judul gambar

Menyapa Surga Tropis di Pulau Perhentian

Menyapa surga tropis di Pulau Perhentian
Kapal cepat bersandar di Dermaga Pulau Perhentian Kecil, Negeri Terengganu, Malaysia, Senin (22/6/2026). (ANTARA/ZUBI MAHROFI)

Malaysia, LenteraEsai.id – Langit Kota Bharu tampak cerah ketika pesawat AirAsia yang kami tumpangi menyentuh landasan Bandara Sultan Ismail Petra pada Sabtu (21/6) sore.

Dari balik jendela pesawat, hamparan hijau dan garis pantai di pesisir timur Malaysia membentang tenang, menyambut perjalanan menuju salah satu destinasi bahari paling memesona di Asia Tenggara, Pulau Perhentian.

Bacaan Lainnya

Perjalanan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, yang dimulai pukul 12.10 WIB itu terasa istimewa. Bukan hanya karena destinasi yang dituju, tetapi juga karena kemudahan akses yang kini tersedia bagi wisatawan Indonesia.

AirAsia baru saja membuka rute langsung Jakarta–Kota Bharu yang mulai beroperasi pada 16 Juni 2026. Dengan empat penerbangan setiap pekan, rute ini menjadi jalur internasional langsung pertama yang menghubungkan Kota Bharu dengan Indonesia.

Kehadiran rute tersebut memangkas waktu perjalanan sekaligus membuka akses ke pesisir timur Malaysia, kawasan yang selama ini kerap kalah populer dibandingkan Kuala Lumpur atau Penang. Padahal, wilayah ini menyimpan kekayaan budaya Melayu yang kuat, kuliner autentik, serta bentang alam laut yang menawan.

“Kami sangat antusias memperkenalkan konektivitas baru ini dan waktunya sangat tepat untuk semakin mendorong pertumbuhan destinasi pesisir utara kami melalui kedatangan lebih banyak wisatawan internasional, seiring Kelantan memperluas pengembangan sektor wisata medis,” ujar General Manager AirAsia Malaysia, Dato’ Captain Fareh Mazputra.

Kota Bharu dan Jakarta sejatinya memiliki kedekatan yang tidak asing. Keduanya terhubung oleh budaya Melayu-Muslim, tradisi yang kaya, serta hubungan sosial yang telah terjalin sejak lama. Jika Jakarta dikenal sebagai pusat ekonomi yang dinamis, Kota Bharu menawarkan ritme kehidupan yang lebih santai dengan pesona budaya tradisional dan kuliner khas Kelantan.

Namun, Kota Bharu hanyalah gerbang awal. Tujuan sesungguhnya masih berada di tengah Laut China Selatan.


Menuju Pulau Perhentian

Setelah tiba sekitar pukul 15.30 waktu Malaysia, perjalanan dilanjutkan menuju Kuala Besut, kota pelabuhan kecil yang menjadi pintu utama menuju Kepulauan Perhentian.

Menjelang senja, rombongan tiba di Fairfield by Marriott Kuala Besut untuk bermalam sebelum menyeberang ke pulau keesokan harinya.

Malam di Kuala Besut berjalan tenang. Lalu lintas tidak terlalu padat, sementara angin laut membawa aroma asin yang khas. Di kejauhan, lampu-lampu kapal nelayan berkelip di atas permukaan laut yang gelap. Suasana itu menghadirkan rasa antusias sekaligus penasaran akan keindahan yang menanti di seberang lautan.

Keesokan paginya, Pelabuhan Kuala Besut sudah ramai sejak matahari belum terlalu tinggi. Tepat pukul 09.00, rombongan AirAsia yang terdiri atas jurnalis dan kreator konten dari Indonesia menaiki kapal cepat untuk menyeberangi Laut China Selatan.

Ombak pagi itu cukup bersahabat. Kapal melaju membelah laut biru, sementara hembusan angin sesekali menerpa wajah. Sekitar 40 menit kemudian, pemandangan yang selama ini hanya terlihat di brosur wisata akhirnya hadir di depan mata.

Air laut berwarna biru kehijauan membentang sejauh pandangan. Dasar laut tampak jelas bahkan dari atas kapal. Garis pantai berpasir putih berkilau diterpa matahari, sementara perbukitan hijau mengelilingi pulau layaknya benteng alami.

Kesan pertama itu langsung menjelaskan mengapa Pulau Perhentian kerap disebut sebagai salah satu destinasi bahari terbaik di Malaysia.

 

Kemewahan dan alam

Di salah satu sudut Pulau Perhentian Kecil berdiri Marriott Resort Perhentian, properti pertama Marriott Hotels di Terengganu yang berada di kawasan Taman Laut Kepulauan Perhentian, wilayah yang dikenal kaya akan biodiversitas laut.

Begitu tiba, perpaduan harmonis antara kemewahan dan alam langsung terasa. Bangunan resor dirancang mengikuti kontur alami pulau sehingga menyatu dengan lanskap sekitarnya. Dari hampir setiap sudut kawasan, Laut China Selatan hadir sebagai latar yang memanjakan mata.

Marriott Resort Perhentian memiliki 200 kamar deluxe dan 16 vila eksklusif yang menghadap langsung ke laut. Setiap bangunan ditempatkan secara cermat agar tamu dapat menikmati panorama tanpa halangan, sekaligus memperoleh privasi maksimal.

Dari balkon kamar, pemandangan laut selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Pagi menyuguhkan nuansa biru yang lembut, siang memantulkan kilau bak kristal, sementara malam menghadirkan siluet tenang di bawah cahaya bulan.

Fasilitas yang tersedia pun lengkap. Mulai dari tiga kolam renang luar ruang yang menghadap laut, pusat kebugaran 24 jam, yoga deck dengan panorama laut terbuka, hingga spa yang menawarkan pengalaman relaksasi di tengah suasana tropis.

Resor ini juga dirancang untuk mengakomodasi berbagai kegiatan berskala besar. Ballroom seluas 551 meter persegi yang dilengkapi layar LED dan panggung menjadikannya lokasi ideal untuk konferensi, pertemuan bisnis, maupun pesta pernikahan. Area pra-fungsi yang menghadap laut serta teras terbuka semakin menambah kesan elegan yang sulit ditandingi.

 

Budaya lokal

Pengalaman di Marriott Resort Perhentian ternyata tidak hanya berkisar pada fasilitas mewah. Beragam aktivitas budaya dan pengalaman lokal juga menjadi bagian penting yang diperkenalkan kepada para tamu.

Dalam kesempatan itu, kami diajak belajar memasak nasi lemak dan ikan asam pedas, dua hidangan ikonik Malaysia yang kaya rempah dan lekat dengan tradisi kuliner setempat.

Tak hanya itu, para peserta juga mengikuti kegiatan membuat kaus tie-dye dengan warna-warna cerah khas pantai serta belajar melukis batik. Aktivitas ini menjadi pengalaman menarik karena batik merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki kedekatan sejarah antara Indonesia dan Malaysia.

Lewat kegiatan-kegiatan sederhana itu, para tamu tidak hanya menikmati keindahan alam Pulau Perhentian, tetapi juga diajak memahami budaya lokal dari jarak yang lebih dekat.

 

Keindahan laut

Berlibur ke Pulau Perhentian tentu belum lengkap tanpa menikmati pesona pantainya.

Kami memulai aktivitas dengan berkayak di Tranquility Beach. Nama pantai itu tampaknya bukan sekadar julukan. Suasananya benar-benar tenang, jauh dari keramaian, dengan permukaan air yang relatif datar sehingga nyaman untuk mendayung santai.

Dari sana, perjalanan berlanjut ke Romantic Beach, salah satu lokasi snorkeling favorit di kawasan ini.

Begitu wajah masuk ke dalam air, dunia yang berbeda seakan terbuka. Ikan-ikan kecil berenang di sela-sela karang, ikan anemon bergerak mengikuti arus, sementara berbagai biota laut hidup harmonis dalam ekosistem yang masih terjaga.

Waktu terasa berjalan lebih cepat di bawah permukaan laut. Setiap sudut menghadirkan kejutan baru yang membuat siapa pun enggan segera kembali ke daratan.

Puncak pengalaman di Pulau Perhentian hadir saat kami mengikuti program konservasi karang bertajuk Inside the Reef.

Program ini bukan sekadar aktivitas wisata laut, melainkan juga upaya edukasi untuk memperkenalkan pentingnya menjaga ekosistem bawah laut yang menjadi aset utama Pulau Perhentian.

Begitu memasuki air, keindahan bawah laut langsung menyergap. Air yang sangat jernih memungkinkan jarak pandang lebih dari lima meter. Cahaya matahari menembus permukaan laut dan menari di antara terumbu karang berwarna-warni yang menjadi rumah bagi berbagai spesies ikan tropis.

 

Matahari tenggelam di Laut China Selatan

Menjelang senja, langit berubah menjadi gradasi jingga, emas yang memantul di permukaan laut yang tenang. Sesekali, angin laut berembus lembut, menambah kesan damai yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Momen itu terasa seperti lukisan hidup yang bergerak perlahan di depan mata. Dalam suasana seperti itu, waktu seolah melambat.

Tidak ada kebisingan kota. Tidak ada kemacetan. Hanya suara alam yang menemani percakapan dan tawa para tamu.

Tiga hari mungkin terlalu singkat untuk menikmati seluruh pesona pulau ini. Namun, waktu yang singkat itu cukup untuk memahami mengapa Perhentian begitu istimewa.

Di sini, keindahan alam, kekayaan budaya, kenyamanan resor, dan semangat konservasi berjalan berdampingan.

Pulau Perhentian memang bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang untuk melambat, menikmati alam, dan mengingat kembali bahwa perjalanan terbaik bukan selalu tentang seberapa jauh melangkah, melainkan seberapa dalam sebuah tempat tinggal dalam ingatan. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait