Badung, LenteraEsai.id – I Wayan Badra SPd MSi (60), sebelumnya adalah seorang pendidik atau guru di sebuah sekolah dasar (SD) di Bali, tetapi sejak beberapa tahun belakangan ia fokus menggeluti dunia bisnis.
Wayan Badra kini tidak hanya sedang menggeluti usaha di bidang peternakan, tetapi juga cetak batako dengan mengambil lokasi di dekat rumahnya di wilayah Banjar Ketogan, Desa Taman, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.
Pewarta LenteraEsai (LE) yang sedang lewat di depan kandang ayam milik Badra pada Selasa, 20 Desember 2022, secara tidak sengaja bertemu dengan pengusaha yang tergolong sukses tersebut.
Bertemu konco lawas, Badra pun mengajak ngobrol di tempat usaha cetak batako-nya yang berlokasi tidak jauh dengan tempat peternakan ayam broilernya. Obrolan mengalir, penuh semangat bahkan menggebu-gebu.
Pria tiga orang anak dan dua cucu itu bercerita pengalamannya mengembangkan usaha selama ini. Mulai dari merintis beternak ayam broiler kecil-kecilan, kemudian merambah ke peternakan babi dan terakhir mengembangkan usaha cetak batako.
“Ketika masih aktif jadi guru, saya sudah mulai merintis usaha beternak ayam kecil-kecilan. Mulai dari 1.000 ekor. Ya…untuk nambah-nambah penghasilan,” ceritanya, merendah.
Klimaksnya, Badra mengaku pernah sampai beternak ayam 6.000 ekor, secara mandiri. Artinya dengan modal sendiri, tidak melalui pola kerja sama atau lainnya, dengan mempekerjakan beberapa orang tenaga. Tetapi ketika terjadi kasus flu burung, 4.000 ekor ayamnya mati, dari 6.000 yang dipelihara.
“Waktu itu saya sampai kewalahan mengubur bangkai ayam. Kerugian cukup besar. Namun itu merupakan resiko bisnis. Tidak selalu mulus dan untung yang didapat,” katanya, mengenang hari-hari sibuk mengubur bangkai ayam.
Penyakit flu burung yang pernah menghantam usaha ternaknya, tidak membuat Badra patah semangat, apalagi bangkrut. Setelah virus flu burung dinyatakan mereda, ia kembali bangkit. Mulai lagi memelihara ayam broiler.
Menurutnya, musibah flu burung memiliki hikmah tersendiri. Ia mengaku menjadi lebih waspada dan berhati-hati. Misalnya dalam memperhitungkan langkah yang mungkin terjadi, atau memilah momentum yang mungkin dapat dijadikan lahan bisnis di lapangan.
“Pascaterjadi flu burung, banyak peternak yang belum berani memelihara ayam. Saya malah berpikir untuk dapat manfaatkan momentum ini. Dengan perhitungan, sedikit yang memelihara, pasti harga ayan akan mahal,” ujarnya menyampaikan kalkulasi ‘momentum’ dengan penuh semangat.
Setelah menimbang modal memadai, pria luluhan S-2 di bidang ilmu pendidikan itu mengaku kembali beternak ayam broiler. Ternyata benar, harga menjadi cukup bangus di pasaran pancadiuyak grubug flu burung.
Tidak hanya itu, ia pun mulai merambah ke peternakan babi dengan mengontrak lahan untuk tempat pembuatan kandang. Bisnis babi sangat memiliki prosfek, baik untuk kebutuhan lokal Bali maupun antarpulau, bahkan ekspor ke beberapa negara.
Badra mengaku pernah memelihara sebanyak 300 ekor babi, khusus untuk penggemukan. Namun setelah peternakan babinya berjalan beberapa lama, sedikit masalah mulai muncul di lapangan. Dirinya dilaporkan sejumlah tetangga terkait masalah limbah. Padahal lokasi kandang babinya di tengah tegalan, bukan di kawasan pemukiman penduduk.
“Masalahnya sampai ke pengadilan lho. Keputusannya, saya hanya diizinkan memelihara sembilan ekor babi saja, tidak lebih dari itu,” ceritanya, sembari sempat menghela napas panjang.
Belajar dari kasus tersebut, mantan pendidik itu beranggapan setiap pekerjaan ada risikonya. Karenanya, ia mengaku semuanya harus dihadapi dengan kepala dingin. “Yang penting tetap bersemangat, mengambil pelajaran dari setiap kejadian,” ujarnya, lantang.
Setelah usaha ternak ayam dan babi yang terus digelutinya dengan cukup memberi keuntungan, Badra sejak kurang lebih tujuh tahun silam mulai mendirikan usaha cetak batako. Lokasinya di atas lahan 6 are miliknya. Bukan hanya itu, ia bersama istrinya Ida Ayu Mayuni Manuaba juga membuka toko bahan bangunan. Masih satu areal dengan usaha cetak batako.
“Usaha cetak batako dan toko bahan bangunan, saya rintis dan kelola bersama istri. Syukur berjalan dengan baik,” cerita Badra seraya melempar senyum renyah. Bahkan, lanjut dia, pihaknya sempat kewalahan meladeni pesanan atau permintaan batako.
Ada toko yang memesan 1.000 batako setiap harinya. Sementara kini baru bisa dipenuhi setengahnya. Ke depan ia mengaku akan menambah mesin dan tenaga untuk dapat mencetak batako sesuai dengan jumlah permintaan.
“Sekarang baru punya dua buah mesin cetak dan tiga orang tenaga kerja. Mudahan secepatnya saya dapat menambah mesin cetak dan tenaga kerja. Selain pesanan yang cukup tinggi dari pengelola toko bangunan, juga permintaan dari masyarakat sekitar yang tidak sedikit jumlahnya,” ujarnya, lega. (LE-Ima)







