Denpasar, LenteraEsai.id – Memeriahkan peringatan HUT ke-78 Kemerdekaan RI, Desa Dangin Puri Kangin, Kecamatan Denpasar Utara, menggelar ‘Lomba Ngelawar’ dan lomba lainnya antarbanjar yang berlangsung di Jalan Menuh Kota Denpasar, Sabtu (19/8/2023).
Selain guna memeriaahkan HUT Kemerdekaan RI, lomba juga dilaksanakan untuk menjaga tradisi ngelawar agar tidak punah. Seperti diketahui, lawar adalah masakan tradisional khas Bali yang bahan dasarnya daging cincang dan kelapa parut dengan menggunakan basa genep. Lawar dapat juga dicampur bahan sayur-sayuran sesuai selera.
Perbekel Desa Dangin Puri Kangin, I Wayan Sulatra ST, menyatakan ‘Lomba Ngelawar’ antarbanjar ini untuk melestarikan adat istiadat dan budaya berdasarkan agama Hindu. Dengan melibatkan sekeha setiap banjar yang masing-masing beranggotakan 10 orang, diharapkan nantinya mereka bisa sebagai penerus dalam menjaga tradisi ngelawar ini.
Selain itu, ‘Lomba Ngelawar’ ini juga berkaitan dengan menyambut HUT ke-78 Kemerdekaan RI dan mempererat hubungan kekeluargaan warga antarbanjar yang ada di wilayah Desa Dangin Puri Kangin khususnya, ujar Sulatra.
Mengenai peserta yang ikut, Sulatra mengungkapkan, lomba melibatkan tujuh banjar di Desa Dangin Puri Kangin, yaitu Banjar Kreneng, Banjar Kreneng Kaja, Banjar Merta Nadhi, Banjar Kertha Buana, Banjar Kertha Buana Kaja, Banjar Merta Rauh, dan Banjar Merta Rauh Kaja.
Dengan adanya ‘Lomba Ngelawar’ ini, diharapkan nantinya para sekeha dari kalangan teruna teruni bisa melajutkan tradisi ini untuk menggantikan orang tua mereka ngayah, baik dalam upacara keagamaan di pura maupun upacara lainnya, ujarnya.
“Dalam ‘Lomba Ngelawar’ ini yang dinilai adalah cara penggarapan, adonan lawar, dan cita rasa lawar dengan melibatkan tim juri dari Dinas Kebudayaan Kota Denpasar,” kata I Gede Anom Ranuara SPd, ketua tim juri yang didampingi anggota juri lainnya, I Gusti Ngurah Gede Marhaendra dan I Nyoman Warkayana.
Di samping itu, penilaian juga dilakukan atas kekompakan sekehe peserta loma, kerja sama, keterampilan dan higienitas atau kebersihan selama proses pengerjaan lawar dilakukan. “Meski lawar itu rasanya enak, namun jika penyajian atau prosesnya tidak bersih maka nilainya diturunkan,” ujar Anom.
Dikatakan, lawar pada umumnya merupakan olahan bahan mentah dengan memporposikan bumbu sebagai penangkal dan dapat menanggulangi kemungkinan timbulnya beberapa jenis bakteri dalam olahan tersebut. Selain itu, lawar juga mencari rasa, yang dalam istilah Bali menyatukan rasa antara komponen satu, dua dan tiga dengan kebersamaan yang merupakan simbolisasi sebuah bentuk keorganisasian yang terjalin, seperti halnya ada yang mengolah bumbu, bahan dasar dan lain-lainnya yang disatukan.
“Nah di situlah sang aktor atau sang pemimpin yang menentukan kapasitas apa yang harus dominan dan kapasitas pelengkap lainnya hingga membuat sajian itu menjadi sedap dan enak di lidah,” ujar Anom, menjelaskan.
Muncul sebagai pemenang pada ‘Lomba Ngelawar’ kali ini, Juara 1 diraih Banjar Merta Nadhi, Juara 2 Banjar Kertha Buana Kaja dan Juara 3 digondol Banjar Mertha Rauh Kaja.
Sementara itu, Koordinator Sekeha Lawar Paon Kertha Buana Kaja Ida Bagus Putu Surya Wirama yang akrab disapa Jik Tu, ketika dihubungi terpisah mengatakan, kegiatan ini merupakan suatu langkah untuk mencari bibit-bibit generasi muda-mudi banjar, pecinta kuliner lokal yang nantinya diharapkan mampu bersaing di dunia kuliner Bali pada umumnya. (LE/Duh)







