Karangasem, LenteraEsai.id – Kabut mengambang di pucuk pepohonan sepanjang jalan menanjak berkelok di lereng selatan Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali. Setiba di Desa Temukus, Kecamatan Rendang, udara dingin serasa menusuk-nusuk.
Pedesaan Temukus berada di ketinggian, yakni 1.150 mdpl dengan topografi wilayah berkemiringan di bagian lereng selatan Agung, gunung berapi tertinggi di Pulau Dewata (3.142 mdpl).
Sebagai sebuah desa wisata pada umumnya, nama Temukus tiba-tiba melambung tinggi sehubungan memiliki ciri spesifik dibandingkan dengan desa-desa sejenis di Bali.
Betapa tidak, saking tersohornya, belakangan banyak mendapat perhatian wisatawan lokal ataupun mancanegara yang ingin menikmati panorama hamparan padang Bunga Kasna yang eksotik menawan.
Bunga Kasna sering disebut Edelweis Bali, dengan ciri kekhasan berupa tanaman perdu yang di seluruh bagian tubuh atau tangkainya mengandung hormon etilen, sehingga tidak gugur atau luruh. Tanaman ini tertutupi serabut putih, sehingga dari kejauhan mirip hamparan salju.
Bunga Kasna tumbuh dengan baik di daerah ketinggian, lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, di mana Desa Temukus memenuhi untuk ‘persyaratan’ itu, sehingga ‘Edelweis Bali’ mampu berkembang dengan baik, subur memutih.
Desa Temukus yang hanya berjarak 5 km dari puncak Gunung Agung, sempat dinyatakan berada pada kawasan Zona Merah ketika gunung yang berjuluk Giri Tohlangkir itu erupsi pada September 2017 hingga beberapa bulan berikutnya.
Bagi warga setempat, Bunga Kasna digunakan sebagai salah satu unsur ‘bebantenan’ atau upakara saat hari raya Agama Hindu, sehingga dengan mudah dapat dijumpai di pasar tradisional khususnya menjelang Hari Raya Galungan-Kuningan. Bunga Kasna biasa ditanam warga Temukus di petak-petak ladang terbuka, dikarenakan menjadi komoditas dagangan yang memang acap kali dicari di pasar tradisional.
Popularitas Bunga Kasna berubah drastis dan menjadi salah satu penggerak pariwisata di Kabupaten Karangasem, tatkala tanpa sengaja menarik perhatian sejumlah pencinta alam yang baru saja turun dari mendaki ke puncak Gunung Agung. Saat melintas di Desa Temukus, tanpa terduga beberapa pendaki melihat hamparan Padang Kasna yang memutih di petak-petak lahan pertanian tradisional. Para pendaki yang terpesona, seketika mengambil gambar video, selanjutnya dengan antusias mengunggah hamparan ladang memutih itu ke media sosial.
Ternyata, unggahan pendaki di media sosial itu menyusul menjadi tayangan viral hingga keberadaan Bunga Kasna di Temukus pun mencuat menjadi bahan pembicaraan. Melihat itu, pemuda desa setempat kemudian menata desain wilayah dan mendirikan Taman Edelweis sejak Mei 2018. Dari yang luasnya hanya puluhan are, kini keseluruhan Taman Edelweis mencapai luas 1,4 hektare yang membentang di lahan berkemiringan.
Harga tiket untuk mengunjungi Taman Edelweis ini berlainan, tergantung klasifikasi wisatawan. Harga tiket anak-anak adalah Rp10.000 per orang, bagi warga lokal Bali Rp20.000, wisatawan lokal luar Bali Rp30.000 dan turis atau wisatawan asing dikenakan Rp50.000 per orang.
Seiring dengan perjalanan waktu, popularitas nama Taman Edelweis mulai bergeliat sehingga jalanan menuju Desa Temukus menjadi riuh dengan lalu lalang wisatawan. Sebelum masa pandemi Covid-19, setiap hari ratusan orang berkunjung dengan antusias ke Taman Edelweis. Namun kemudian jumlah pengunjung merosot tajam saat memasuki periode pandemi, yakni menjadi antara 50-70 orang per harinya. Pada Sabtu dan Minggu, barulah kunjungan wisatawan agak meningkat mencapai kisaran seratus pengunjung. Dan kini setelah memasuki pertengahan 2022, geliat wisatawan kembali merekah, untuk menikmati hamparan Bunga Kasna yang biasanya sepi.
Salah seorang pengunjung di Taman Edelweis, Agung Seri menyatakan terkesan ketika berkunjung ke Padang Bunga Kasna atau Taman Edelweis. “Saya beberapa kali ke Taman Edelweis, dan setiap kali kunjungan merasakan greget perasaan yang mendalam dikarenakan terkesan melihat panorama langka ini. Dulu saya pertama kali datang, ketika masih berupa hamparan ladang penduduk, dikarenakan Bunga Kasna memang menjadi produk dagangan warga untuk unsur bebantenan sehingga ditanam seperti bunga-bunga lain, seperti kembang pacar atau gumitir. Sekarang ini setelah menjadi destinasi wisata, jadi lebih tertata dan sangat Instagramable. Banyak spot menarik untuk berfoto, sehingga saya berkali-kali datang. Biasanya sekalian mengantarkan teman yang penasaran ingin berpiknik untuk melihat langsung dan berfoto di ladang Bunga Kasna ini,” ujar wanita asal Gianyar ini.
Menurut Agung Seri, keberadaan Taman Edelweis ini memperkaya ragam berwisata di Bali. “Selama ini, kalau ke Bali orang kan terbayangnya berjemur ke pantai. Tapi belakangan kan bervariasi, bisa eksplorasi tanaman di Kebun Raya Bedugul, bercengkarama satwa di Bali Safari-Gianyar dan sekarang ada spot taman alam bisa yang dijumpai di Padang Edelweis ini. Penataan objeknya sudah bagus, hanya rute menuju taman ini harus diberikan petunjuk jalan yang jelas, supaya wisatawan tidak sampai kesasar jika ingin menikmati keindahan Padang Bunga Kasna,” ujar Gung Seri, menyampaikan usul.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Provinsi Bali Ny Putri Suastini Koster mengatakan bahwa Kabupaten Karangasem memiliki keistimewaan tersendiri sehingga patut dijaga, dilestarikan dan sangat diharapkan berkontribusi terhadap bergeraknya roda perekonomian warga.
“Salah satu potensi di Karangasem adalah Bunga Kasna, yang tidak dijumpai di daerah lain. Saya ingin Bunga Kasna ini menjadi salah satu ikon Bali, karena bentuknya memang indah dan berpeluang untuk dikembangkan menjadi materi kerajinan,” ujar Ny Putri Koster.
Dia menambahkan, selama ini manfaat Bunga Kasna biasanya dipergunakan sebagai rangkaian banten untuk ritual upacara hari raya keagamaan di Bali. Ke depan, tentu manfaat Bunga Kasna patut lebih dikembangkan lagi, agar mampu mendongkrak perekonomian warga.
“Jika Bunga Kasna dipakai bahan kerajinan, maka akan menghasilkan produk kreatif sebagai cenderamata khas Bali, malah sangat memungkinkan pemasarannya dikembangkan keluar negeri. Tinggal mengatur supaya keberadaan Bunga Kasna tidak musiman, agar selalu kontinyu terjaga sehingga para perajin tidak kesulitan bahan baku kalau akan mengemas jadi bahan kerajinan,” katanya berharap sembari mengatakan, apabila langkah ini terwujud, tentu tidak sulit merealisasikan kesejahteraan bagi masyarakat. Khususnya warga yang tinggal di lereng selatan Gunung Agung.
Inovasi Ubah Pertanian Jadi Objek Wisata
Di bawah kepemimpinan Bupati I Gede Dana, Pemerintah Karangasem kini menggelorakan inovasi baru dengan sejumlah program unggulan, antara lain adalah menggarap lahan pertanian menjadi objek wisata. Langkah ini ditempuh, dengan berlatar belakang situasi pandemi Covid-19 yang nyaris meluluhlantakkan sektor pariwisata di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Karangasem. “Kita akan bangkitkan kembali pertanian, sehingga warga menjadi mandiri pangan dan tentu saja sekaligus akan diarahkan bagaimana supaya lahan pertanian dapat dikembangkan menjadi objek wisata,” ujar Bupati Dana.
Menurut Bupati Dana, Karangasem memiliki sejumlah hasil pertanian yang khas, sehingga tentu sangat memungkinkan jika sektor ini digarap menjadi objek wisata. Seperti Agrowisata Abian Salak di Sidemen, yang menawarkan petik buah segar dari pohonnya langsung sembari berjalan-jalan di kehijauan kebun salak, dan wisatawan bisa memborong oleh-oleh berbagai olahan produk hasil panen salak.
“Berikutnya selain salak, Karangasem akan menggarap potensi pertanian lainnya dan kita tengah merancang insentif pertanian bagi para petani. Bertolak dari merosotnya pariwisata saat pandemi, kita mulai akan memperkuat lahan pertanian ini, sehingga ekonomi kerakyatan akan bangkit dan memandirikan warga secara pangan dan ekonomi. Terbaru, garapan lahan pertanian menjadi objek wisata yang sudah diminati wisatawan adalah Taman Edelweis di Temukus. Bunga ini memiliki keistimewaan karena sarat nilai spiritual sebagai unsur banten saat upakara keagamaan, sekaligus memiliki bau semerbak harum dan sebutan sebagai Bunga Keabadian berhasil minat wisatawan,” kata Bupati Dana.
Guna melindungi kelestarian Bunga Kasna, Bupati Dana beberapa waktu lalu sudah menerbitkan surat edara (SE) tentang pelestarian Bunga Kasna sebagai bunga khas Karangasem yang secara turun temurun telah memberikan nilai religius, budaya, sosial, dan ekonomi kepada masyarakat Karangasem. Dengan demikian, Bunga Kasna seyogyanya dilindungi, dilestarikan, dikembangkan, serta dijadikan identitas daerah dalam mewujudkan Visi Pembangunan Daerah ‘Nangun Sat Kerthi Loka Bali’ di Kabupaten Karangasem.
Surat edaran Bupati Karangasem ini senada dengan Peraturan Gubernur Bali Nomor 29 Tahun 2020 tentang Pelestarian Tanaman Lokal Bali Sebagai Taman Gumi Banten, Puspa Dewata, Usada, dan Penghijauan, sehingga mengamanatkan semua pihak untuk melakukan upaya pelindungan, pembudidayaan, dan pelestarian tanaman lokal Bali.
“Atas dasar pertimbangan ini, saya selaku Pemerintah Daerah Kabupaten Karangasem kemudian menetapkan Keputusan Bupati tentang Penetapan Bunga Kasna sebagai Petanda Khas atau Ikon Kabupaten Karangasem,” ucap Bupati Karangasem Gede Dana.
Bupati Dana menekankan akan melakukan langkah maksimal untuk memberdayakan dan memanfaatkan Bunga Kasna di berbagai kegiatan. Selain itu, pihaknya akan menggandeng pelaku pariwisata, pengusaha hotel serta restoran supaya melaksanakan langkah aktif turut mempromosikan keberadaan Bunga Kasna di Karangasem. “Berbagai kegiatan seremonial, diharapkan menggunakan hiasan dari Bunga Kasna. Dan para stakeholder diharapkan membuka pasar tentang keberadaan wisata Taman Edelweis, baik di skala lokal, nasional maupun internasional. Kalau sinergi ini sudah berjalan, tidak sulit meningkatkan perekonomian guna mensejahterakan warga dengan inovasi dari keberadaan Bunga Kasna ini,” kata Bupati Dana.
Bupati Dana juga mendorong dan memfasilitasi pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan Koperasi sebagai lembaga usaha bagi Krama Kabupaten Karangasem, guna memaksimalkan pemanfaatan Bunga Kasna sebagai basis pengembangan ekonomi kreatif di Bumi Lahar. “Dengan demikian, masyarakat akan mendapatkan kesejahteraan sebesar-besarnya dari Bunga Kasna, karena memang sesuai kepercayaan warga bahwa munculnya bunga ini sebagai anugerah dewa,” katanya seraya menekankan selanjutnya akan mendukung desa wisata di Karangasem.
Dukungan Desa Wisata
Desa wisata Temukus di lereng selatan Gunung Agung ini, agaknya telah tiba di titian untuk akhirnya dapat mewujudkan selaksa asa atau pengharapan kehidupan yang damai sejahtera bagi warganya. ‘Support’ tidak hanya datang dari Pemerintah Kabupaten Karangasem, melainkan dari pusat yang juga sungguh-sungguh telah menegaskan dukungan terhadap desa wisata.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno dalam berbagai kesempatan menyampaikan dukungan terhadap perkembangan desa wisata di Indonesia. “Seiring dengan pengembangan desa wisata, maka mempercepat laju kemajuan di suatu pedesaan. Kondisi ini akan berpengaruh langsung terhadap peningkatan perekonomian, kemandirian desa dan mencegah langkah urbanisasi. Masyarakat tidak perlu lagi berbondong-bondong ke kota untuk mendapatkan pekerjaan karena sudah bisa menggerakkan perekonomian di wilayahnya berkat pengembangan desa wisata,” kata Menteri Sandiaga.
Kemenparekraf, lanjutnya, akan ‘all out’ dalam memberikan dukungan terhadap penguatan desa wisata. Apalagi belakangan tren pariwisata yang diminati adalah yang berbasis pelestarian budaya dan alam lingkungan.
“Diharapkan pengembangan desa wisata terus dilakukan, supaya dampaknya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat. Selanjutnya warga diharapkan merasakan dampak ekonomi berkeadilan dari keberadaan desa wisata ini,” ujar Menteri Sandiaga. (Tri Vivi Suryani)







