Bimtek Pengelolaan Lingkungan, Tukad Bindu Jadi Model Pemberdayaan Warga

Tukad Bindu
Kegiatan bimbingan teknis bertema Peningkatan Kapasitas dan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di Provinsi Bali, yang digelar CV Menjaga Bumi Bersama di Hotel Ramada Bali Sunset Road, Kuta, Badung, Rabu (16/9/2026) - (Foto: Dok LenteraEsai)

Badung, LenteraEsai.id – Masyarakat didorong tidak hanya terlibat dalam kegiatan bersih sungai, tetapi juga ikut menyebarluaskan gerakan pengelolaan lingkungan hidup melalui komunikasi dari mulut ke mulut maupun media sosial.

Dorongan tersebut mengemuka dalam bimbingan teknis (bimtek) bertema Peningkatan Kapasitas dan Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup di Provinsi Bali, yang digelar CV Menjaga Bumi Bersama di kawasan Sunset Road, Kuta, Badung, Rabu (16/9/2026).

Bacaan Lainnya

CV Menjaga Bumi Bersama sejak 2020 berkomitmen untuk turut aktif dalam upaya pelestarian alam. Melalui bimtek tersebut, masyarakat diberikan pemahaman sekaligus keterampilan untuk meningkatkan peran dalam menjaga dan mengelola lingkungan.

Dosen Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Udayana sekaligus praktisi pertanian organik, Ni Wayan Sri Sutari, SP, MP, dalam kesempatan tersebut membawakan materi mengenai peningkatan teknik komunikasi dan promosi kegiatan bersih sungai.

Menurut Sri Sutari, masyarakat yang selama ini akrab dan sering beraktivitas di kawasan sungai dapat menjadi bagian dari promosi lingkungan secara alami. Terlebih, kawasan sungai yang telah tertata dan dilengkapi berbagai fasilitas seperti tempat menikmati kopi maupun arena bermain anak memiliki potensi untuk diperkenalkan lebih luas.

“Kalau kawasan sungai sudah tertata, ada kafe, kopi serta arena bermain anak, tentu bisa dipromosikan dengan melibatkan warga secara dari mulut ke mulut maupun melalui media sosial masing-masing,” ujarnya.

Ia mengatakan, promosi tidak harus selalu dilakukan melalui cara-cara formal. Warga, termasuk kelompok ibu-ibu yang kerap beraktivitas di lingkungan sekitar, dapat menjadi penyampai informasi sekaligus penggerak perubahan perilaku masyarakat.

Selain itu, bimtek juga menjadi ruang untuk membangun jejaring antarpeserta. Hubungan yang terbentuk diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan berakhir, melainkan berkembang menjadi relasi dan kerja sama yang berkesinambungan dalam pengelolaan lingkungan.

“Dengan diadakannya bimtek maka terjalin networking antara peserta sehingga ke depan ada jalinan relasi dan hubungan berkesinambungan. Harapannya, pesan untuk tidak membuang sampah di sungai semakin teredukasi kepada masyarakat,” kata Sri Sutari.

Dalam pelatihan tersebut, peserta juga didorong memahami bahwa komunikasi lingkungan tidak cukup hanya dengan menyampaikan pesan secara lisan. Pesan mengenai kepedulian terhadap lingkungan perlu dikemas secara singkat, kuat, dan mudah dipahami.

Karena itu, peserta diharapkan mampu membuat foto maupun video yang memiliki alur cerita, bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Materi visual tersebut dapat digunakan untuk menyebarluaskan pesan dan mempromosikan kegiatan lingkungan sebelum, saat maupun setelah aksi dilakukan.

Melalui pendekatan tersebut, masyarakat diharapkan tidak lagi hanya menjadi penerima informasi, tetapi dapat berkembang menjadi relawan, mitra maupun pendukung gerakan pengelolaan lingkungan hidup.

Dorong Kesepahaman Pentahelix

Sementara itu, Koordinator Penasihat Yayasan Tukad Bindu, I Gusti Rai Ari Temaja, menilai bimtek tersebut menjadi momentum untuk menata pola komunikasi sekaligus membangun kesepahaman di antara berbagai pihak dalam pengelolaan lingkungan.

Pria yang akrab disapa Gung Nik itu juga berpesan agar masyarakat senantiasa kembali kepada jati diri, eling, serta berbakti kepada pertiwi.

Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Karena itu, diperlukan titik temu dan kesepahaman antara berbagai unsur dalam konsep pentahelix untuk bersama-sama membangun gerakan pengelolaan lingkungan.

“Bimtek ini merupakan kegiatan spontan untuk tujuan menata pola komunikasi. Diharapkan ada titik temu kesepahaman antara pentahelix tentang lingkungan,” katanya.

Gung Nik kemudian mencontohkan pengelolaan Tukad Bindu sebagai salah satu pendekatan berbasis masyarakat yang tidak hanya berorientasi pada kebersihan sungai.

Menurutnya, pengelolaan lingkungan harus memiliki daya tahan dan memberikan dampak yang lebih luas kepada masyarakat. Pengalaman yang dibangun di Tukad Bindu, kata dia, bahkan mulai menjadi inspirasi bagi pengelolaan sungai di sejumlah wilayah lain di Bali.

“Rata-rata sungai di kota itu tercemar, kumuh dan tidak terawat. Namun, hal berbeda terlihat di Tukad Bindu karena di masyarakat telah tertanam tanggung jawab,” ujarnya.

Menurut Gung Nik, setelah sungai berhasil dibersihkan, tantangan berikutnya adalah bagaimana kawasan tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari pertanyaan tersebut kemudian muncul konsep pemberdayaan ekonomi yang berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.

“Setelah sungai bersih, mau diapakan? Jawabannya pemberdayaan ekonomi. Jadi prinsip Tukad Bindu adalah menyejahterakan masyarakat seutuhnya. Dari sisi ekonomi, sosial, budaya, edukasi, semuanya masuk di sana,” katanya.

Tukad Bindu sebagai Ruang Edukasi dan Pemberdayaan

Pandangan serupa mengenai pentingnya pengelolaan sungai berbasis masyarakat disampaikan Penasihat Yayasan Tukad Bindu, I Gusti Ketut Ari Sudewa.

Menurutnya, kawasan sungai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ruang bersama yang tidak hanya berfungsi menjaga keseimbangan lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial, edukasi dan ekonomi bagi masyarakat.

“Tukad Bindu menunjukkan bahwa ketika masyarakat ikut memiliki dan menjaga sungai, kawasan ini bisa berkembang bukan hanya sebagai tempat yang bersih, tetapi juga menjadi ruang untuk belajar, beraktivitas dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

Tukad Bindu di Kesiman, Denpasar Timur, selama ini dikembangkan sebagai kawasan sungai sekaligus ruang publik berbasis lingkungan yang dikelola oleh komunitas melalui Yayasan Tukad Bindu.

Kawasan tersebut dilengkapi sejumlah fasilitas, mulai dari area bermain anak, fasilitas olahraga hingga jalur jogging track. Lingkungan sungai yang bersih serta suasana alami menjadi salah satu daya tarik kawasan tersebut.

Selain fungsi rekreasi, Tukad Bindu juga dikembangkan sebagai sarana edukasi lingkungan. Sejumlah sekolah dan perguruan tinggi memanfaatkan kawasan tersebut untuk kegiatan pembelajaran, termasuk pengembangan pertanian dan pembelajaran mengenai pemanfaatan sumber daya lingkungan.

Kawasan tersebut juga dilengkapi co-working space dengan fasilitas Wi-Fi gratis. Ruang ini menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bertukar pikiran dan beraktivitas sambil menikmati suasana alam di sekitar sungai.

Pengunjung juga dapat bersantai di tepian sungai sembari menikmati berbagai kudapan. Sejumlah sudut kawasan pun dikembangkan sebagai ruang kegiatan dan lokasi foto dengan suasana alami.

Pengelolaan Tukad Bindu, menurut Ari Sudewa, menjadi contoh bahwa sungai tidak semata-mata dipandang sebagai saluran air. Dengan keterlibatan masyarakat, sungai dapat berkembang menjadi ruang edukasi, rekreasi, interaksi sosial hingga pemberdayaan ekonomi.

Melalui bimtek tersebut, para peserta diharapkan semakin memiliki kapasitas untuk menjaga lingkungan sekaligus mampu mengomunikasikan pesan-pesan pelestarian kepada masyarakat luas. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat, jejaring antarpihak serta kemampuan memanfaatkan media sosial diharapkan dapat memperkuat gerakan menjaga sungai dan lingkungan secara berkelanjutan. (LE-ViV)

Pos terkait