HeadlinesKarangasemNews

Kemalangan Ni Wayan Dangin, Tiap Hari Cari Jatuhan Kelapa untuk Beli Beras

Karangasem, LenteraEsai.id – Nasib kurang beruntung dialami oleh wanita renta Ni Wayan Dangin, warga asal Banjar Gegelang, Desa Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem yang tinggal seorang diri dan tidak lagi mampu bekerja sejak beberapa tahun lalu.

Semenjak putri satu-satunya menikah dan sekarang menetap di Denpasar, menjadikan Ni Wayan Dangin harus tinggal sebatang kara di rumahnya yang jauh dari jalan raya, bahkan jauh dari koloni pemukiman warga di keramaian desa.

Kondisi itu diperparah dengan tempat tinggal Ni Wayan Dangin yang bisa dibilang tidak layak huni. Di beberapa titik sudut rumah tampak sudah lapuk dan reod. Bahkan lampu untuk meneranginya kala malam tiba pun tidak ada.

“Dulu pernah nyala lampunya. Tapi sekarang kabelnya yang dari rumah orang putus, tidak ada yang memperbaikinya,” kata Ni Wayan Dangin saat ditemui di rumahnya pada Senin (4/5/2020) sore.

Jika malam tiba, Ni Wayan Dangin hanya menggunakan penerangan seadanya yaitu anyaman benang yang dilumuri minyak kelapa yang ditaruh di atas piring dan dinyalakan dengan api. Warga setempat menyebutnya damar sembe.

Sementara untuk kebutuhan makan sehari-hari, Ni Wayan Dangin mencari buah kelapa yang terjatuh dari pohonnya.  Kebetulan, di dekat tempat tinggalnya, di areal kebun milik orang lain, cukup banyak ditumbuhi pohon kelapa.

Jadi, begitu ada buah kelapa yang jatuh, Ni Wayan Dangin memungutnya, untuk kemudian dijual. Dari hasil penjualan buah kelapa pungut itulah wanita renta ini bisa membeli beras dan lauk seadanya.

Dia mengaku lebih banyak teman nasinya hanya sekedar sambel cabe rawit atau garam dapur agar uangnya cukup. Maklum, saat angin tidak bertiup kencang, jarang ada buah kelapa yang jatuh dari pohonnya.

“Jika punya uang lebih, saya lebih memilih membeli beras ketimbang lauk, karena dengan lauk garam sama minyak kelapa saja, saya sudah terbiasa untuk temannya nasi,” kata Ni Wayan Dangin dengan mata berkaca-kaca.

Bahkan dia mengaku pernah meminta beras kepada tetangganya karena tidak ada kelapa yang jatuh untuk dijual. “Di situ saya merasa malu, karena di masa tua saya justru menyusahkan orang lain,” katanya sambil menundukkan kepala.

Mengenai adanya bantuan, Ni Wayan Dangin mengaku belum pernah mendapat bantuan apapun, baik dari pihak desa maupun dari pihak lain seperti adanya donatur yang peduli dengan orang miskin.

“Saya sangat berharap kepada siapa saja yang bisa membantu kebutuhan makan saya sehari-hari, karena saya sudah tua tidak mampu lagi untuk bekerja,” kata Ni Wayan Dangin sambil tak kuasa menahan tetes air matanya.  (LE-Met)

Comment

Comment here

Lenteraesai.id