Surabaya, LenteraEsai.id – Panas siang di Jalan Ahmad Yani, Kota Surabaya, pertengahan Mei itu terasa menyengat. Arus lalu lintas bergerak padat, klakson kendaraan saling bersahutan, dan orang-orang bergegas mengejar urusan masing-masing.
Namun di tengah hiruk pikuk kota, langkah-langkah pelan para biksu berjubah cokelat justru menghadirkan suasana yang berbeda. Mereka berjalan kaki tanpa tergesa, menundukkan kepala, membawa tas sederhana, dan menyusuri jalan raya dengan ketenangan yang nyaris kontras dengan ritme kota modern.
Di trotoar, warga berhenti sejenak untuk melihat. Ada pengendara yang melambat, pedagang kecil yang melambaikan tangan, anak-anak yang memotret dengan telepon genggam, hingga warga lintas agama yang ikut memberi minuman.
Pemandangan itu mungkin sederhana, tetapi di tengah dunia yang makin gaduh oleh polarisasi sosial, konflik identitas, dan ketegangan politik, perjalanan para biksu dalam Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 terasa seperti pengingat yang datang pada waktu yang tepat.
IWFP bukan sekadar perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur untuk menyambut Waisak. Lebih dari itu, ia adalah simbol tentang bagaimana Indonesia sesungguhnya dibayangkan sebagai negeri yang beragam tetapi tetap mampu berjalan bersama.
Sebanyak 57 biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia berjalan lebih dari 600 kilometer dari Bali menuju Borobudur. Mereka melintasi kota-kota di Jawa Timur, singgah di vihara, klenteng, bahkan masjid, sambil membawa pesan perdamaian dan welas asih.
Di Banyuwangi, para biksu disambut masyarakat lintas agama di klenteng Tik Liong Tian Rogojampi. Di Surabaya, rombongan mampir ke Masjid Nasional Al Akbar sebelum melanjutkan perjalanan ke vihara. Di Bali, pemerintah daerah hingga masyarakat desa ikut mengawal perjalanan mereka.
Yang menarik, sambutan hangat itu tidak hanya datang dari umat Buddha. Banyak warga Muslim, Kristen, Hindu, hingga masyarakat umum ikut membantu perjalanan tersebut. Di tengah ruang digital yang sering dipenuhi pertengkaran identitas, pemandangan semacam itu terasa semakin langka sekaligus menenangkan.
Langkah toleransi
Indonesia selama ini sering dipuji sebagai negara majemuk yang mampu menjaga kerukunan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tantangan terhadap toleransi semakin nyata.
Media sosial membuat perbedaan mudah dipertentangkan. Politik identitas muncul hampir dalam setiap momentum politik. Bahkan ruang publik kerap dipenuhi kecurigaan terhadap kelompok yang berbeda.
Karena itu, Indonesia Walk for Peace menjadi menarik bukan hanya karena perjalanan spiritualnya, melainkan karena ia menghadirkan toleransi dalam bentuk yang konkret dan terlihat.
Selama ini toleransi sering berhenti sebagai slogan. Ia muncul dalam pidato, seminar, atau spanduk peringatan hari besar nasional. Namun di jalan raya, para biksu itu menunjukkan bahwa toleransi sejatinya hidup melalui perjumpaan langsung antarmanusia.
Saat rombongan berhenti di Masjid Al Akbar Surabaya, pesan yang muncul bukan sekadar simbolik. Ada makna yang lebih dalam, yakni rumah ibadah tidak lagi dipandang sebagai ruang eksklusif milik satu kelompok, melainkan titik temu kemanusiaan. Di sana, identitas agama tidak dihapus, tetapi justru dipertemukan dalam penghormatan.
Indonesia sebenarnya memiliki tradisi panjang soal itu. Di banyak daerah, masyarakat terbiasa hidup berdampingan tanpa terlalu sibuk mempermasalahkan perbedaan keyakinan. Kampung-kampung di Jawa, Bali, Maluku, hingga Sulawesi punya pengalaman historis tentang gotong royong lintas agama. Namun modernisasi perkotaan dan derasnya arus politik digital perlahan mengikis ruang perjumpaan tersebut.
Orang kini lebih sering bertemu di layar dibanding di jalan. Akibatnya, empati mudah menipis karena hubungan sosial berubah menjadi hubungan algoritma. Perbedaan tidak lagi dipahami sebagai kenyataan sosial yang wajar, melainkan ancaman yang harus dilawan.
Di titik inilah perjalanan para biksu memiliki kekuatan simbolik yang besar. Mereka berjalan perlahan di tengah masyarakat, membuka ruang interaksi langsung, dan mengingatkan bahwa kedamaian tidak lahir dari ceramah panjang, melainkan dari kesediaan untuk hadir bersama.
Indonesia Walk for Peace juga menunjukkan bahwa diplomasi perdamaian tidak selalu harus dilakukan di ruang konferensi internasional. Kadang ia justru lebih kuat ketika dilakukan dengan berjalan kaki melewati desa-desa, menyapa warga kecil, dan membangun hubungan emosional antarbangsa secara sederhana.
Jalan sunyi
Ada hal lain yang membuat IWFP relevan dengan kondisi Indonesia hari ini, yakni ia menghadirkan kesunyian di tengah budaya yang semakin bising.
Kehidupan modern bergerak sangat cepat. Semua orang berlomba mengejar produktivitas, popularitas, dan perhatian. Media sosial membuat manusia hidup dalam ritme yang serba reaktif. Orang mudah marah, mudah tersinggung, dan mudah menghakimi.
Dalam situasi seperti itu, perjalanan para biksu terasa seperti kritik diam terhadap dunia modern. Mereka berjalan puluhan kilometer setiap hari tanpa kemewahan, tanpa iring-iringan besar, dan tanpa tuntutan popularitas.
Bahkan ketika empat biksu kelelahan dalam perjalanan menuju Surabaya, rombongan tetap melanjutkan perjalanan dengan ritme sederhana. Di situlah makna spiritualitas menemukan bentuknya yang paling nyata, yakni ketahanan, kesabaran, dan disiplin.
Indonesia sebenarnya sedang menghadapi persoalan sosial yang lebih dalam daripada sekadar intoleransi. Masyarakat makin mudah terpecah karena kehilangan ruang refleksi. Percakapan publik terlalu dipenuhi kemarahan, sementara ruang untuk mendengar perlahan menghilang.
IWFP menawarkan pendekatan berbeda. Ia tidak datang membawa propaganda atau kampanye besar-besaran. Pesan damainya justru lahir dari tindakan sederhana, yakni berjalan kaki bersama.
Dalam tradisi Asia, perjalanan spiritual selalu memiliki makna kontemplatif. Berjalan berarti menyadari bahwa hidup tidak selalu harus dipercepat. Ada nilai tentang kesabaran dan pengendalian diri yang justru makin penting di era modern.
Karena itu, antusiasme masyarakat terhadap IWFP sesungguhnya bukan hanya bentuk penghormatan terhadap ritual keagamaan Buddha. Ada kerinduan sosial yang lebih besar, yakni kerinduan pada suasana damai, pada hubungan manusia yang lebih hangat, dan pada kehidupan publik yang tidak penuh pertengkaran.
Indonesia boleh jadi masih menghadapi banyak persoalan intoleransi. Namun sambutan masyarakat terhadap para biksu menunjukkan bahwa fondasi sosial bangsa ini sebenarnya masih kuat. Di akar rumput, masyarakat sering kali lebih siap hidup rukun dibanding perdebatan elite di ruang digital.
Merawat damai
Meski demikian, toleransi tidak boleh hanya bergantung pada momentum seremonial seperti IWFP. Tantangan terbesar Indonesia justru terletak pada bagaimana menjadikan semangat itu sebagai budaya sehari-hari.
Pendidikan menjadi kunci penting. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan slogan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi harus membangun pengalaman nyata tentang hidup bersama. Anak-anak perlu dipertemukan dengan keberagaman sejak dini, bukan hanya lewat buku pelajaran, tetapi juga interaksi sosial.
Pemerintah daerah juga perlu memperbanyak ruang publik yang mendorong perjumpaan lintas komunitas. Festival budaya, forum warga, hingga kegiatan sosial lintas agama perlu didorong lebih aktif. Perdamaian tidak lahir dari imbauan semata, melainkan dari kebiasaan hidup bersama.
Media dan ruang digital pun memiliki tanggung jawab besar. Narasi konflik sering lebih cepat menyebar dibanding cerita tentang kerukunan. Padahal masyarakat membutuhkan lebih banyak contoh konkret bahwa toleransi bukan sesuatu yang utopis.
Indonesia Walk for Peace memberi pelajaran penting bahwa perdamaian sesungguhnya tidak selalu hadir dalam forum besar dunia. Kadang ia muncul dari langkah-langkah kecil di jalan raya, dari warga yang memberi air minum kepada orang asing, dari rumah ibadah yang membuka pintu bagi perbedaan, dan dari masyarakat yang masih percaya bahwa kemanusiaan lebih penting daripada sekat identitas.
Ketika para biksu itu terus berjalan menuju Borobudur, sesungguhnya yang mereka bawa bukan hanya perjalanan spiritual menuju Waisak. Mereka sedang membawa cermin bagi Indonesia: apakah bangsa ini masih mau berjalan bersama di tengah segala perbedaannya?.
Sebab, damai bukan tujuan akhir yang selesai dicapai. Ia adalah perjalanan panjang yang harus terus dirawat, selangkah demi selangkah. (LE)
Source: ANTARA








