‘Ngangkid’, Upacara Pitra Yadnya ala Desa Bali Aga Pedawa

Campuhan 12 aliran sungai di Tukad Pengangkidan yang dijadikan pusat Upacara Ngangkid di Desa Pedawa (Foto: LenteraEsai/Anom Wijaya)

Buleleng, LenteraEsai.id – Pedawa, merupakan salah satu dari empat desa di lereng perbukitan yang masuk ke dalam wewengkon desa tua Bali Aga di Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Bali bagian utara.

Sama seperti desa-desa lain pada umumnya di Bali, di lingkungan masyarakat Pedawa pun menjalankan upacara Pitra Yadnya atau Ngaben, yakni upacara untuk memuliakan para arwah warga masyarakat yang telah meninggal dunia. Bedanya, di Desa Pedawa disebut Upacara ‘Ngangkid’.

Bacaan Lainnya

Sesuai namanya ngangkid, yang berarti mengangkat, pada Upacara Ngangkid pun dilakukan ritual ‘mengangkat’ roh atau arwah. Namun, Upacara Ngangkid di Desa Pedawa tidak diwarnai dengan mengangkat tulang belulang jenazah warga yang sebelumnya sempat dikuburkan, atau pembakaran mayat seperti halnya Ngaben di sejumlah desa lain di Bali.

Ngangkid di Desa Pedawa hanya ‘mengangkat’, ‘memanggil’ roh atau arwah keluarga yang telah meninggal dunia, sementara tulang belulangnya tetap berada di setra, di mana seseorang dimakamkam.

Upacara Pitra Yadnya seperti itu dilaksanakan masyarakat Pedawa berdasarkan ketentuan Kuna Dresta dan Dresta Desa yang terikat oleh desa kalapatra dan desa mawacara. Ritual itu diwarisi turun-temurun sebagai tradisi mulia bagi kehidupan bersama di masyarakat untuk Nangun Sat Kertih Loka Bali.

Lurah Desa Pedawa Putu Mardika SH ketika ditemui di sela-sela persiapan Upacara Ngangkid di desanya, Jumat (7/4/2023) mengungkapkan, Ngangkid dilaksanakan masyarakat setiap 5 tahun sekali. Dewasa ayunya sudah ditentukan berdasarkan lelintihan atau perhitungan waktu selama tidak ada upacara Dewa Yadnya di Pura Kahyangan Desa.

Masa waktu mengenai Upacara Dewa Yadnya dan masa waktu Upacara Ngangkid di Desa Pedawa sudah ditentukan sedemikian rupa sejak zaman dulu hingga kini. Sehingga tidak terjadi tumpang tindih dalam keberlangsungan tatanan upacara, ucapnya.

Ketua Panitia Upacara Ngangkid Massal Desa Pedawa Putu Suta mengatakan, pelaksanaan Ngangkid yang akan dilakukan pada Senin, 10 April 2023 mendatang, diawali dengan menuliskan lau-lau di setiap Sanggah Kemulan. Lau-lau itu merupakan daun lontar yang bertuliskan identitas krama yang mengikuti proses Ngangkid serta berisi permohonan kepada Ida Bhatara yang menuntun Sang Atma. Yang menulis di lau-lau bukan orang sembarangan, Tetua Desa Adat menunjuk balian juru surat berdasarkan garis keturunan.

Selanjutnya lau-lau itu diletakkan di ‘adegan’ sebagai lambang dari yang diupacarai. Kemudian dengan perlengkapan bebanten adegan itu dilarung ke sungai, yakni di Tukad Pengangkidan. Tukad Pengangkidan merupakan sungai yang sangat disakralkan oleh penduduk Desa Pedawa, mengingat sebagai pusat kegiatan upacara.

“Seperti biasa, Upacara Ngangkid nantinya akan dipusatkan pada campuan atau pertemuan 12 aliran atau anak sungai menjadi satu,” kata Putu Suta dengan menjelaskan, berdasarkan dewasa ayu yang telah ditetapkan, Ngangkid massal kali ini akan dilakukan pada 10 April 2023 mendatang.

Sebelum pelaksanaan Ngangkid, terlebih dulu dilakukan pembendungan aliran air yang bertemu pada satu titik di Tukad Pengangkidan. Pembendungan dilakukan dengan menggunakan gedebong atau batang-batang pisang yang dipimpin oleh Balian Desa. Setelah aliran sungai terbentung, Balian Desa akan ‘memanggil’ sang atma atau arwah untuk datang guna menjalani prosesi upacara Ngangkid.

Roh atau atma yang sudah ditempatkan di ‘adegan’ kemudian dibawa ke bale pengangkid. Di sinilah Balian Desa akan kesurupan oleh atma yang akan diaben. Dalam keadaan trance/kesurupan, Balian akan menyampaikan pesan-pesan yang disampaikan oleh para arwah kepada keluarga pewaris mereka.

Sesudah menyimak pesan-pesan, kemudian dilaksanakan dalam bentuk ritual bahwa para arwan telah diabenkan atau di-Angkid, Balian Desa akan kembali ‘melepas’ para atma menuju Sunia Loka yang ditandai dengan merobek lau-lau dan medudusnya, ujar Putu Suta, menyampaikan.

Demikian gambaran sekilas upacara Ngangkid di Desa Pedawa, di mana pewarta LenteraEsai yang hadir di tengah-tengah persiapan upacara tersebut, begitu terkesan dengan keramah-tamahan warga desa yang sangat kompak dalam bergotong oyong. Mereka juga mempersiapkan segala pernak-pernik perlengkapan upacara dengan rasa konsisten sebagai warga desa tua Bali Aga.

“Desa Pedawa melakukan upacara dalam bentuk atma, tidak ada Ngangkid dengan tulang ataupun tanah. Kami juga tidak mengenal adanya kremasi jenazah. Semua warga yang meninggal dunia dimakamkan, baru kemudian dilakukan Upacara Ngangkid massal tanpa dengan ‘ngebet’ tulang, setelah harinya tiba dalam lima tahun sekali,” kata Putu Mardika, menambahkan. (LE/Anom Wijaya)

Pos terkait