Singaraja, LenteraEsai.id – Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali telah melangkah untuk mengimplementasikan kota/kabupaten cerdas. Tentunya implementasi ini memerlukan komitmen dari seluruh pihak.
Hal tersebut disampaikan Penjabat (Pj) Bupati Buleleng Ketut Lihadnyana saat ditemui usai melakukan penandatanganan komitmen bersama Kabupaten Buleleng menuju ‘Kota/Kabupaten Cerdas’, di Hotel Banyualit Spa and Resort Singaraja, Rabu (4/10/2023).
Lihadnyana menjelaskan, para petugas yang akan terlibat dalam implementasi kota/kabupaten cerdas sudah dilatih melalui bimbingan teknis (bimtek). Upaya-upaya penguatan ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja, namun perlu komitmen seluruh pihak dan seluruh lapisan masyarakat untuk implementasi hal tersebut.
“Dukungan dari seluruh pihak sangat diperlukan. Termasuk dari dunia usaha,” ujar Pj Bupati Lihadnyana sembari menambahkan bahwa saat ini Buleleng sebenarnya sudah mengarah ke era digitalisasi.
Implementasi digitalisasi mendorong efektivitas, efisiensi, akuntabilias, dan transparansi pelayanan publik. Dengan digitalisasi, pelayanan menjadi cepat, terukur dan prosesnya transparan. Masyarakat bisa mengetahui sudah sejauh mana pelayanan diberikan kepada mereka. Bukti dari sebuah pelayanan sangat jelas karena sudah ada jejak-jejak digital.
“Dengan demikian, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah akan meningkat. Ini dalam konteks pelayanan publik. Jika konteks ekonomi bagaimana digitalisasi bisa menaikkan kelas UMKM. Misalnya, menggunakan digital untuk memperluas pemasaran,” ujarnya.
Lihadnyana menyebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng selalu mendukung digitalisasi. Termasuk dalam hal anggaran. Saat ini, Buleleng Command Center (BCC) sedang dibangun. Ini juga merupakan sebuah bentuk dukungan mengingat investasi dalam hal digital memerlukan biaya yang besar. Dengan investasi ini, dampaknya adalah efisiensi karena telah mengimplementasikan digitalisasi.
“Investasi digital besar awalnya. Akan tetapi, dalam hal pelayanan publik nantinya akan ada efisiensi,” katanya, menjelaskan.
Sementara itu, Diah Mutiarin, tenaga ahli Kota/Kabupaten Cerdas Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) RI mengungkapkan, hingga saat ini ada 150 kota/kabupaten yang telah mengimplementasikan kota/kabupaten cerdas. Khusus untuk Kabupaten Buleleng, implementasi kota/kabupaten cerdas ini diharapkan dapat mengintegrasikan inovasi yang ada menjadi satu konsep kota/kabupaten cerdas.
Saat ini, semua aspek sudah digital. Akan tetapi, kesesuaian antara sistem dan data belum tercapai dengan baik. Kesesuaian yang baik juga diharapkan bisa diimplementasikan oleh Kabupaten Buleleng. “Dari semua itu, implementasi kota/kabupaten cerdas juga diharapkan bisa menggerakkan semua dimensi untuk dapat menunjang pembangunan di daerah,” ujar dia.
Ia menyebutkan, kota/kabupaten cerdas dilakukan secara kolaborasi antara pemerintah beserta pihak terkait. Pemerintah daerah harus bekerja sama dengan akademisi dan juga sektor usaha-usaha yang ada. Termasuk kerja sama dengan media massa. Media menjadi sangat penting dalam hal penerapan kota/kabupaten cerdas.
“Kolaborasi juga bisa dilakukan dalam hal penganggaran untuk meningkatkan dana non APBD maupun non APBN, karena jika hanya bersandar pada APBD, menurut saya dorongannya sangat kurang,” kata Diah Mutiarin, menyampaikan. (LE/Bel)







