Konser ‘Love Is The Answer’, PIB College Galang Dukungan untuk Penyandang Disabilitas

PIB College
Direktur Event & Partnership PIB College, Made Herry Erika Sedana - (Foto: Dok LenteraEsai)

Tabanan, LenteraEsai.id – Musik menjadi jembatan kepedulian. Melalui konser amal bertajuk “Love Is The Answer”, PIB College School of Tourism, Digital & Creative Arts bersama Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali dan Rotary Club of Bali Kuta menggalang dukungan bagi penyandang disabilitas di Bali.

Konser bertajuk “A Soul Evening of Live Original Music” tersebut digelar di Dr. Frans Auditorium, PIB College, Kamis (27/8/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga menjadi ruang bagi penyandang disabilitas untuk menunjukkan karya sekaligus mengajak masyarakat melihat disabilitas dari perspektif yang lebih inklusif.

Bacaan Lainnya

Sejumlah musisi tampil membawakan karya musik original secara langsung, di antaranya Petuk Lanang, Ady Violin, Alina Gamerova, Basouki Uki, dan Rio. Penampilan juga dimeriahkan oleh permainan jimbe dari siswa YPK Bali.

Selain pertunjukan musik, penggalangan dana dilakukan melalui raffle dan live auction. Seluruh hasil donasi dari kegiatan tersebut akan disalurkan untuk mendukung program YPK Bali, lembaga yang bergerak dalam rehabilitasi dan pemberdayaan penyandang disabilitas fisik.

Direktur Event & Partnership PIB College, Made Herry Erika Sedana, mengatakan kegiatan tersebut berangkat dari keinginan untuk memberikan ruang lebih luas bagi anak-anak disabilitas agar dapat berkarya dan menunjukkan kemampuan mereka kepada masyarakat.

Menurutnya, karya anak-anak YPK Bali juga ditampilkan untuk kemudian dilelang dalam kegiatan tersebut. Hasilnya akan digunakan untuk mendukung peningkatan peralatan serta fasilitas yang dibutuhkan di sekolah dan yayasan.

“Sebetulnya mereka juga butuh tampil dan karya-karya mereka ditampilkan. Jadi karya mereka ditampilkan di depan panggung untuk dibuat lelang. Dananya nanti dipakai untuk tambahan peningkatan alat-alat sekolah dan fasilitas sekolah mereka di yayasan,” ujar Erika.

Ia menyebut konser amal ini merupakan program perdana yang digelar PIB College bersama YPK Bali. Karena mendapat dukungan dari berbagai pihak, ia berharap kegiatan tersebut dapat berkembang menjadi program berkelanjutan.

Erika juga menilai YPK Bali memiliki rekam jejak yang kuat dalam mendampingi penyandang disabilitas. Selama sekitar 25 tahun, YPK Bali dinilai konsisten menjalankan komitmennya untuk membantu penyandang disabilitas agar semakin mandiri.

“Kami melihat YPK ini betul-betul punya komitmen yang jelas dan track record-nya solid. Tujuannya adalah membuat anak-anak disabilitas ini mandiri,” katanya.

Mahasiswa PIB Belajar Langsung Mengelola Event

Konser amal tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembelajaran mahasiswa PIB College. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan sebuah event, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan di atas panggung.

Mahasiswa terlibat dalam berbagai pekerjaan, seperti operasional acara, komunikasi, lighting, sound system hingga stage management.

Erika mengatakan pengalaman tersebut penting karena mahasiswa tidak hanya mempelajari teori event management di ruang kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman praktik secara langsung.

“Itu semua di event management. Jadi mereka belajar dan praktik langsung. Ini program yang pertama dan kalau bisa dilakukan rutin berikutnya,” tuturnya.

Konsep kolaborasi tersebut mempertemukan tiga unsur sekaligus, yakni institusi pendidikan, organisasi sosial dan komunitas. PIB College berperan sebagai tuan rumah, YPK Bali menjadi penerima manfaat, sementara Rotary Club of Bali Kuta menjadi mitra penyelenggara.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari sejumlah pihak, di antaranya BITDEC, Bali Bird Park dan Cheers.

Disabilitas Berdampak pada Satu Keluarga

Sementara itu, Ketua Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali, Elsye Suryawan, mengapresiasi kolaborasi tersebut. Ia mengatakan kerja sama dengan PIB College menjadi pengalaman pertama bagi YPK Bali dan berharap hubungan tersebut dapat terus berlanjut.

Menurut Elsye, persoalan disabilitas tidak hanya berdampak pada individu penyandang disabilitas, tetapi juga mengubah kehidupan seluruh keluarga.

“Ibu harus meninggalkan karier untuk menjadi perawat penuh waktu, ayah khawatir tentang masa depan anaknya, saudara tumbuh dengan belajar tentang pengorbanan, dan komunitas sering kali belum tahu cara untuk inklusif,” ujar Elsye.

Karena itu, menurutnya, dukungan terhadap penyandang disabilitas tidak cukup hanya dalam bentuk terapi. Mereka juga membutuhkan akses terhadap pendidikan, kesempatan berkarya, pemberdayaan dan ruang untuk berpartisipasi di tengah masyarakat.

YPK Bali sendiri telah memberikan layanan dan menyentuh lebih dari 105.000 jiwa di seluruh Bali. Di balik angka tersebut, kata Elsye, terdapat anak-anak, keluarga dan masa depan yang membutuhkan kesempatan.

“Kami tidak hanya memberikan terapi. Kami membantu orang untuk berpartisipasi dalam masyarakat, membuka potensi manusia dan layanan untuk seluruh Pulau Bali, karena setiap anak berhak mendapat kesempatan yang sama, tidak peduli di mana mereka tinggal,” tegasnya.

Lima Program untuk Menciptakan Kesempatan

Dalam menjalankan misinya, YPK Bali memiliki lima program utama. Pertama, Rehabilitation Services atau layanan rehabilitasi. Kedua, Inclusive Education yang memberikan dukungan terhadap pendidikan inklusif.

Ketiga, Mobile Rehabilitation, yakni layanan rehabilitasi keliling untuk menjangkau masyarakat di berbagai wilayah. Keempat, Bali Rungu, program yang ditujukan bagi penyandang disabilitas rungu. Kelima, Empowerment Programs atau program pemberdayaan.

Kelima program tersebut, kata Elsye, memiliki tujuan yang sama, yakni menciptakan kesempatan bagi penyandang disabilitas agar dapat berkembang dan hidup lebih mandiri.

“Semua program ini terhubung dengan satu tujuan untuk menciptakan kesempatan, bukan ketergantungan,” ungkapnya.

Semangat tersebut sekaligus menjadi pesan utama YPK Bali dalam mendampingi penyandang disabilitas.

“Our mission is not treatment. Our mission is opportunity.”

Bagi YPK Bali, misi tersebut bukan semata memberikan pengobatan atau terapi, tetapi memastikan penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara untuk mendapatkan pendidikan, berkembang, mandiri dan berpartisipasi penuh dalam kehidupan bermasyarakat.

Melalui konser amal “Love Is The Answer”, PIB College bersama YPK Bali dan Rotary Club of Bali Kuta menunjukkan bahwa kepedulian dapat hadir dalam banyak bentuk. Musik, karya dan kolaborasi pun dapat menjadi jalan untuk membuka lebih banyak kesempatan bagi mereka yang membutuhkan. (LE-003)

 

 

Pos terkait