Badung, LenteraEsai.id – Pada Selasa sore yang cerah, 27 April 2021 lalu, pewarta Lentera Esai (LE) menemui I Made Sandi (80) di kediamannya di Banjar Bedil, Desa Baha, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali.
Rumah asri dengan halaman yang luas itu, tampak sepi dan lengang. Hanya kelihatan seorang anak muda laki-laki sedang menyapu di bagian belakang rumah. Ternyata itu salah seorang cucu dari Made Sandi, yang biasa dipanggilnya Komang.
Ditanya apakah Pak Made Sandi ada ?, Komang menyebutkan ada. Dan menyilakan pewarta LE masuk. Tidak lama kemudian Made Sandi keluar dari kamar. Rupanya pria yang pernah menjabat Perbekel Baha dan anggota DPRD Badung dari Fraksi PNI itu tadinya sedang beristirahat.
Begitu muncul, Made Sandi tampak mengenakan kemeja lengan pendek, sarung dan berkacamata. Pria tiga istri dan 12 orang anak itu, tampak sehat. Cuma jari-jari tangan kanannya dibalut perban. “Kenapa tangannya Pak Made Sandi ?,” tanya LE, spontan.
“Saya mengalami kecelakaan beberapa hari lalu di Gerih, Desa Abiansemal sepulang menghadiri satu acara. Tangan saya luka dengan 30 jahitan. Saya sempat pingsan, eh..sadar-sadar saya tengah dirawat di Puskesmas I Abiansemal,” ucapnya sambil menunjukkan bagian tangannya yang terluka.
Awalnya, Pak Sandi tidak mengenali (lagi) pewarta LE. Selain usianya sudah sepuh, juga lantaran sudah lama sekali tidak bertemu. Pewarta LE mengenal pria itu ketika menjabat anggota DPRD Badung dari Fraksi PNI, berkantor di kawasan Nitipraja Lumintang, Denpasar.
Setelah membuka masker sejenak dan mengenalkan diri kembali, perlahan-perlahan Pak Sandi, bisa kembali mengingat. Obrolan pun akhirnya mengalir. Indra pendengarannya relatif masih tajam (normal) tanpa alat bantu. Sedang matanya diakui sudah agak kabur, pascamenjalani operasi.
Namun demikian, sebelum mengalami kecelakaan, ia biasa masih bepergian naik sepeda motor mencari hiburan. Yakni menemui teman-teman dan koleganya, lantaran tidak kerasan berdiam diri di rumah.
“Saya suka jalan-jalan naik motor, tetapi tidak teralu jauh. Kalau pergi ke tempat yang jauh, saya minta diantar cucu,” akunya, sambil tersenyum.
Made Sandi bercerita, dari 12 orang anaknya, tersebar di mana-mana. Ada yang tinggal di Malang, Jawa Timur, di Karangasem, Denpasar, dan di kampunganya di Baha. Bahkan ada yang menetap di Australia. Rata-rata sudah berkeluarga dan punya anak. Kalau pas mereka pada pulang, suasana rumahnya sangat ramai. Hal itu menjadi saat-saat bahagia baginya dan istri.
Ketika pendudukan Jepang dan NICA, Made Sandi mengaku masih remaja, usianya baru 15 tahun. Ia menyesaikan pendidikan Sekolah Rakyat (SR) di Mengwi, di desanya ketika itu belum ada sekolah. Pergi pulang Baha-Mengwi, jalan kaki.
Kemudian melanjutkan pendidikan sekolah menengah pertama (SMP) di SMPN 1 Denpasar, Jalan Suropati. Tetapi tidak sampai tamat, karena terkendala biaya yang dihadapi orang tuanya. “Karena orang tua tidak mampu biaya, saya DO (dropout),” katanya.
Bagaimana kiprah Pak Made Sandi dalam masa penjajahan, yang antara lain menjadi kurir surat ?. Dan bagaimana kegiatannya sebagai Sekretaris Kantor LVRI Cabang Badung dan Sekretaris LVRI Provinsi Bali?, ikuti terus laporan pewarta LE berikutnya. (LE/Ima)







