Denpasar, LenteraEsai.id – Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Provinsi Bali tengah menyiapkan langkah-langkah untuk mengoptimalkan pemanfaatan keyboard aksara Bali di tingkat sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Kepala Disdikpora Bali Ida Bagus Gde Wesnawa Punia mengatakan penerapan keyboard aksara Bali akan diintegrasikan melalui skema pembiayaan yang dialokasikan oleh masing-masing satuan pendidikan.
“Implementasi keyboard aksara Bali akan kami optimalkan hingga jenjang SD dan SMP dengan pembiayaan yang dianggarkan oleh sekolah masing-masing,” kata Wesnawa di Denpasar, Rabu.
Menurutnya, upaya tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Gubernur Bali Wayan Koster agar generasi muda semakin memanfaatkan teknologi untuk mendukung pelestarian kearifan lokal, khususnya aksara Bali.
Wesnawa menegaskan Disdikpora tidak mewajibkan setiap sekolah memiliki jumlah keyboard aksara Bali dalam jumlah besar. Fokus utama, kata dia, adalah meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru dalam mengajarkan penggunaan perangkat tersebut kepada siswa.
“Yang kami dorong adalah inovasi dari pengajarnya. Jika satu sekolah hanya memiliki tiga atau empat unit dan digunakan secara bergantian, itu sudah cukup. Tidak mungkin semua siswa diwajibkan memiliki karena justru akan menjadi beban,” ujarnya.
Selain itu, Disdikpora Bali juga merencanakan pembentukan laboratorium bahasa Bali di sekolah-sekolah. Laboratorium tersebut diharapkan menjadi sarana pendukung pembelajaran budaya, termasuk penggunaan keyboard aksara Bali dan penguatan nilai-nilai kearifan lokal.
Saat ini, pihaknya masih melakukan pendataan terhadap kemampuan siswa di sekolah-sekolah di bawah kewenangan dinas pendidikan kabupaten dan kota guna memetakan tingkat penguasaan penggunaan keyboard aksara Bali.
Apabila ditemukan sekolah dengan minat siswa yang tinggi namun terkendala keterbatasan anggaran, pemerintah daerah akan memberikan dukungan, baik melalui kolaborasi pembiayaan maupun pemanfaatan dana bantuan pendidikan lainnya.
“Di beberapa kabupaten dan kota sebenarnya penggunaan keyboard aksara Bali sudah berjalan hingga tingkat SD. Namun untuk daerah yang masih tertinggal, kami perlu melakukan penilaian terlebih dahulu karena belum terukur,” kata Wesnawa.
Berdasarkan pengamatan Disdikpora Bali, sekolah-sekolah di Kota Denpasar dinilai paling merata dalam penggunaan keyboard aksara Bali. Hal itu terlihat dari tingginya partisipasi siswa dalam kegiatan Bulan Bahasa Bali.
“Denpasar relatif sudah merata. Di kabupaten lain minatnya cukup tinggi, tetapi akses informasi masih terbatas sehingga perlu sosialisasi. Dunia pendidikan tidak bisa diseragamkan, harus efektif dan efisien dengan melihat kesiapan guru serta minat siswa,” ujarnya.
Ke depan, Disdikpora Bali juga berencana mengemas penggunaan keyboard aksara Bali dalam bentuk perlombaan agar generasi muda semakin termotivasi mengembangkan dan melestarikan aksara Bali di tengah pesatnya perkembangan teknologi. (LE)







