Buleleng, LenteraEsai.id – I Wayan Wage (78) dan Ni Wayan Sinah (69), pasangan suami istri (pasutri) yang sudah tergolong renta, selama ini hidup di bawah garis kemiskinan. Keluarga ini nampaknya dapat digolongkan ke dalam kategori kemiskinan ekstrem.
Betapa tidak, selama belasan tahun mereka menghuni gubuk bambu di atas tanah milik pribadi di Banjar Dangin Margi, Desa Tunjung, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Padahal, pemerintah sedang gencar-gencarnya berupaya menghapuskan kemiskinan ekstrem di masyarakat.
Bahkan, Pj Gubernur Bali SM Mahendra Jaya dengan tegas memerintahkan jajarannya, serta mengajak segenap komponen masyarakat untuk secara bersama-sama ‘ngrombo’, atau bergotong royong dalam mengentaskan kemiskinan ekstrem seperti yang diinstruksikan oleh Presiden Joko Widodo.
Nah, untuk bertahan hidup, Wage, sebuatan akrabnya, berusaha memenuhi kebutuhan makan sehari-hari dari hasil kerajinan tangan seperti membuat anyaman tamas dari daun kelapa, dan guungan (sangkar ayam dari bambu) yang hasilnya tak menentu.
Saat ditemui di rumahnya Rabu (4/10/2023), Wage terlihat sedang merawat istrinya yang dalam kondisi sakit. “Kami jarang berobat ke Puskesmas, cukup pakai obat dari balian (dukun) saja. Hampir dua minggu sudah istri saya sakit, keluar darah dari batang hidungnya,” ucap Wage sambil mempersilahkan duduk di lantai beralaskan tikar.
Wage menceritakan, gubuk tempat tinggalnya sudah dihuni belasan tahun lamanya, di mana bagian rangkanya sudah banyak yang lapuk. Namun demikian, selama ini belum menerima bantuan dari pemerintah daerah untuk program bedah rumah.
“Kalau dipotret (difoto) sama Pak Kadus sudah. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan perbaikan. Ya, kami pasrah saja,” katanya dengan sorot mata yang lembut, menerawang jauh.
Untuk memetuhi kebutuhan hidup dari menganyam guungan dan membuat tamas, Wage mengaku sering tidak cukup, namun bersyukur masih ada uluran bantuan dana dari pemerintah yang diterima 3 bulan sekali.
“Tiap tiga bulan kami menerima Rp600 ribu, dan uang itulah kami pakai beli beras untuk makan setiap hari. Ya, makan seadanya. Nasi sama uyah lengis (garam diolesi minyak kelapa) seringnya. Kadang ada sayur jepang, taoge. Kalau pakai lauk ikan atau daging nyaris tak pernah. Uangnya dari mana?. Beli lauk tempe dan tahu saja sudah jarang. Bagi kami yang terpenting punya beras,” ucapnya dalam bahasa Bali yang medok.
Pasangan suami istri ini sesungguhnya punya anak laki-laki yang sudah dewasa, namun kondisi ekonominya tak jauh berbeda dengan orang tuanya. “Kondisi ekonomi anak laki-laki kami tak jauh beda. Anak pontang-panting kerja serabutan untuk menghidupi keluarganya,” ujar Wage, lirih.
Sementara itu, Perbekel Desa Tunjung I Made Sadia ketika dikonfirmasi melalui telepon seluler mengenai keberadaan atau kondisi warganya yang adalah pasangan suami istri Wage dan Sinah, mengaku belum mengetahui secara pasti.
“Belum, kami belum mengetahui secara pasti. Besok ya, saya koordinasi dulu dengan Kadusnya,” ucapnya, singkat. (LE/Bel)







