Badung, LenteraEsai.id – Masih ingat dengan I Wayan Gerem (70) asal Banjar Selantang, Desa Belok/Sidan, Kecamatan Petang Kabupaten Badung ?. Kalangan politisi senior, lebih -lebih dari PDI Perjuangan tentu tidak asing. Tetapi politisi muda, bisa jadi tidak banyak yang mengenalnya.
Untuk menyegarkan ingatan publik, pewarta LenteraEsai.id (LE) pada Selasa, 25 Mei 2021 mengunjungi kader militan PDI Perjuangan itu di rumahnya di Banjar Selantan, Desa Belok/Sidang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung. Tetapi pria itu sedang tidak di rumahnya. Kata seorang cucunya, kakek sedang pergi ke tegalan (ladang).
“Kakek saya pergi ke ladang Pak. Ayo saya antar,” kata Agus, sang cucu yang baru tamat pendidikan di fakultas kedokteran itu dengan ramah.
Berjalan kaki sekitar 10 menit, pewarta LE tiba di tegalan I Waya Gerem. Pria itu tengah menyambit rumput di tengah-tengah kebun jeruk untuk pakan sapinya. Cucunya harus memanggil-manggil sang kakek. Tidak lama laki -laki tersebut muncul dari rerimbunan pohon jeruk, sambil membawa sekeranjang rumput.
Senyum ramahnya mengembang melihat kedatangan pewarta LE, yang nampaknya masih tersimpan rapih dalam ingatannya, meski sudah cukup lama tidak lagi saling bertemu.
Ia lantas bergerak menuju kandang sapi untuk meletakkan rumput yang didapatnya. Di tegalan itu juga Wayan Gerem terlihat ditemani istrinya. “Beginilah kegiatan saya sehari-sehari. Ke ladang menengok kebun dan ngarit (menyabit) rumput,” kata Gerem, mengawali obrolan.
I Wayan Gerem adalah kader PDI Perjuangan tulen. Ia aktif di partai berlambang kepala banteng itu sejak masih bernama PDI, yakni ketika partai masih dalam masa-masa sulit, saat orde baru berkuasa. Dialah salah seorang yang berani tampil di garda terdepan. Khususnya untuk di wilayah Badung Utara.
Tidak sedikit pengalaman getir dialaminya. Akhirnya perjuangan Gerem dkk mendapat dukungan dari masyarakat. PDI Perjuangan menjadi pemenang pada pemilu tahun 1999. Wayan Gerem pun melenggang menjadi anggota DPRD Kabupaten Badung periode 1999-2004.
Kesetiannya pada banteng tidak diragukan. “Saya tetap setia pada banteng. Karena dari dulu memang pelihara sapi,” kata pria yang fisiknya tetap terlihat sehat itu, bernada guyon.
Wayan Gerem mengaku tak tertarik menjadi kutu loncat seperti halnya yang dilakukan sejumlah kader partai yang haus kedudukan. Cukup banyak kader partai yang haus kedudukan dan ‘keduitan’, yang kemudian loncat ke partai lain setelah di tempatnya yang lama dia dianggap ‘purna tugas’.
Berbeda dengan Gerem, ia tetap setia sampai renta di tubuh ‘banteng’. Walau tidak lagi bisa aktif menghadiri pertemuan-pertemuan seperti dulu, ternyata Gerem masih selalu diingat sebagai tokoh ‘banteng tua’ oleh teman-teman seperjuangannya.
Ia mengaku kerap dikunjungi teman-temannya. “Teman-teman mantan anggota dewan, maupun yang sekarang menjadi anggota dewan, sering datang ke rumah. Juga yang jadi pejabat eksekutif. Bahkan kadang saya ditelpun Pak Bupati,” katanya dengan mimik wajah berbinar. (LE/Ima)







