Pantang Menyerah, Lansia Tunanetra Bikin Keset Serabut Kelapa untuk Biayai Hidup

Karangasem, LenteraEsai.id – Keterbatasan bukan alasan untuk bermalas-malasan, itu yang dilakukan I Wayan Tumpek alias Borang, lansia penyandang tunanetra asal Banjar Telengan, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem untuk terus giat berkarya.

Dengan serba keterbatasan, Wayan Tumpek tidak mau menyerah dengan kondisi fisik yang dimiliki. Bagai meraba dalam gelap, dia tetap bersemangat membuat kerajinan keset berbahan serabut kelapa, karena hanya itu yang bisa dibuat dalam keadaan mata tidak bisa melihat.

Bacaan Lainnya

Tangan-tangannya yang tampak mengecil kurus, demikian terampil dan lincah merajut satu demi satu lintingan serabut kelapa untuk dijadikan lembaran keset, yang biasa dipasang di depan pintu masuk sebuah kamar atau ruangan.

Wayan Tumpek mengaku keterampilan menganyam serabut kelapa menjadi keset yang kini dimiliki, didapat dari pelatihan di Sekolah Luar Biasa (SLB) di Denpasar.

“Saya membuat kerajinan ini sudah dari puluhan tahun yang lalu,” kata Wayan Tumpek saat ditemui di rumahnya pada Rabu (29/7/2020) sore.

Dulu Wayan Tumpek mengaku menjual hasil kerajinannya dengan menaruh di warung-warung yang ada di seputaran tempatnya tinggal, walaupun ada juga yang datang langsung ke rumahnya untuk membeli.

“Tapi sejak beberapa bulan terakhir ini, tidak ada lagi orang yang membeli kerajinan saya ini. Bahkan sampai tertumpuk, karena tidak ada yang beli,” katanya dengan ekspresi wajah sedih.

Saat ini Wayan Tumpek tinggal bersama adik bungsunya I Ketut Wardana yang bekerja sebagai tukang ukir barang seni atau dekorasi dari bahan kayu.  Namun karena Covid-19 terus mewabah, nampaknya senasib dengan barang dagangan yang dibuat Wayan Tumpek.

“Sebenarnya saya tidak mau merepotkan saudara saya, tapi dengan keadaan yang saya alami saat ini, saya tidak bisa berbuat banyak. Hanya saat kerajinan yang saya buat ini masih laku, saya bisa ikut bantu-bantu biaya dapur,” katanya.

Namun apa daya, sejak Virus Corona muncul mewabah, Wayan Tumpek mengaku benar-benar telah dibuat ‘lelor’. Satu-satunya sember pencaharian dari jual kerajinan keset, kini sudah tidak ada lagi orang yang membelinya.

Wayan Tumpek mengatakan, dalam keadaan fisik yang dimiliki seiring usianya yang semakin renta, ditambah lagi dengan munculnya pandemi Covid-19 yang telah ‘menyunat’ penghasilan, sangat berharap adanya bantuan dari pemerintah atau para dermawan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Di tengah obrol-obrol santai dengan koresponden LenteraEsai.id di amben rumahnya, bak gayung bersambut, datang sejumlah dermawan dari Yayasan Dharma Sedana Santhi yang beralamat di Banjar Bengkel, Desa Antiga Kelod, Kecamatan Manggis.

Kedatangan dari pihak yayasan tersebut untuk menyalurkan bantuan kepada kaum nutanetra serangkaian kegiatan bakti sosial dan tali kasih.

“Bantuan yang kami berikan ini hanya sekedar, tapi semoga bisa bermanfaat dan bisa meringankan beban Wayan Tumpek, perajin keset yang kini terdampak Covid-19,” kata I Wayan Pasek Sujena, ketua Yayasan Dharma Sedana Santhi (DSS), menjelaskan.

Dalam kegiatan bakti sosial tersebut, pihak yayasan juga didampingi oleh Made Pasek Astawa, kepala dusun setempat, serta Ketua Divisi Sosial Yayasan DSS I Wayan Pasek Budiasa dan relawan lainnya.

Pada kesempatan itu pihak Yayasan Dharma Sedana Santhi juga membeli beberapa keset yang merupakan hasil kerajinan tangan dari Wayan Tumpek.

Perlu diketahui, untuk keset berbahan serabut kelapa buatan Wayan Tumpek, dijual seharga Rp15.000 per buah. Beberapa warga menyebutnya sangat murah, namun sayang di masa pandemi ini masyarakat lebih banyak memvokuskan kepentingannya untuk kebutuhan sembako.  (LE-Jun)

Pos terkait