Karangasem, LenteraEsai.id – Dugaan kasus pemukulan yang terjadi di Banjar Dinas Yehe, Desa Sebudi, Kecamatan Selat, Kabupaten Karangasem akhirnya berakhir dengan damai dari kedua belah pihak yang terlibat, yaitu tersangka pelaku Jro Mangku Gede Sidaguna alias Jro Mangku Galon dengan korban I Wayan Kartika.
Bahkan perdamaian tersebut bukan hanya dilakukan secara sekala tapi juga niskala oleh kedua belah pihak yang bermasalah dengan melakukan sembahyang bersama serta upacara ‘medewa saksi’ di Pura Puseh Desa Sibetan, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Kamis (20/5).
“Proses medewa saksi sekaligus ngaturang guru piduka ini merupakan inisiatif dari saya sendiri agar permasalahan ini selesai secara tuntas, baik sekala maupun niskala,” kata Jro Mangku Galon.
Prosesi medewa saksi tersebut dipuput oleh Jro Mangku Setiti yang merupakan pemangku Pura Puseh Desa Sibetan yang dilaksanakan dengan melakukan persembahyangan bersama antara korban dan pelaku, disaksikan juga oleh beberapa warga Banjar Dinas Pengawan, Desa Sibetan serta kerabat dari I Wayan Kartika.
Usai persembahyangan, Jro Mangku Galon sempat mengatakan kalau kejadian pemukulan tersebut hanya miskomunikasi saja, bahkan dirinya dan korban juga sudah sepakat berdamai yang dilakukan di Kantor Desa Sibetan pada Senin (17/5) lalu.
Saat pertemuan di Kantor Desa Sibetan tersebutlah Jro Mangku Galon mengutarakan niatnya untuk menggelar persembahyangan. Hal ini dilakukan agar permasalahan yang ada selesai secara tuntas baik sekala maupun niskala, sehingga tidak ada masalah lagi untuk kedepannya.
Semantara itu Wayan Kartika sendiri mengatakan kalau persoalan ini sudah selesai dan dirinya juga sudah mencabut laporan ke Polres Karangasem yang sempat dilakukannya beberapa waktu yang lalu.
“Saya sudah memaafkannya dan persoalan ini sudah selesai. Selain itu laporan saya ke Polres Karangasem juga sudah saya cabut,” kata Wayan Kartika.
Perlu diketahui, kejadian tersebut berawal saat Jro Mangku Galon kurang puas dengan hasil kerja dari Wayan Kartika yang mengoperasikan alat berat di lahan galian C miliknya. Saat itu sempat terjadi persoalan hingga sempat terjadi aksi kekerasan fisik.
Saat itu juga Wayan Kartika langsung diberhentikan dari pekerjaannya oleh pemilik alat berat dan digantikan dengan operator lain. Seminggu kemudian Wayan Kartika pergi ke rumah Jro Mangku Galon dengan tujuan mencari tanda tangan agar uang makan hasil kerja yang telah dilakukannya bisa keluar.
Tapi saat itu juga terjadi salah paham lagi yang membuat Wayan Kartika sempat kena pukul, akan tetapi Jro Mangku Galon kemudian membantah kalau dia telah melakukan pemukulan tersebut.
“Ketika itu ramai ada anak muda di rumah saya, sehingga saya tidak tahu sampai terjadi insiden pemukulan tersebut. Tapi intinya kami sudah saling memaafkan dan tidak ada lagi persoalan di antara kita berdua,” kata Jro Mangku Galon. (LE-Jun)







