HeadlinesKlungkungNews

Sakralnya Ritual Pasupati Barong, Memohon Kekuatan Hyang Siwa

Nusa Penida, LenteraEsai.id – Ritual ‘pasupati’ diyakini sebagai salah satu cara membuat suatu benda memiliki nilai sakral dan magis. Tak hanya benda yang disucikan seperti pretima, pusaka, bahkan dupa pun kini ada yang dipasupati.

Mengapa ‘pasupati’ menjadi begitu penting ?. Ini terungkap karena ritual tersebut merupakan salah satu sarana memohon kekuatan Hyang Siwa dalam stananya pada sesuatu yang bersifat kebendaan.

Ide Rsi Nabe Bhujangga Waisnawa Agni Murwa Natha mengatakan, pasupati merupakan proses permohonan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga kekuatan tersebut melekat pada susuatu benda. Sebagai pemuja Tuhan dalam manifestasi Dewa Siwa, Ida Rsi menyebutkan yang dimohonkan adalah kekuatan Siwa Pasupati.

“Pasupati itu singkatnya negul (mengikat) kekuatan Bhatara Siwa pada suatu benda melalui sebuah prosesi,” ujarnya ketika dihubungi di Denpasar akhir pekan lalu.

Koresponden LenteraEsai.id dari Nusa Penida melaporkan, upacara pasupati pelawatan Barong Ket yang biasa disebut Ratu Gede dan pasupati Rangda yang bisa disebut Ratu Ayu, berlangsung di Pura Dalem Desa Adat Pajukutan Nusa Penida pada 29 Pebruari 2020, tampak berjalan dengan tertib dan lancar.

Setelah prosesi pasupati berhasil, maka tentunya sebagai benda yang sudah dianggap memiliki jiwa, harus dilakukan perawatan. Jro Mangku Subagia, tokoh spiritual Hindu mengatakan, setiap hari kekuatan dalam benda tersebut harus diberikan persembahan seperti canang dan segehan.

Terlebih ketika rahinan tertentu seperti kajeng kliwon, purnama, tilem, atau tumpek landep, tidak boleh terlewatkan untuk mempersembahkan segehan. “Bahkan, tiap hari dan pada hari tertentu, harus disucikan dengan upakara,” ucapnya, menjelaskan.

Dikatakannya, tentunya umat tidak menyembah benda-benda tersebut, namun segala bentuk ritual tersebut ditujukan kepada kekuatan Tuhan yang telah bersemayam di dalamnya. “Setelah diberikan upakara sesetiap hari, terlebih pada rahinan tertentu, barulah ada connecting dengan div atau sinar Tuhan dalam benda tersebut,” katanya.

Menurut dia, jika kekuatan Tuhan tersebut telah terhubung dengan pemilik atau panyungsung, maka dikatakan barulah manfaat dari pasupati tersebut bisa dirasakan. Sebaliknya, jika suatu benda diperlakukan sembarang atau justru tidak diperhatikan setelah dipasupati, maka dipercaya bisa mendatangkan gangguan atau yang biasa disebut ngrabeda.

“Jika gangguan yang disebut ngrabeda tidak diindahkan, maka dipercaya pula bisa mendatangkan petaka. Oleh karena itu, perlu perawatan secara fisik dan spiritual atas benda yang sudah dipasupati,” ujar Jro Mangku Subagia, menegaskan.

Dalam keadaan tidak mampu merawat benda yang telah dipasupati, lanjut Jro Mangku Subagia, tidak menutup kemungkinan benda tersebut bisa dihilangkan kekuatannya melalui proses yang biasa disebut “ngamantukang” (memulangkan) atau “pamralinaan” (ppeleburan).

“Tuhan tidak pernah memarahi umatnya. Jika memang merasa tidak sanggup untuk menjaga dan merawat benda tersebut, bisa di-pralina,” ujarnya. “Ini kan sebuah siklus. Ada utpatti (penciptaan), sthiti (pemeliharaan), dan pralina (pengembalian ke asal atau peleburan),” jelasnya.

Tentunya prosesi yang juga biasa disebut “ngaluhurang” itu tidak sembarangan. “Ada proses juga di sana yang intinya adalah nyomya (menetralkan),” ungkap Jro Mangku Subagia. Dalam hal ini, diperlukan sarana ritual seperti caru pancasanak dan panyambleh.

Secara umum, demikianlah prosesi pasupati. Mengenai pasupati benda-benda lainnya, Jro Mangku Subagia mengatakan prosesinya hampir sama. Yang sangat penting menurutnya adalah keyakinan umat terhadap kemahakuasaan Tuhan. Setelah prosesi pasupati berhasil, maka tentunya sebagai benda yang sudah dianggap memiliki jiwa, harus dilakukan perawatan.

Menurut Jro Mangku Subagia, setiap hari kekekuatan dalam benda tersebut harus diberikan persembahan seperti canang dan segehan. Terlebih ketika rahinan tertentu, seperti kajeng kliwon, purnama, tilem, atau tumpek landep. “Tiap hari dan pada hari tertentu disucikan dengan upakara,” ucapnya, mengingatkan. (LE-Duh)

Comment

Comment here

Lenteraesai.id