OJK Catat Kinerja Perbankan Bali Tetap Kuat, Kredit UMKM Terus Meningkat

OJK
Gedung Otoritas Jasa Keuangan - (Foto: Dok LenteraEsai)

Denpasar, LenteraEsai.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali mencatat kinerja sektor jasa keuangan di Pulau Dewata hingga April 2026 tetap solid dan stabil di tengah dinamika perekonomian global maupun domestik. Stabilitas tersebut tercermin dari pertumbuhan perbankan, pasar modal, serta industri keuangan non-bank yang terus mendukung aktivitas ekonomi daerah.

Penyaluran kredit perbankan berdasarkan lokasi bank mencapai Rp121 triliun atau tumbuh 6,41 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara kredit berdasarkan lokasi proyek meningkat lebih tinggi, yakni 9,14 persen menjadi Rp147,64 triliun.

Bacaan Lainnya

Dari sisi penggunaan, pertumbuhan kredit masih ditopang oleh kredit investasi yang naik 16,82 persen menjadi motor pembiayaan ekspansi usaha di Bali. Adapun kredit konsumsi tumbuh 4,68 persen, sedangkan kredit modal kerja masih mengalami kontraksi sebesar 1,63 persen.

OJK juga mencatat lebih dari separuh penyaluran kredit di Bali atau 51,26 persen disalurkan kepada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan pertumbuhan 5,23 persen. Segmen usaha mikro menjadi penyumbang terbesar dengan pertumbuhan mencapai 11,10 persen.

Berdasarkan sektor ekonomi, pertumbuhan nominal kredit terbesar berasal dari sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang meningkat Rp2,10 triliun atau tumbuh 15,46 persen. Kondisi ini mencerminkan semakin kuatnya pemulihan sektor pariwisata Bali yang mendorong kebutuhan pembiayaan usaha.

Di sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 6,64 persen menjadi Rp207,54 triliun, terutama didorong kenaikan tabungan masyarakat. Sementara fungsi intermediasi perbankan tetap terjaga dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 58,30 persen.

Kualitas kredit juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) gross turun menjadi 2,60 persen dari 3,21 persen pada periode yang sama tahun lalu. NPL net juga membaik menjadi 1,78 persen, sedangkan Loan at Risk (LaR) menurun menjadi 9,47 persen, mencerminkan semakin sehatnya kondisi perbankan di Bali.

Ketahanan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) juga tetap kuat dengan Cash Ratio (CR) sebesar 14,68 persen dan Capital Adequacy Ratio (CAR) mencapai 27,78 persen, jauh di atas ketentuan minimum.

Pada sektor pasar modal, jumlah investor di Bali terus bertumbuh. Hingga April 2026 tercatat 404.965 Single Investor Identification (SID) atau meningkat 32,06 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai kepemilikan saham juga melonjak 46,85 persen menjadi Rp8,25 triliun, menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi.

Sementara itu, piutang perusahaan pembiayaan mencapai Rp12,07 triliun, meski mengalami perlambatan pertumbuhan sebesar 0,59 persen. Namun kualitas pembiayaan tetap terjaga dengan Non-Performing Financing (NPF) sebesar 1,56 persen.

Penyaluran pembiayaan modal ventura justru tumbuh signifikan sebesar 28,53 persen menjadi Rp117,62 miliar, dengan tingkat NPF yang rendah, yakni 0,78 persen.

Di sektor layanan pendanaan digital, penyaluran pembiayaan fintech peer-to-peer lending meningkat 28,15 persen menjadi Rp2,20 triliun. Meski demikian, OJK mencatat Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) naik menjadi 4,67 persen, sehingga tetap perlu menjadi perhatian dalam menjaga kualitas pembiayaan.

Secara keseluruhan, OJK menilai kondisi sektor jasa keuangan di Provinsi Bali hingga April 2026 tetap terjaga dengan baik. Pertumbuhan intermediasi, meningkatnya investasi masyarakat, serta kualitas perbankan yang semakin sehat menjadi modal penting dalam mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Bali. (LE-003)

Pos terkait