judul gambar

Nyaris Putus Sekolah, Anna Kini Mengejar Bangku Kuliah

Nyaris putus sekolah, Anna kini mengejar bangku kuliah
Siswa Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (ANTARA/Tumpal Andani Aritonang)

Banjarbaru, LenteraEsai.id – Pagi itu, Anna Maggefirah mengenakan kembali seragam sekolah yang sempat ia pikir tak akan dipakainya lagi. Di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ia mengikuti Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) sebagai awal tahun ajaran baru.

Setahun sebelumnya, setelah lulus SMP, remaja 16 tahun itu menghadapi ketidakpastian. Di saat teman-temannya bersiap masuk SMA, kehilangan kedua orang tua dan keterbatasan ekonomi membuat harapannya melanjutkan sekolah nyaris pupus.

Bacaan Lainnya

Seragam, buku, dan kebutuhan sekolah lainnya menjadi pengeluaran yang sulit dipenuhi karena kedua orang tuanya sudah tidak ada.

“Orang tua saya sudah meninggal, saya tinggal bersama bibi. Saat libur semester, saya cuma mengunjungi rumah bibi,” kata Anna.

Ia bahkan sempat berjualan kue di sekitar tempat tinggalnya. Bukan karena tak ingin bersekolah lagi, tetapi karena ia tak melihat jalan untuk melanjutkan pendidikannya.

Suatu hari, Ketua RT di sana memberi tahu tentang Sekolah Rakyat, program pendidikan pemerintah bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Dari sanalah harapan itu kembali muncul.

“Awalnya bingung mau sekolah di mana karena ekonomi. Terus ketemu sama Pak RT, dia bilang tentang sekolah ini. Saya tertarik, terus diusahakan sampai saya bisa sekolah di sini,” katanya.

Meski sempat ragu saat pertama kali mendaftar, keyakinannya tumbuh setelah mulai belajar di Sekolah Rakyat pada 14 Juli 2025.

“Sebenarnya khawatir nanti berhenti di tengah jalan. Tapi setelah dengar ada beasiswa kuliah bagi lulusan Sekolah Rakyat, saya ingin berusaha mendapat nilai terbaik,” katanya.

Sejak saat itu, Anna menjalani hari-harinya di sekolah berasrama dengan rutinitas yang berbeda dari sebelumnya. Seluruh kebutuhan belajarnya, mulai dari tempat tinggal, makan, perlengkapan sekolah, hingga buku pelajaran, dipenuhi sehingga ia dapat lebih berkonsentrasi mengikuti pembelajaran.

 

Tumbuh bersama mimpi baru

Kesempatan itu perlahan membuka ruang bagi Anna untuk mencoba berbagai hal yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan satu tahun lalu. Sekarang, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua OSIS SRT 9 Banjarbaru.

Kesempatan untuk menunjukkan bakatnya datang ketika ia diminta berpidato dalam bahasa Inggris di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Pengalaman itu diakuinya menjadi salah satu momen yang paling membekas selama menjalani pendidikan di sekolah tersebut.

Selain aktif berorganisasi, Anna mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri. Ia menjadi peserta Olimpiade Sains Nasional serta Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Dalam festival tersebut, ia meraih juara ketiga lomba membaca puisi.

Hampir di setiap waktu luang, ia memilih duduk di perpustakaan sekolah daripada kembali ke asrama. Ia gemar membaca buku-buku sosiologi dan sejarah, dua bidang yang memperkuat keinginannya untuk menjadi psikolog.

“Saya mau menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat untuk memperluas wawasan dan pengetahuan, (mengubah) mindset biar lebih maju. Supaya dianggap punyalah, punya pengalaman, punya ilmu buat dibagi,” katanya.

Menurut Anna, membaca membantu membuka cara pandang baru tentang kehidupan manusia dan persoalan yang mereka hadapi. Karena itu, ia juga bercita-cita suatu hari menulis buku agar pengalaman hidupnya dapat menginspirasi anak-anak lain yang menghadapi kesulitan serupa.

Meski menyadari masih banyak tantangan bagi dirinya untuk melanjutkan kuliah, Anna tidak kehilangan semangat. Kesempatan mendapatkan beasiswa kuliah menjadi salah satu alasan yang mendorongnya untuk lebih giat belajar.

 

Memuliakan “wong cilik”

Perjalanan Anna menjadi satu contoh bagaimana Sekolah Rakyat membuka kembali kesempatan belajar bagi anak-anak yang sempat terancam putus sekolah.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang selama ini menghadapi keterbatasan akses pendidikan.

“Yang pertama untuk memuliakan wong cilik dengan memberikan penghormatan, fasilitas sekolah unggulan, pelayanan terbaik, menumbuhkan kepercayaan siswa agar mereka merasa setara dan berdaya. Semua difasilitasi negara,” kata Saifullah.

Menurut dia, seluruh kebutuhan siswa dipenuhi selama menempuh pendidikan, mulai dari tempat tinggal, makan, perlengkapan sekolah, hingga biaya pendidikan. Dengan begitu, mereka dapat belajar tanpa dibebani persoalan ekonomi.

Di Sekolah Rakyat, para siswa juga diberikan ruang untuk mengembangkan potensi, membangun kepercayaan diri, dan menyiapkan kehidupan yang lebih baik tanpa harus mewarisi keterbatasan pendidikan dari generasi sebelumnya.

Bagi Anna, Sekolah Rakyat bukan sekadar tempat belajar, tetapi kesempatan untuk kembali melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti. Dari seorang remaja yang hampir mengubur keinginan bersekolah, sekarang ia menatap masa depan dengan target yang jelas: menyelesaikan pendidikan, melanjutkan kuliah, dan menjadi psikolog.

“Setelah lulus dari Sekolah Rakyat, saya nggak mau langsung kerja. Saya mau lanjut kuliah,” katanya.

Perjalanan Anna mungkin baru dimulai. Namun, seragam sekolah yang pernah ia pikir tak akan dikenakannya lagi kini menjadi pengingat bahwa kesempatan dapat mengubah arah hidup seseorang. (LE)

Source: ANTARA

Pos terkait