Denpasar, LenteraEsai.id — Keberadaan bayi-bayi terlantar dan anak penyandang disabilitas menggugah rasa kemanusiaan keluarga besar DPD Partai Demokrat Bali. Menyambut HUT ke-25 Partai Demokrat, jajaran pengurus Demokrat Bali menggelar kunjungan kasih ke Yayasan Sayangi Bali di Jalan Subak Dalem, Denpasar Utara, Sabtu (5/9).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan sosial Demokrat Bali. Sebelumnya, jajaran partai berlambang mercy itu juga menggelar aksi bersih-bersih pantai di sejumlah kabupaten/kota di Bali serta donor darah di Sekretariat DPD Partai Demokrat Bali, kawasan Renon, Denpasar.
Dalam kunjungan ke Yayasan Sayangi Bali, jajaran pengurus DPD Partai Demokrat Bali yang diwakili Sekretaris DPD Partai Demokrat Bali, I Made Sada, menyerahkan bantuan kepada yayasan. Bantuan tersebut berasal dari urunan sukarela jajaran pengurus sebesar Rp5 juta, ditambah bantuan pribadi Made Sada sebesar Rp10 juta serta sejumlah bingkisan.
Made Sada mengatakan, bantuan tersebut merupakan wujud kepedulian Partai Demokrat terhadap masyarakat, khususnya bayi terlantar dan anak-anak penyandang disabilitas yang berada dalam pengasuhan yayasan.
Menurutnya, nilai bantuan bukan semata-mata dilihat dari besar kecilnya jumlah yang diberikan. Lebih dari itu, kepedulian dan keinginan untuk berbagi menjadi hal utama dalam kegiatan tersebut.
“Kami di sini seluruh jajaran pengurus urunan sukarela untuk bisa berbagi. Jangan dilihat besar kecilnya jumlah, tetapi kepedulian dan doa kami untuk anak-anak terlantar serta yayasan yang sudah dengan niat tulus tanpa pamrih menampung anak-anak ini. Kami sangat salut dan terharu,” ujar Made Sada.

Sekretaris DPD Partai Demokrat Bali, I Made Sada, menimang salah satu bocah di Yayasan Sayangi Bali – (Foto: Dok LenteraEsai)
Rasa haru juga terlihat dari sikap Made Sada selama berada di yayasan. Ia beberapa kali menggendong dan menimang bayi-bayi yang diasuh di tempat tersebut. Tokoh Demokrat Bali ini tampak berusaha menahan air mata ketika melihat kondisi anak-anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian.
Sementara itu, Ketua Yayasan Sayangi Bali, Dewa Putu Witara, menuturkan yayasan tersebut telah berdiri sekitar 12 tahun. Pendirian yayasan berawal dari keprihatinannya ketika masih bekerja sebagai pemandu wisata.
Saat itu, ia kerap melihat bayi yang ditelantarkan begitu saja oleh orangtuanya. Keprihatinan tersebut kemudian mendorongnya untuk menyediakan tempat bagi bayi-bayi yang membutuhkan pengasuhan.
“Kami di sini menampung bayi-bayi yang sudah terlantar. Ada kisaran 90 bayi yang pernah kami rawat di sini dengan tenaga perawat yang memang membidangi dan paham tentang bayi. Kini masih ada 15 bayi, dua di antaranya anak disabilitas,” ungkap Dewa Putu Witara.
Menurutnya, bayi-bayi tersebut umumnya dirawat setelah ditemukan terlantar atau ditinggalkan oleh orangtuanya, termasuk di rumah sakit.
Di tengah suasana penuh keharuan itu, sebuah momen sederhana justru meninggalkan kesan mendalam. Salah seorang anak penyandang disabilitas menyanyikan sebuah lagu di hadapan pengurus Demokrat Bali dan awak media yang hadir.
Suara merdu sang anak membuat suasana seketika hening. Para tamu yang sebelumnya berbincang ikut terdiam menikmati lantunan lagu tersebut. Tak sedikit yang kemudian meneteskan air mata.
Momen itu seolah mengingatkan bahwa di balik keterbatasan, anak-anak di Yayasan Sayangi Bali tetap memiliki harapan, bakat, dan keinginan untuk mendapatkan kasih sayang seperti anak-anak lainnya.
Kunjungan kasih tersebut pun tidak sekadar menjadi penyerahan bantuan. Lebih dari itu, kehadiran jajaran Demokrat Bali menjadi pesan bahwa kepedulian terhadap sesama dapat dimulai dari hal sederhana: datang, mendengar, memeluk dan memberikan perhatian.
Bagi anak-anak di Yayasan Sayangi Bali, mungkin yang paling berarti bukanlah nilai rupiah yang diberikan, melainkan kehadiran orang-orang yang bersedia berhenti sejenak untuk menyapa dan memeluk mereka.
Di tempat itu, sebuah pelukan kepada bayi yang terlantar dan sebuah lagu yang dinyanyikan dengan penuh ketulusan menjadi pengingat bahwa setiap anak, apa pun kondisi dan latar belakangnya, berhak tumbuh dengan kasih sayang dan memiliki harapan akan masa depan. (LE-ViV)







