Penampakan Bejulit Pingit di Pura Panca Tirta, Pertanda Doa Terkabulkan (02-Habis)

Ikan julit di Penglukatan Pura Panca Tirta, di Dusun/Banjar Bujaga, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Karangasem, Bali

Rendang, LenteraEsai.id – Pura Panca Tirta di Banjar/Dusun Bujaga, Desa Nongan, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, menyimpan sejumlah kisah misterius nan sakral yang umumnya telah diketahui masyarakat setempat atau krama yang tangkil untuk nunas tamba.

Pura ini, sudah lama diketahui sebagai tempat nunas tamba bagi warga yang mengalami kerisauan, gangguan atau permasalahan dalam kehidupannya.

Bacaan Lainnya

Tidak mengherankan, sejak tahun 1980-an, Pura Panca Tirta didatangi pemedek silih berganti dari berbagai daerah yang ingin mendapatkan solusi atau terbebas dari masalah yang menjeratnya.

Misalnya, ingin tersembuhkan dari penyakit, nunas keturunan, jodoh sujati, terbebas dari bengor, gangguan penyakit magik, kelumpuhan, atau bahkan yang usaha dan bisnisnya seret pun bisa nunas kelancaran dengan jalan melukat di Pura Panca Tirta. Usai melukat, dilanjutkan dengan bersembahyang atau berdoa kepada Bhatara Ratu Gede Balian Sakti yang berstana di pura tersebut.

Penglingsir Pura Panca Tirta Jro Mangku Ketut Mekel menyatakan, ada sejumlah petunjuk atau penampakan tertentu, yang selama ini menjadi pegangan bahwa sebuah doa atau pengharapan dari pemedek dipastikan akan terkabulkan. Yakni, kemunculan ‘ulam’ atau ikan julit, yang juga kerap disebut bejulit.

Bejulit atau ulam julit adalah biota yang hidup di air tawar dengan bentuk memanjang menyerupai tampilan ikan sidat atau belut, hanya sisik dan warna kulitnya yang berbeda. Belut kerap terlihat berwarna kemerahan, sementara bejulit warnanya tak jauh berbeda dengan ikan mujair dan sejenisnya.

Namun demikian, khusus untuk ulam julit yang keberadaannya ‘maya-maya’di bagian genangan air kelebutan di Pura Panca Tirta, disebutkan memiliki warna tubuh atau kulit dalam beberapa jenis. Kemunculan ulam judit sebagai manifestasi dari Ida yang berstana di pura, sejauih ini sering tampil dalam tiga warna, yakni kuning keemasan, coklat kehitaman dan putih bersih.

Tentu penampakan Ida tidak satu pun yang bisa memastikan, sehubungan munculnya pada waktu-waktu tertentu dari bawah pancuran yang dinamakan Bhatara Sri.

“Ida biasanya muncul dalam bentuk ulam julit. Yang utama adalah julit putih, selanjutnya kuning dan coklat kehitaman. Yang julit putih, muncul saat rahinan jagat, seperti Kajeng Kliwon, Purnama dan Tilem. Untuk waktunya, bisa menjelang sandikala, yakni pergantian siang ke malam hari, atau tepat pada tengah malam. Namun jika Beliau berkehendak, di luar waktu yang saya sebutkan tadi, juga sering muncul,” ujar Jro Mangku Ketut Mekel.

Menurut pria kelahiran Banjar Bujaga ini, kadang ada pemedek yang kaget ketakutan ketika ulam julit muncul karena ukurannya panjang hingga sering dikira ada ular yang tiba-tiba keluar sarang. Padahal, itu justru pertanda baik karena kemunculan ulam julit merupakan restu dari Ida bahwa doa pemedek yang bersangkutan terkabulkan. Biasanya, ulam julit itu akan keluar dan berenang mengelilingi pemedek yang sedang melukat.

“Dari kemunculan Ida berupa ikan julit ini sesungguhnya adalah simbol. Bahwa ikan julit kan licin, simbol kelancaran. Jadi yang berdoa di Pura Panca Tirta, astungkara akan dilancarkan rezeki, jodoh, serta penyakit pun dijauhkan,” katanya.

Menyoal tentang pantangan jika hendak melukat di Pura Panca Tirta, jelas Jro Mangku Ketut Mekel, antara lain perempuan yang sedang menstruasi, atau sedang cuntaka ada kematian di keluarganya.

Ketika membahas tentang pakaian pemedek, Jro Mangku Ketut Mekel menjelaskan bahwa krama yang datang dari agama apapun, hendaknya mengikuti tata etika berbusana mengikuti adat umat Hindu, yakni berbaju adat madya. Selain itu, diharapkan membawa baju ganti karena nantinya akan mengikuti ritual melukat di pancuran bambu di areal pura.

Pada akhir perbincangan, Jro Mangku Ketut Mekel mengingatkan pemedek yang ingin tangkil bahwa seyogyanya ‘yening satu keluarga, satu mrajan alit atau sanggah, membawa satu pejati, terus canang 10 pasang berisi rarapan untuk banten keliling’.

“Pemedek yang akan melakukan pinunasan atau permohonan, sebelum datang ke pura, hendaknya terlebih dahulu ngaturan bhakti dan mepekeling di merajan atau sanggah di rumah masing-masing. Tujuannya untuk matur piuning ke Bhatara Guru jika akan nunas tamba atau keturunan dan lain-lain di Pura Panca Tirta,” katanya, berpesan.  (LE-KR)

Pos terkait