Usaha Melejit Berkat Pembiayaan UMKM, Luh Buleleng Jadi ‘Sandaran’ 20 Petani

Luh Buleleng
UMKM Luh Buleleng mengikuti pameran di Nusa Dua, Badung, Bali - (Foto: Dok Luh Buleleng)

Denpasar, LenteraEsai.id – Pagi masih menyisakan remang-remang, ketika Ni Luh Wiriadi (52) bergegas menurunkan kardus-kardus dagangan dan sebuah meja kayu, dari sebuah mobil pick-up carteran. Dalam hitungan menit, ia kemudian membuka kardus demi kardus, dan mulai menata bermacam-macam dagangan dengan rapi. Ada telur bebek bakar, keripik pisang, keladi kuning, mangga arum manis, jajan satuh, dodol, serta pie susu yang menebarkan bau gurih. Di bagian kiri meja, terpajang kode QR, tepat di sebelah toples kaca berisi permen jahe khas Buleleng.

Suasana pagi mulai riuh ketika sejumlah pedagang dari berbagai daerah di Bali, silih berganti menurunkan dagangan dari kendaraan, dan bergegas menatanya. Pagi ini memberikan atmosfir harapan bagi para pedagang yang mengadu keberuntungan pada event Pasar Murah Provinsi Bali, yang digelar di Kantor Gubernur Bali, pada pertengahan September 2026.

Bacaan Lainnya

“Saya memulai usaha ini bermodalkan uang Rp 5 juta tahun 2016 untuk membeli alat sederhana untuk membuat keripik. Ketika keripik sudah matang dan dikemas, dengan menggunakan sepeda motor sederhana, dilengkapi kantong kanvas di belakang saya menjajakan di Denpasar. Ketika itu produk yang dijual baru sebatas keripik pisang, kerupuk samiler, tipat santok, laklak dan keripik singkong dengan merek dagang Luh Buleleng, yang memang khusus menjual produk kuliner yang sehat, karena tidak mengandung pengawet, pewarna buatan maupun pemanis. Dari keunggulan inilah, produk Luh Buleleng mulai dilirik konsumen ketika dipajang di berbagai pameran di Denpasar,” ujar Luh Wiriadi di sela kesibukan melayani pembeli yang mulai dagangannya.

Berawal dari mulai berdagang di ajang pameran inilah, dagangan khas daerah dengan label Luh Buleleng ini, perlahan-lahan mulai ditunggu-tunggu warga setiap ada perhelatan Pasar Murah di depan Kantor Gubernur Bali. Hal ini disebabkan memang banyak jumlah pendatang dari Buleleng yang tinggal di Denpasar untuk bekerja atau menikah, sehingga ketika merindukan makanan khas kampung mereka, tinggal datang ke Pasar Murah dan tinggal memilih berbagai macam produk Luh Buleleng.

Perlahan tapi pasti, produk Luh Buleleng menjadi produk yang memiliki segmen penggemar sendiri setiap digelar Pasar Murah. Kondisi yang menggembirakan ini ternyata memberikan sisi lain yang merepotkan. Di mana kadang ketika baru buka, ada saja pembeli yang berbelanja dalam nominal besar, sehingga Luh Wiriadi kesulitan menyediakan uang ‘susuk’. Sebagai solusi, ia harus pontang-panting ke stand lain untuk menukar uang itu. Kejadian ini otomatis menghambat transaksi perbelanjaan, di mana ada pembeli lain tengah antre untuk dilayani.

Selain itu, dikarenakan alur pembeli mulai banyak berjubelan, uang yang diperoleh pun makin meningkat. Pada akhir event Pasar Minggu, biasanya Luh Wiriadi membawa uang dalam jumlah lumayan banyak untuk dibawa ke rumahnya. Di sinilah, kadang Luh Wiriadi mengalami keruwetan lagi. Ia tidak jarang dibayangi kekhawatiran, uang hasil transaksi ada yang tercecer, hilang sebagian, atau bahkan mendapatkan uang palsu.

Mengalami hari-hari dengan dada berdebar sehabis berjualan, membuat Luh Wiriadi menyambut sangat antusias ketika pada tahun 2020, ada penawaran dari salah satu perbankan untuk menggunakan pembayaran system ‘cashless’ dengan menggunakan barcode Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Melalui sistem ini, setiap kali ada transaksi pembayaran, maka ada pemindahan uang dari saku digital pembeli ke rekening pemilik dagangan, sehingga otomatis uang menjadi langsung tertabung.

“Awal memajang kode QRIS di meja dagangan, tentu belum banyak orang memakainya karena belum terbiasa. Tapi lihatlah sekarang, transaksi Luh Buleleng, di atas 75% sudah menggunakan QRIS ini. Praktis, tidak takut juga tercecer atau mendapat uang palsu. Jadinya nyaman dalam berdagang, dan syukurlah, dengan kemudahan ini, produk Luh Buleleng makin diminati masyarakat yang datang ke Pasar Murah Bali, sehingga saya makin banyak merangkul petani desa di Buleleng, untuk dijadikan mitra usaha,” kata wanita yang tinggal di Desa Anturan, Buleleng ini.

Merangkul 22 Petani Pedesaan 

Sejak awal 2025, Luh Wiriadi makin mengembangkan variasi dagangan dengan semangat ingin lebih mengenalkan berbagai kuliner khas Buleleng ke masyarakat luas. Pengembangan ini, membuatnya membutuhkan pasokan bahan baku dari warga di sekitarnya, baik yang menjadi petani, pemilik lahan kebun atau peternak yang menyediakan telur bebek secara kontinyu.

“Dulu ketika memulai usaha, saya berjibaku sampai berhari-hari membuat keripik bersama suami Made Yudiasa dan anak-anak ketika mau ikut pameran. Sekarang syukurlah, saya bisa mengajak orang untuk bekerja membantu dalam proses pembuatan keripik, kerupuk, permen kopyos dan lainnya. Dan yang membahagiakan, saya bisa mengajak tetangga sekitar bahkan sampai orang luar desa untuk memasok bahan untuk dijual di pameran. Jumlah orang yang saya ajak kerja sama untuk memasok bahan baku tidak kurang dari 22 orang saat ini,” katanya.

Untuk jenis keladi kuning, Luh Wiriadi sudah berlangganan mengambil dari petani di daerah Ambengan dan Bungkulan. Pembuat gula merah di Desa Sidatapa. Mangga harum manis dipasok penduduk Bondalem, Bulian dan Kubutambahan. Kalau rambutan, malah ada lebih dari 10 petani yang siap sedia menyediakan hasil panen jenis rambutan merekah manis. Kesemuanya itu seakan menjadi keluarga besar Luh Wiriadi, sehingga ia tidak dikenakan sistem ‘majek’ atau membayar di muka, ketika memesan hasil panen pada penduduk.

Berkat penyediaan produk yang berkualitas dan sistem pembayaran yang simpel inilah, membuat Luh Wiriadi akhirnya banyak ditawari beberapa hotel di Nusa Dua untuk berpartisipasi mengikuti pameran yang digelar di hotel tersebut. Ia bersyukur, produk dari tanah kelahirannya Buleleng, mulai mendapatkan pelanggan dari orang-orang bermula dating ke pameran. Usai pameran, tidak sekali dua kali, Luh Wiriadi tetapi dihubungi untuk memesan produk Luh Buleleng. Khususnya jika menjelang hari raya Galungan atau Kuningan. Tidak ayal, omzet usaha sering kali mencapai Rp 20 juta/hari saat pameran.

“Ada juga yang memesan untuk dibawa ke luar negeri, misal ke Belanda, Australia atau Inggris. Jadi produk Luh Buleleng ini menjadi oleh-oleh, ya kalua saya boleh berbangga menyebut kalau produk Luh Buleleng sudah beberapa kali dipesan untuk dijadikan oleh-oleh orang Indonesia untuk dibawa ke luar negeri. Seolah menjadi duta kuliner ya .. saya bersyukur sekali. Usaha yang saya mulai dari kondisi kebangkrutan usaha travel, kini mendapat hati masyarakat bahkan sampai jadi oleh-oleh ke masyarakat Eropah ..,” kata Luh Wiriadi sambal menggelus dada menahan air mata keharuan penuh rasa syukur.

 

Pos terkait