Dukung MDA dan PHDI, Sandhi Murti Siap ‘Puputan’ Bela Gumi Bali

Paguyuban Sandhi Murti didukung sejumlah organisasi melakukan pemasangan spanduk di pintu masuk pasraman di Jalan Tukad Balian, Denpasar

Denpasar, LenteraEsai.id – Sejumlah organisasi yang tergabung ke dalam Perguruan Kebatinan Sandhi Murti bergerak menyuarakan dukungan untuk Majelis Desa Adat (MDA) Provinsi Bali dan Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali yang mendapatkan somasi dari Majelis Ketahanan Krama Bali Nusantara (MKKBN).

Langkah somasi dilakukan atas dasar kekecewaan MKKBN terhadap implementasi Surat Keputusan Bersama (SKB) Nomor 106/PHDI-Bali/XII/2020 dan Nomor 07/SK/MDA-Prov Bali/XII/2020 tentang Pembatasan Kegiatan Pengembangan Ajaran Sampradaya Non Dresta Bali yang dikeluarkan oleh MDA dan PHDI Bali belum lama ini.

Bacaan Lainnya

Menyikapi itu, sejumlah organisasi bernapaskan Hindu bersama puluhan anggota Sandhi Murti bergerak menuju Pasraman Sri Jagannatha Gourangga yang terletak di Jalan Tukad Balian Denpasar pada Jumat siang, 7 Mei 2021. Mereka melakukan konvoi kendaraan dari Markas Sandhi Murti di Jalan Tukad Citarum Denpasar, bergerak menuju Pasraman Sri Jagannatha Gourangga.

Setiba di depan pasraman, mereka mengadakan orasi dan meneriakkan yal-yel yang bernada pembelaan terhadap adat dan budaya Bali, serta siap ‘puputan’ untuk menjaga ketenteraman dan kedamaian Gumi Bali.

Diiringi tetabuhan baleganjur, puluhan orang yang berbusana adat madya ini kemudian memasang spanduk bertuliskan: “Kami dengan segenap jiwa dan raga mendukung SKB PHDI & MDA. Melarang & Menolak Sampradaya yang Tidak Sesuai Dengan Dresta Bali dan Siap Mendukung Desa Adat Menutup Ashram Sampradaya Non Dresta Bali”.

“Jangan coba-coba melepas spanduk ini, itu sama dengan melawan kami!,” teriak sejumlah orang diiringi kepalan tangan, menegaskan.

Pada bagian dalam pasraman, terlihat seorang pria yang malah sibuk mengabadikan orasi yang tengah berlangsung dengan menggunakan handphone, seolah memang sudah siap dengan kedatangan puluhan awak organisasi dan anggota Sandhi Murti itu.

Usai pemasangan spanduk di pintu masuk pasraman, puluhan orang itu berbalik dengan tertib dengan menyusuri Jalan Tukad Balian. Sebagian ada yang membubarkan diri, sebagian lagi memutuskan kembali lagi ke Markas Sandhi Murti.

Sementara itu, Pendiri Paguyuban Sandhi Murti I Gusti Ngurah Harta menekankan, tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menjaga tradisi dan budaya Bali agar tidak dirongrong kelompok sampradaya asing.

“Kita hari ini memperkuat SKB, inilah yang kita dukung dan pertahanankan. Makanya kita berjuang mati-matian untuk itu. Dan syukur sudah dilakukan dengan tertib, cerdas dan tidak anarkis oleh rekan-rekan kami,” ujar Ngurah Harta, menandaskan.

Selanjutnya, kata Ngurah Harta, akan dilihat reaksi para pendukung sampradaya ini. “Kita lihat reaksi mereka. Kalau mereka lakukan yang tidak bagus, kita lakukan yang lebih keras dari mereka. Target dari tujuan ini adalah menutup Hare Krishna dan sampradaya asing lainnya, agar tidak berkegiatan di Gumi Bali,” ucapnya.

Ngurah Harta yang juga dikenal sebagai tokoh spitual, menegaskan, pelarangan terhadap sampradaya asing melakukan praktik di Bali, antara lain dimaksudkan agar mereka tidak lagi mengejek dan menjeleng-jelekkan Hindu dan tradisi yang tumbuh dan berkembang di Gumi Bali.

“Mereka selama ini menyebut Bali sudah buruk. Kita anggap mereka itu HTI di agama Islam. Nah, sampradaya ini HTI-nya Hindu. Kita tidak ingin ada seperti itu di Bali. Kita ingin tradisi Nusantara terjaga dengan baik, di manapun itu berada,” katanya, dengan mimik wajah seorang patriot yang gagah berani.  (LE-DP)

Pos terkait