BULELENG, sebuah kabupaten di Bali bagian utara, yang dulunya dikenal dengan nama Den Bukit, kesohor sebagai daerah pencipta beberapa karya seni tari dan tabuh, terutama yang terlahir dan digarap di wilayah Dangin Enjung dan Dauh Enjung.
Dangin Enjung meliputi wilayah beberapa kecamatan seperti Tejakula, Kubutambahan, Sawan, Sukasada dan Kecamatan Buleleng. Sementara Dauh Enjung terdiri atas Kecamatan Banjar, Gerokgak, Busungbiu, dan Kecamatan Seririt.
Di Kecamatan Seririt, tepatnya di Desa Mayong pernah diperhitungkan dalam dunia kesenian tradisional sehubungan pernah tercipta dan terlahir dua buah tarian yang disebut Tari Manyi dan Tari Tani. Kedua tarian tersebut diciptakan oleh Ketut Mawes (almarhum) pada tahun 1963. Menariknya, pada 1964 Tari Manyi dipertunjukkan secara khusus di hadapan Presiden Soekarno, yang hadir dalam suatu acara di Gedung Kesenian Solo, Jawa Tengah.
Tampil sebagai penari yang membawakan Tari Manyi di hadapan Presiden Soekarno, adalah Ni Nyoman Sutami, Ni Made Armini alias Karuk (alm), Gusti Made Soka (alm) dan Luh Koplin, empat gadis yang kala itu rata-rata masih berusia 17 tahunan.
Sejak berlaga di hadapan Presiden Soekarno, Tari Manyi menjadi semakin kesohor hingga ke beberapa daerah lain. Tak pelak, kelompok kesenian yang dipimpin Ketur Mawes itu diundang untuk tampil di arena pegelaran di sejumlah daerah. Saking larisnya, kelompok kesenian asal Desa Mayong tersebut harus keliling dalam beberapa pekan ke sejumlah kabupaten, baik di Bali maupun Pulau Jawa.
Sebagai pendamping Tari Manyi, Ketut Mawes yang telah cukup lama menjalani pertemanan dengan Gede Manik, pakar tabuh asal Jagaraga, kembali menciptakan tarian yang diberi nama Tari Tani yang terus dibawa ‘kupahan ngigel’ melanglangbuana ke sejumlah daerah selama berminggu-minggu bahkan bulan lamanya.
Itu sebabnya, seperti pengakuan Ni Nyoman Sutami yang kini telah berusia 72 tahun, sering harus bolos sekolah, sehingga tak jarang diperingati oleh guru. Demikian juga beberapa penari dan penabuh yang masih usia sekolah, terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah dalam waktu yang cukup lama, ucapnya.
Nyoman Sutami menceritakan, jauh sebelum menari di hadapan Presiden Soekarno, dirinya bersama beberapa teman di Mayong dan desa tetangga lainnya, sudah sering diajak safari pertunjukan seni ke beberapa daerah di Bali, Jawa dan Sumatera.
Keliling ke sejumlah daerah dengan membawakan tari yang telah jauh terlebih dahulu terlahir dari Tari Manyi, seperti Tari Teruna Jaya, Panji Sembirang, Margapati dan Candrametu. Bahkan di bawah bimbingan Ketut Mawes yang berkolaborani dengan seniman tabuh dan tari, Ketut Merdana, sempat membawakan tari yang tergolong baru waktu itu, yakni Tari Pancasila, Wiranjaya dan Margarana.
Ketut Merdana alias Bapa Kayon, penduduk asal Desa Kedis, Kecamatan Busungbiu yang juga berteman baik dengan Gede Matik, ambil bagian dalam menata tari dan tabuh yang tergolog baru pada sekitar tahun 1960-an itu. Saking seringnya tiga seniman harus saling dukung pada sebuah pertunjukan tabuh dan tari, kala itu masyarakat sering munjuluki Mawes, Merdana dan Manik sebagai ‘segi tiga sama kaki’, laksana sebuatan sebuah mata pelajaran di sekolah.
Sebagai kreator gamelan dan Tari Manyi, Mawes tidak pernah berhitung untung rugi. Kesederhanaan sangat tercermin dari tutur kata dan sikapnya ketika melatih para penabuh dan penari, ujar Nyoman Sutami, dengan suara terbata-bata, mengenang.
“Jadi ketika itu, di tahun 60-an, setelah berlatih dalam beberapa bulan, sekha atau grup seni dari Mayong dan beberapa desa tetangga, diboyong ‘kupahan’ ke beberapa daerah di Bali, lanjut ke Banyuwangi, Jember, Malang, Surabaya dan Solo,” kata Nyoman Sutami.
Namun sangat disayangkan, karena tragedi Gestok (G-30-S/PKI) pada 1965, sekha tidak lagi ada yang meminta atau ‘ngupah’ untuk melakukan pertunjukan. Bersamaan dengan itu, karena lama tidak ada pelatihan dan pertunjukan bersama, sekha pun ‘buyar’ tidak lagi berkecimpung di dunia seni tabuh dan tari.
Terlebih, sebagian penari yang dulu ikut bersafari keliling, satu demi satu menikah, sekha praktis beku dan bubar, kata Nyoman Sutami sembari menyayangkan adanya beberapa foto yang sempat diabadikan di Jawa, hilang dan hancur dimakan waktu.
Astungkara, berkat kuasa Ida Sang Hyang Widhi Wasa, beberapa penari yang kini sudah berusia cukup renta, masih dapat mengingat dan menceritakan dengan gamblang saat aktif dalam sekha kesenian di Desa Mayong. Namun yang juga sangat disayangkan, baik Tari Manyi maupun Tari Tani, hingga kini belum ada yang serius mewarisinya.
Ketua Kelompok Seni Gurnitha Santhi Desa Mayong, Nyoman Sutarjana alias Kopral dan kawan-kawannya, membenarkan bahwa belum ada grup yang benar-benar inten mempelajari tari dan tabuh yang diwariskan penglinggir di desanya itu.
“Ini kelompok kami baru belakangan ini mencoba untuk merekonstruksi kembali tarian tersebut, sebelum nantinya semakin terlupakan atau menjelang punah,” ujar Sutarjana, pemuda berambut gondrong yang selama ini lebih banyak terjun di dunia musik.
“Keelokan Tari Manyi dan Tani adalah pengejawantahan dunia agraris estetik yang membuncah dinamis untuk dilestarikan,” katanya, diamini oleh Made Jayadi Asmara Ssos dan Made Sukmawan, selaku tokoh masyarakat Desa Mayong.
Gayung bersambut, Balai Latihan Kerja (BLK) Yayasan Waikunta Ashram sudah memfasilitasi pelatihan para penabuh dan penari yang dibimbing oleh Jro Mangku Nyoman Swarjana.
“Kami sangat berterima kasih kepada pendiri dan pengelola Yayasan Waikunta Ashram, serta semua komponen yang sudah tulus ikhlas membantu membangkitkan kearifan lokal di bidang seni tari dan tabuh trasisional, sehingga generasi muda tidak meninggalkan sejarahnya,” kata Made Krisna, salah seorang cucu dari Ketut Mawes.
Ciri khas gaya Bali bagian utara dalam bentuk seni tari dan gamelan memang berbeda dengan daerah lain di Bali. Namun tetap memiliki makna-makna yang patut untuk disimak, dipelajari dan diapresiasi sebagai satu kesatuan yang utuh di bawah Taksu kebaliannya. “Semoga Ida Hyang Kompyang menuntun kami, sehingga Tari Manyi dan Tani dapat kami rekonstruksi kembali, dan untuk secepatnya dapat di-launching ke hadapan publik,” ujar Nyoman Sutarjana, penuh semangat. (LE/Anom Wijaya)







