Karangasem, LenteraEsai.id – Harga salak yang nyaris tiap harinya terus mengalami penurunan di pasaran belakangan ini, membuat beberapa petani di sejumlah daerah Kabupaten Karangasem memilik untuk tidak memanen salaknya di kebun.
I Wayan Putu, salah seorang petani salak di Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem mengungkapkan, karena harga salah yang terus anjlok di pasaran, sejumlah petani di wilayahnya kemudian memilih untuk membiarkan saja salaknya di kebun.
“Harga salak saat ini sangat murah. Dari sebelumnya Rp10 ribu per kilogram, terus mengalami penurunan. Bahkan ada yang harganya Rp1.000 per kilonya. Jika kita panen, tentu tidak dapat untung karena harus bayar orang untuk memanen,” kata Wayan Putu ketika ditemui di kebunnya Desa Sibetan, Minggu (7/3).
Petani salak yang memilih tidak memanen buah salaknya adalah petani yang memiliki lahan jauh dari perkotaan dan jalan raya, sedangkan yang dekat dengan jalan raya tetap melakukan panen secara mandiri.
Petani yang jauh dari jalan raya tersebut lebih memilih membiarkan begitu saja salak yang sudah siap panen membusuk dan jatuh sendiri dari pohonnya.
“Untuk memanen buah salak, butuh banyak tenaga, seperti tukang suwun untuk membawa hasil panen ke jalan raya itu butuh ongkos yang tidak sedikit, belum lagi ongkos kendaraannya,” ucap Wayan Putu.
Wayan Putu menambahkan, penyebab harga salak yang turun drastis saat ini di Karangasem karena ketersediaan salak sangat melimpah, kondisi inilah yang mempengaruhi harga jual salak tersebut.
“Selalu kami rasakan hal seperti ini, terutama saat panen memasuki bulan Januari sampai Maret dan bulan Agustus sampai Oktober. Harga salak selalu anjlok,” kata Wayan Putu, menjelaskan.
Wayan Putu berharap, dis aat kondisi seperti ini ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Karangasem, sehingga harga salak saat memasuki puncak masa panen tetap memiliki nilai jual yang mengungtungkan bagi para petani. Dengan demikian, petani salak tidak selalu merugi setiap kali memasuki puncak masa panen, katanya. (LE-Jun)







