motivasi yang dilakoni oleh oknum-oknum tertentu yang lebih berorientasi pada kepentingan pribadi. Itulah makanya mereka tak betah bersama kami, lalu kalau ada yang meminta Satgas Flobamora Bali dibubarkan, siapa you,” sindir Agus Bugis.

Agustinus Bugis bersama Satgas Flobamora Bali malah menantang orang-orang yang mengaku sesepuh namun tidak jelas, untuk bertemu, mengklarifikasi pernyataan mereka yang meminta pembubaran Satgas Flobamora sampai ke unit-unitnya. “Di manapun tempatnya kami siap hadir kalau memang pernyataan sikap kami ini membuat mereka tidak senang, asalkan mereka yang mau klarifikasi,” tegas Agus Bugis.

Penasihat Satgas Flores Boy Farano juga mengatakan bahwa dirinya cukup mengenal orang yang mengaku sebagai sesepuh NTT di Bali itu. “Saya kenal baik, tahu persis siapa dia dari dulu. Jangan coba-coba ganggu Satgas Flobamora Bali. Saya hanya mau bilang, tolong sampaikan ke dia, ada salam dari Boy Farano,” ujarl pria asal Bajawa ini, dengan mimik wajah kesal.

Pada akhir konferensi pers, Marthen Rowa Kasedu, Agus Bugis dan Roby Corly dan kawan-kawan menegaskan, sampai kapanpun pihaknya akan tetap menjaga marwah Flobamora Bali.  (LE-DP)

Pos terkait